Needs.
Hmm…I’m sitting here. Staring at the calendar. December, my friend, is fading out. December, my friend, is past already. I wasn’t kidding when I thought that this year was going to be a turning point to most people I know close to my heart. Weddings. Especially weddings. There had been a lot of weddings a coupla divorces, and a few birth. 2007 is ending and I still owe a lot of people a lot of money and me, a lot of unkept promises.
I secretly made a promise that next year, I shall not be as struggling as much. Next year, I want to live well enough so that I can finally go to a dentist and buy myself a pack of Australian Strawberry. Next year, there shall be lots of changes in my part. I’m going to need a financial advisor (who’s willing to do charity work but still keeping it professional), I’m going to need…an investor (who’s willing to put trust first and faith second, in giving their support), and a partner that can inspire me to charge forth, to forge ahead, stand tall, and aim for full house shows and incoming funds.
I’m going to need a major revamp in my world. Major, major revamp.
I’m going to need money.
Uncategorized | Comment (0)IBU, TIDAKKAH KAU MALU…
Di suatu siang di hari Sabtu, saya harus pergi meeting ke Plaza Senayan. Mendung. Tapi nggak hujan. Saya memutuskan naik bis Transjakarta. Sebelumnya, karena dari Mampang, saya naik Metromini S75 yang ngebut setengah mati, padahal jalanan kosong. Santai boss…santai…Saya turun di perempatan jalan depan ummm…ah…lupa nama patungnya. Sambil jalan ke shuttle Transjakarta yang di terminal Blok M, saya memperkirakan akan telat 15 menit dari janji jam 1 siang itu. Karena pasti bis penuh. Dan shuttle yang seciprit itu pasti berjubel penuh calon penumpang yang mau ke arah Kota.
Benar saja. Saya mengambil ‘jarak aman’ sambil berpikir, kirain budaya jijay dorong-dorongan yang sudah saya alami sejak saya SD (tahun 80-an) sudah kelar. NOT. Bis kosong berikutnya datang. Calon penumpang berjejal-jejal heboh, saling dorong-dorongan. Saya bergerak maju lambat. Mengambil tempat tepat di depan pintu yang terbuka. Si kondektur Transjakarta memberikan gerakan tangan menahan tanda bahwa calon penumpang harus menunggu bis berikutnya.
Ketika bis berikutnya datang, saya sudah siap masuk ke pintu yang terbuka ketika tiba-tiba saya terdorong dengan kencang, hampir menabrak tiang bis, untung Mas Kondektur memegang lengan saya (Makasih ya, Mas) sehingga kepala saya tetap dalam ‘jarak aman’ dengan tiang. Saya menoleh untuk melihat siapa yang mendorong, tepat ketika saya hendak duduk, saya terdorong lagi. Didorong oleh orang yang sama. Seorang ibu berjilbab yang menarik tangan anaknya terburu-buru. Dia mengambil tempat di sebelah kanan saya, duduk dan anaknya yang tidak dapet duduk, berdiri.
Saya: “Bu, bisa nggak ya, nggak pakai dorong-dorongan? Yang sopan dong sama orang lain. Naik bis aja koq dorong-dorongan begini.”
Ibu: “Ya kalau nggak buru-buru nanti kan nggak dapet duduk!!!”
Saya: “Astagfirullah al adzim, Bu! Kasihan banget cara berpikirnya. Itu jilbab nggak ada gunanya deh. Ini harusnya jadi contoh (kata saya sambil melakukan gerakan jari memutari wajah saya). Kalau didorong, bilang dong sama yang belakangnya untuk jangan dorong, jangan malah dorong saya lagi. Gimana sih?”
Ibu: Eh!!! Diem lo!! Jangan ngoceh aja lo! Dasar orang gila!!”
Saya: Astagfirullah, Bu. Jangan bikin malu agama sendiri, saya juga Islam, saya bisa koq dapet duduk tanpa harus dorong-dorong. Bikin malu orang Islam lain aja. Nyebut, bu. Pake jilbab koq ngasih contoh yang nggak bener gini. Nggak malu ya.”
Ibu: “Diem lo! Diem gak lo! Jangan bawa-bawa jilbab gue!”
Saya: “Ya saya bawa lah, karena itu harusnya jadi contoh, bu. Buat anak ibu juga. (kata saya sambil menunjuk anak si Ibu yang kira-kira SMP, menunduk malu dan berdiri karena nggak dapet duduk) “Ini ibu lo, kesian ya, jadi lo, kalo gue sih malu punya ibu begini kelakuannya. Mau diajarin apa anaknya kalo punya ibu nggak punya sopan santun sama orang lain kayak gini.”
Ibu: “UDAH DIEM LO! JANGAN SAMPE GUE PANAS YA!!”
Saya: (memandangi wajahnya lekat-lekat, menghela nafas dan mulai berzikir menenangkan diri) “Bener-bener deh, kasihan gue sama lo.” kata saya lagi ke anak si ibu.
Ibu: “Teh, diemin aja, Teh. Ada orang gila. Diemin aja nggak usah didengerin.”
Setelah sejenak menenangkan diri, saya berdiri. Nggak kuat. Gemes. Tapi agak puas juga karena saya sudah say something to a person like that. Saya memberi tanda kepada anak si ibu untuk menduduki tempat saya. “Duduk deh, malu saya duduk sebelah ibu kamu.”
Saya turun di shuttle Bunderan Senayan. Telat 15 menit ke meeting saya, seperti yang sudah diperkirakan. Menghela nafas panjang dan nafas panjang sekali lagi. Heran. Heran apa yang salah dengan makanan kita sehingga orang bisa begitu saja tumbuh jadi orang yang sangat nggak mempedulikan orang lain, sejak 22 tahun yang lalu. Saya menghela nafas sekali lagi dan berpikir,’ya ampun, mereka berkembang terlalu cepat dan saya tidak bisa menghentikannya’.
Uncategorized | Comments (3)Updates?
Duh. Sudah lama juga ya saya tidak ngemeng di sini. Kemarin-kemarin nggak sempat. Ada saja yang menghalangi untuk tidak jadi menulis. Padahal, halaman ini sudah selalu terbuka setiap hari.
Padahal juga, sudah banyak yang terjadi selama saya nggak nulis di sini. Misalnya, perdebatan saya dengan Hendra tentang minor dan major things that make us clash. Lalu tentang saya memarahi seorang ibu berjilbab yang tidak tahu malu di dalam bis Transjakarta. Lalu tentang pernikahan mantan saya (yang lain lagi), yang membulatkan jumlah mantan yang menikah tahun ini. Hehehe…
Lalu tentang dilema saya akan hidup ini…apa yang harus dikejar, ditinggal, disimpan dan tentang obsesi saya serta kekesalan saya yang lain.
Jadi…hmmm…yang mana dulu ya?
Uncategorized | Comment (1)MUSIM BANGKAI
Motor Hendra meluncur perlahan di jalanan. Hari itu hari kerja, pagi hari. Kami sedang dalam perjalanan ke kantor masing-masing. Biasanya Hendra nge-drop saya dulu di kantor lalu baru ia melanjutkan ke kantornya. Kami sudah sampai di ujung jalan. Saya memekik kecil karena roda motor Hendra hampir saja melindas bangkai tikus yang tergeletak dengan daging dan darah berceceran. Euch. Menuliskannya lagi saja saya mual. Motor Hendra berhasil menghindar dengan sukses. Kami pun sampai di ujung perempatan jalan besar. Lagi-lagi ada bangkai seekor tikus yang malang tergeletak di jalanan.
Lalu saya teringat bahwa sebetulnya sudah 3 minggu belakangan ini saya sering sekali melihat bangkai tikus terlindas tergeletak di jalanan. Sepertinya sebulan yang lalu belum sebanyak ini. Saya jadi tergerak untuk mulai lebih memperhatikan dan mencatat di mana-mana saja saya lihat mereka. Coba. Coba kalian juga mulai memperhatikan.
Pertanda apa ya? Apakah ini jenis musim yang baru? Jangan-jangan fenomena orang bodoh, tolol, idiot dan koruptor yang berkembang biak dengan kecepatan penuh per harinya sedang terjadi juga pada tikus. Kira-kira sudah sebanyak apa mereka sekarang jika dalam sehari saja saya bisa melihat 2-3 bangkai tikus tergeletak di jalanan? Sudah sedemikian butanya kah kita akan perubahan-perubahan kecil yang mungkin saja pertanda dari alam? Apa sudah pada lupa bahwa tikus itu membawa bibit penyakit pes yang berbahaya? Ya memang sih tidak akan menular melalui udara, karena bakteri Yersinia Pestis hanya bisa menular jika si pembawa (tikus) yang darahnya mengandung pes, menggigit korban.
Tapi, di laporan dan program dari DepKes disebutkan bahwa salah satu cara pencegahan pandemik/epidemik penyakit ini adalah salah satunya dengan mendata ‘rat fall’ yaitu jumlah tikus mati di satu daerah. So, saya akan mulai mendata. Ya memang sih, penyebab kematian tikus yang saya lihat sampai sekarang masih cenderung disebabkan oleh ‘pihak ketiga’ yaitu terlindas kendaraan. Akan tetapi, kenapa juga tiba-tiba seperti bisa ada begitu banyak tikus selama satu bulan ini. Hih.
Crot! Begitu kira-kira bunyinya sebelum daging dan darah mereka berceceran di jalan dan di roda yang melindasnya. Sebelum daging dan darah mereka menempel pada roda, mengaspal dan mengering menjadi bagian dari debu kota Jakarta yang membumbung saat tertiup angin dan bergabung dengan debu dan polusi yang setiap hari kita hirup sebagai udara.
Euch.
Diam-diam, dalam hati saya berharap bukan bangkai tikus yang tergeletak mati di jalan, melainkan para orang bodoh, tolol, idiot dan koruptor.
Uncategorized | Comment (0)Memaafkan maaf untuk dimaafkan.
Ada kawan saya pernah berkata, bahwa di mana ada Tuhan, di situ ada Setan. Dia kemudian berspekulasi dengan dirinya sendiri, bahwa jangan-jangan Setan itu alter ego-nya Tuhan, atau jangan-jangan Tuhan itu alter ego-nya Setan.
Untungnya…tiba-tiba sudah Lebaran. Jadi, mau ada Tuhan mau ada Setan, yang penting intinya kita semua bermaaf-maafan. Untuk itu, saya ingin lebih dahulu memaafkan.
Memaafkan pemerintah yang masih saja membuat negara ini berantakan. Memaafkan mereka-mereka yang pernah hampir menabrak saya dengan motor mereka padahal saya sudah sangat minggir, berjalan di trotoar. Memaafkan orang-orang bermobil bagus yang masih suka random membuka jendelanya lalu membuang tissue, rokok, kertas parkir dan karcis tol sembarangan. Memaafkan supir bis Metromini no. 75 yang tidak mau menurunkan saya di halte sehingga harus kena complain saya. Memaafkan supir taksi Express dan Putra yang hampir menabrak orang yang menyeberang di zebracross sehingga harus kena complain dan anjuran untuk lebih banyak berzikir dari saya. Memaafkan mereka yang telat membayar saya dan harus selalu diingatkan. Semoga mereka semua dibuka mata hatinya untuk lebih menghargai orang lain, lingkungan dan sopan santun serta dirinya sendiri.
Maka dengan itu saya sekarang mau minta maaf. Kepada semua orang yang pernah saya kecewakan dalam kurun waktu Lebaran tahun kemarin hingga tahun ini. Kepada mereka yang pernah mendapatkan dampratan saya. Kepada mereka yang saya lupakan karena saya pernah ingkar janji. Kepada Eyang Uti saya yang sedang jarang saya hubungi. Kepada Mama dan Papa yang akhir-akhir ini jarang saya temui. Kepada mereka yang hutangnya belum bisa saya bayarkan dengan lancar pada saat ini. Kepada mereka yang mungkin tanpa sadar sudah pernah saya benci, saya iri, saya komentari, saya zolimi, saya maki-maki. Kepada adik saya, Asti karena saya tidak bisa berada di sana di saat ia betul-betul membutuhkan seseorang yang bisa mengerti dia dalam dua bahasa. Kepada pacar saya, Hendra karena kadang saya membuat hatinya cemas dan kesal. Kepada semua boss saya karena kadang saya ngeyel dan tidak bekerja dengan maksimal. Kepada Tuhan…karena…ah, Ia Maha Tahu. Ia tahu. Ia tahu semuanya. Sama dengan Setan. Setan juga tahu semuanya.
Saya memohon maaf yang sebesar-besarnya. Sebagai manusia yang mudeng, saya tahu bahwa saya tidak bisa menjadi sempurna, namun saya akan terus berusaha untuk menjadi yang lebih baik. Tidak demi Tuhan, tidak demi Setan, tapi demi saya sendiri. Karena saya ingin menjadi orang yang lebih bertanggung jawab dengan permintaan maaf saya. Di saat dan setelah saya mengatakannya.
Untuk itu, ada baiknya sekarang kita sama-sama ber-Lebaran =}
Uncategorized | Comment (1)The Sitcom of Self
(my thought of the day in between tootache, tummy ache and the urge to do number two but when i sit it on, no shit come out my hole)
are we really ourselves when we say we like each other the way we are, or are we just being civic and courteous? or is it, we like the self that we project outwards towards others so that we do appear that likeable and shield our real self in the process? how far are we allowed to be a little bit me and a little bit you?
whatever…but lately it seems we’re too busy being ourselves and stubborn too to want to be ourself so much that when we say we’re in love with who we are, we really are in love with ourselves.
but we’re fucking grown up for crying out loud. we should be able to come to terms with things. things that you say, “IT’S THE REAL ME” and things that i claim, “THIS, IS THE REAL ME”. True we are in the process of synergizing who we are each in order to become the real ‘we’, the ‘team we’, the ‘us’. But now I sit back and reflect and find that we have let egos run our love. Run our lives.
I mean, yes, I like myself. I like the fact that I can be this independent and capable of looking after myself. I like the fact that I have the most talented and amazing friends. I like the fact that I’m not timid to express my ideas, my feelings and my concerns. I like the fact that I’m a little bit kooki and queer and out of sorts and random and quirky. I like the fact that I’m associated with a certain establishment. I like the fact that despite all that worldly vanities, I’m still capable of falling in love. There’s still hope for a person like i. And I like the fact that I’m not perfect. If I were perfect I’d sit next to God everyday and pick on the mortals with my fingertips and turn their life upside down just for fun. I’m imperfect. But my ego, is a true a perfectionist.
So in part, I’m one of those generic human who want things to be perfect. I don’t really give a pig’s ass that I have to be perfect, but i bounce it towards others and drive them to be the perfect self i thought they should. Yes. Yes. I have the tendency to insanely do just that. And that’s like shaking the bejesus out of a person.
So, is it really who i really am? A driven perfectionist self-alter ego maniac who like to bust a gut out of a person? Or am i this twisted delusional perfectionist who pompously refused in silent to reflect and pick deeper under my surface?
There’s only one imperfect other who’d love to skin me out with his samurai sharp analysis. Skin by flesh by bones to the marrow. And, if you’re reading this right now, with a hint of smile, you know who you are.
-n-
Uncategorized | Comment (0)Kau dan Aku.
Kita ini dua orang yang sakit. Rasa cinta kita kepada masing-masing melebihi rasa cinta kita kepada negara ini. Aku merasa bahwa aku akan bisa menjadi gila kalau kau meninggalkanku, daripada ketika pemerintah mencabut kewarganegaraanku karena sesuatu hal. Aku bisa hilang akal. Aku bisa hilang ingatan. Kalau tidak pun, aku akan berusaha supaya semua ingatanku tentang kita hilang tanpa sisa.
Karena aku tahu, aku tidak akan bisa menanggung rasa sakitnya. Aku akan menjadi begitu sakit sehingga aku tidak bisa lagi merasakan rasa sakit. Mungkin aku akan menjadi tuli. Memilih untuk menjadi buta. Dan dengan sengaja melumpuhkan segala-galanya dari tubuhku yang bisa bergerak.
Kita ini dua orang yang gila. Yang begitu jatuh cinta. Begitu jatuh sehingga segalanya terasa menyakitkan bila kita bergerak. Bergerak maju atau bergerak mundur. Karena ketika jatuh kita begitu lepas. Begitu bebas. Terjun begitu saja. Bersama-sama. Bergandengan tangan dan berpelukan. Seharusnya salah satu dari kita menjaga di bawah. Dengan tangan terkembang.
Tapi tidak. Karena kita ini, dua orang yang berani mati. Berani jatuh cinta. Berani sakit. Berani telanjang dan menjadi diri kita sendiri. Dengan sekeras hati. Dengan berani. Hingga kita mati. Inginnya hingga kita mati. Kadang kita terlalu berani. Seberani prajurit yang pergi berperang. Jenderal bertemu jenderal. Satu lawan satu. Berperang taktik. Bersilat kata. Beradu ego. Tidak sampai pada titik darah penghabisan. Karena tidak ada seorangpun dari kita yang ingin itu terjadi.
Tidak kau dan tidak juga aku. Karena kita sudah pernah tahu. Seperti apa rasa sakit itu. Kita sudah pernah sakit dan sudah pernah mati tanpa kita betul-betul bisa mati.
Uncategorized | Comment (0)Itu Aku?
tasss…merekah kulit itu terbuka sobek.
sobek kecil ia garis merah tercipta
tercipta rasa, perih ia berdenyut ia
ia luka yang ternyata punya nyawa
nyawa berlomba dengan ragaku
ragaku yang mengeluarkan darah
darah merah bertetes-tetes jatuh
jatuh dan tetesnya pecah di atas tanah
tanah membasah bulat lalu darah terserap
terserap. hilang. hilang. hilang.
hilang pula denyut sakit itu
sakit itu sudah mati
mati seperti ragaku yang sudah berhenti
berhenti mengeluarkan darah
ah, tapi tidakkah kau melihat?
melihat sebersit warna putih tulang
tulang dan merah yang bukan darah
bukan darah karena itu daging
daging ragaku.
ragaku yang kini hilang
hilang darahnya tinggal daging dan tulang
tulang terbalut luka yang bernyawa
bernyawa dan hidup di dalam ragaku
ragaku yang terus sakit
sakit yang terus berdarah dan berdenyut
berdenyut ngilu bagai tergerus sembilu tumpul
setumpul rasaku yang turut mati
mati setiap kali luka itu pergi
pergi tapi tidak untuk selamanya
selamanya merekah kembali kulit itu terbuka
terbuka sobek.
sobekannya mencipta lagi garis-garis merah
merah yang indah merah yang tua merah yang aku kenal
aku kenal rasa itu. ngilu itu. perih itu.
perih itu, perih itu aku.
Uncategorized | Comment (0)Cuma Dia.
32. 32 adalah umur yang…tanggung. Menurut saya sih tanggung. Menurut pacar saya, nggak penting, karena toh kalau saya dikuncir dua dan dibajuin SMA, masih ada ABG yang comel kalau ngeliat saya. Bukan karena apa-apa. Tapi lebih karena rambut saya blonde. Sudah setahun lebih rambut saya blonde. Inginnya tahun ini saya ‘memakai’ warna yang berbeda lagi. Saya dari kemarin sudah kepingin ganti warna rambut. Tapi selain waktu yang tidak memadai untuk saya berlama-lama di salon, uang juga belum setuju saya spend untuk rambut.
Jadi sekarang, selain umur yang tanggung, rambut dan bleaching saya juga serba tanggung. Panjang belom, pendek sudah tidak. Blonde iya tapi warna hitam rambut asli sudah mulai serabutan mencuat dari akarnya. Tiga puluh dua. Baru saja saya menjadi tiga puluh dua tahun. Dan saya merasa kagok. Merasa tanggung. Umur yang aneh. Saya merasa berada di persimpangan antara menuju tua serta lebih bijaksana dan masih belum ngeh sama kehidupan ini. Saya merasa, seharusnya saya bisa melakukan lebih. Tapi lebih apa ya? Saya berpikir seharusnya saya sudah nggak di sini. Tapi di mana ya?
Seharusnya saya sudah menjejakkan kaki saya di tempat saya sendiri. Bersama seseorang yang mau menyingsingkan lengan bajunya dan menempuh jarak yang tidak pendek dengan kakinya untuk menemukan saya. Orang yang berpikir dengan hati dan kepalanya dan menumpahkan cintanya kepada saya. Cuma saya. Karena saya sudah pasti akan menjadikannya Cuma Dia.
Orang itu memaksa saya menemaninya saur di daerah Thamrin dekat kantornya tadi pagi. Entah kenapa. Kekeh sekali dia memaksa saya untuk ikut bersamanya. Saya setengah sadar membonceng di motornya. Thamrin terasa begitu jauh kalau Anda setengah sadar. Sesampainya di Thamrin, hampir semua tempat makan yang kami lewati tutup. Saya hanya heran kita akan makan di mana. Saya tidak siap makan di McDonald yang terang benderang dalam keadaan ngantuk berat dan antisosial. Akhirnya dia tiba-tiba membelokkan motornya ke arah kantornya. “Mau ambil barang dulu di kantor.” dan ia minta ditemani. Dengan sangat malas saya mengikutinya. Jujur, saya lebih baik berada di tempat tidur saya saat itu. Ia pun memapah saya mengikutinya. Sesampainya di kantornya, ia mengeluarkan sebuah kotak merah. Di pojok kotak merah ada kotak kecil lagi. Di dalamnya ada pesan romantisnya. Di dalam kotak ada DVD Bjork Live yang saya belum punya. Saya menitikkan air mata terharu sedikit. Pantas dia begitu memaksa.
Ternyata mau kasih surprise. Hendra sering begitu. Tiba-tiba muncul di kantor. Datang hanya untuk memeluk saya lalu dia kembali ke kantor untuk bekerja kembali. Hendra bisa jadi Cuma Dia saya. Bisa membantu saya menjejakkan kaki dan meyakinkan saya bahwa tidak ada yang tanggung dengan saya.
Tiga puluh dua tahun. Pertama kalinya saya tahu, bahwa saya tidak tanggung-tanggung dalam menjadikannya Cuma Dia.
Uncategorized | Comment (0)The Knight and The Bride
O my devine dark knight
You rescued me in a broad daylight
Appeared with your armor smile
And a blue iron horse from a many long mile
I looked up and there you were, my dark knight
Stood tall in your bold profile
“Can I stay a while?”
You asked with a smile
“Can I give you a ride?”
Your arms open wide
“Do you mind if I wait?”
You said with a hint of bait
“Would you be my bride?”
Was your last invite
O my divine dark knight
Such bold rescue in a broad daylight
Blessings replaced all blights
Behold thy bride, my Knight
She’s loving you with all her might
And when the air is right
We shall all bind our ties, so tight
So long as the stars that shines the night.