MIE AYAM UNTUK MASA DEPAN
Pagi ini saya nggak terlalu mood untuk langsung ke kantor. Jadi, setelah rute biasa kami dari Mampang ke Blok-M, saya yang biasanya turun duluan, memutuskan untuk menemani pacar saya sampai Terminal Blok-M.
Dari situ saya tidak langsung ke kantor. Saya mau ke bank dulu. Tapi jam masih pukul 08.00, bank yang saya tuju baru buka pukul 09.00. Saya berjalan keluar terminal menaiki tangga penyeberangan dan memutuskan untuk mencari sarapan pagi dulu. Sebetulnya sih, sudah terbayang pisang bakar coklat di warung dekat kantor. Tapi perut ini cukup keras usus juga, karena dengan kekeuhnya ‘menggerutu’ kelaparan. Di seberang Terminal, ada pangkalan Bajaj nggak resmi yang pagi ini kelihatan kosong. Lalu saya lihat ada tukang gorengan, gerobak ketoprak, meja dan bangku kayu, gerobak mie ayam dan minuman. Mie ayam kayaknya enak juga sembari menunggu jam 09.00 dan Bajaj.
Saya pun berjalan menuju bangku yang masih kosong. Hanya ada seorang mbak-mbak yang sedang berusaha menghabiskan sepiring ketopraknya. Ia sedang merokok dan tertawa-tawa dengan si tukang jualan. “Pedes apa nggak, Mbak?” tanya si bapak penjual kepada saya dengan logat Jawa Tengahnya yang khas sambil menunjuk ke arah ketoprak. “Mie ayam aja, Pak,” kata saya. ‘Ada yang jualnya kan?” tanya saya setelah tidak melihat penjual lain lagi di situ padahal ada dua gerobak: Ketoprak dan Mie Ayam. “Ya, saya juga, Mbak,” katanya. Saya duduk di sebelah perempuan yang sedang merokok itu. Ia mengomentari kalau mungkin mie ayam lebih baik daripada ketoprak di pagi hari. “Perut saya jadi agak sakit nih, tiba-tiba abis makan ketoprak. Kacangnya kali ya?” katanya sambil memegang perut.
Setelah rokoknya habis, ia membayar ketoprak yang tidak habis itu lalu pergi. Si bapak penjual ini nggak kelihatan terlalu dekil. Kaos Polo-polo-annya warna merah dan celana panjangnya hitam. Ia selalu tersenyum. Sambil membuatkan pesanan saya ia bertanya saya asli mana. Jakarta, kata saya. Dia bilang ah, masa sih? Seorang pelanggan lain datang dan duduk di sebelah saya. Ia juga memesan mie ayam.
Mie ayam bapak ini lumayan enak juga. Cara dia mengolah si ayam tidak biasa. Ayamnya dihancurkan hingga halus macam abon, disangrai pakai bawang putih dan ditaburkan di atas mie yang masih panas, plus tambahan bakso satu besar dan 2 kecil. Porsinya juga, waduh…mengenyangkan. Saya pun memesan satu lagi untuk kawan kantor saya. Sambil menunggu Bajaj, si bapak cerita dia sudah belasan tahun mangkal di pengkolan situ. Saya bertanya kenapa tidak ada yang ‘mengasisteni’nya. “Ah, repot, Mbak. Dulu ada, tapi orangnya gila. Baru nyampe terus mbuka tenda, nyiap-nyiapin, ditelpon istrinya terus tau-tau ngilang, kerjaan ditinggal gitu aja. Nanti mbalik-mbalik udah sore. Saya suruh berenti. Males saya. Mbaknya koq sendirian, Mbak?” tanyanya.
Anaknya juga tidak suka membantu. Anaknya hanya ikut mengantarnya kalau pagi, dan menjemput kalau ia sudah selesai. Ia berangkat pukul 07.00 pagi dan bungkus pulang pukul 22.30 malam. Seharinya ia bisa menjual ratusan mangkuk mie ayam dan ratusan piring ketoprak. “Tapi mangkal sini ya biayanya lumayan juga, Mbak. Ada biaya parkir Rp 1.500,- sehari, Rp. 1.000,- sehari untuk air, terus tiap minggu mesti ngasih rokok satu bungkus ke bawahannya tramtib, ngasih tramtib Rp 150.000,- tiap bulan, terus nanti ada lagi tramtib kecamatan itu minta Rp 10.000,- tiap minggu…”
“Oyah? Beda-beda toh, tramtibnya?” potong saya. “Beda, Mbak.” Kalau nggak ngasih, dia pasti diusir. Nggak boleh jualan di situ lagi. Kalau preman daerah situ malah nggak terlalu mengganggu dia. “Cuma tramtib,” katanya lagi. Jadi, untuk seorang ‘bisnismen’ macam bapak ini, ia harus menghabiskan biaya sekitar Rp 310.000,- tiap bulannya agar bisnisnya berjalan lancar. Tiba-tiba ia menawari saya rokok. Saya bilang saya tidak merokok. Dengan heran ia mengatakan bahwa padahal kalau saya merokok saya akan kelihatan lebih cantik. Halah. Ia bilang kalau dirinya juga tidak merokok. Ia heran dengan betapa makin mudanya anak-anak yang mulai merokok, terutama anak-anak perempuan. “Sekarang, semua perempuan ngerokok, Mbak.” Saya bilang kalau saya tidak akan merokok seperti halnya saya tidak akan makan anjing. Ia tertawa.
Pesanan mie ayam saya yang untuk dibungkus sudah selesai. Saya memberikan uang Rp 20.000,-. Kembalian yang saya terima adalah Rp 4.000,- Hmmm…ini adalah mie ayam pinggir jalan termahal yang pernah saya makan. Considering, porsi, bonus bakso, biaya operasional per bulan yang harus ia keluarkan, keramahtamahannya, dan segala pujiannya yang manis-manis sebagai bagian dari servis bawah sadarnya kepada pelanggan, saya pun maklum saja. Saya minta diri dan menyetop Bajaj kosong yang akhirnya lewat. Dalam hati saya berhitung metode kumon penghasilan dan pengeluaran si bapak. Waw, pikir saya. Coba deh, kalian hitung sendiri. Saya jadi berpikir, jangan-jangan itu Polo beneran yang dia pakai.
(posting-an ini juga di post di www.bloggaul.com dengan ending sentence yang berbeda)
Uncategorized |2 Responses to “MIE AYAM UNTUK MASA DEPAN”
Leave a Reply
Tahun depan bapak ketoprak dan bakso itu pergi haji kok… mungkin loe dan gw bisa minta di doakan dia supaya tetap tidak ngerokok dan banyak rezeki spt dia. Amien
baguuuuuussssssss