MIE AYAM UNTUK MASA DEPAN

December 16th, 2007

Pagi ini saya nggak terlalu mood untuk langsung ke kantor. Jadi, setelah rute biasa kami dari Mampang ke Blok-M, saya yang biasanya turun duluan, memutuskan untuk menemani pacar saya sampai Terminal Blok-M.

Dari situ saya tidak langsung ke kantor. Saya mau ke bank dulu. Tapi jam masih pukul 08.00, bank yang saya tuju baru buka pukul 09.00. Saya berjalan keluar terminal menaiki tangga penyeberangan dan memutuskan untuk mencari sarapan pagi dulu. Sebetulnya sih, sudah terbayang pisang bakar coklat di warung dekat kantor. Tapi perut ini cukup keras usus juga, karena dengan kekeuhnya ‘menggerutu’ kelaparan. Di seberang Terminal, ada pangkalan Bajaj nggak resmi yang pagi ini kelihatan kosong. Lalu saya lihat ada tukang gorengan, gerobak ketoprak, meja dan bangku kayu, gerobak mie ayam dan minuman. Mie ayam kayaknya enak juga sembari menunggu jam 09.00 dan Bajaj.

Saya pun berjalan menuju bangku yang masih kosong. Hanya ada seorang mbak-mbak yang sedang berusaha menghabiskan sepiring ketopraknya. Ia sedang merokok dan tertawa-tawa dengan si tukang jualan. “Pedes apa nggak, Mbak?” tanya si bapak penjual kepada saya dengan logat Jawa Tengahnya yang khas sambil menunjuk ke arah ketoprak. “Mie ayam aja, Pak,” kata saya. ‘Ada yang jualnya kan?” tanya saya setelah tidak melihat penjual lain lagi di situ padahal ada dua gerobak: Ketoprak dan Mie Ayam. “Ya, saya juga, Mbak,” katanya. Saya duduk di sebelah perempuan yang sedang merokok itu. Ia mengomentari kalau mungkin mie ayam lebih baik daripada ketoprak di pagi hari. “Perut saya jadi agak sakit nih, tiba-tiba abis makan ketoprak. Kacangnya kali ya?” katanya sambil memegang perut.

Setelah rokoknya habis, ia membayar ketoprak yang tidak habis itu lalu pergi. Si bapak penjual ini nggak kelihatan terlalu dekil. Kaos Polo-polo-annya warna merah dan celana panjangnya hitam. Ia selalu tersenyum. Sambil membuatkan pesanan saya ia bertanya saya asli mana. Jakarta, kata saya. Dia bilang ah, masa sih? Seorang pelanggan lain datang dan duduk di sebelah saya. Ia juga memesan mie ayam.

Mie ayam bapak ini lumayan enak juga. Cara dia mengolah si ayam tidak biasa. Ayamnya dihancurkan hingga halus macam abon, disangrai pakai bawang putih dan ditaburkan di atas mie yang masih panas, plus tambahan bakso satu besar dan 2 kecil. Porsinya juga, waduh…mengenyangkan. Saya pun memesan satu lagi untuk kawan kantor saya. Sambil menunggu Bajaj, si bapak cerita dia sudah belasan tahun mangkal di pengkolan situ. Saya bertanya kenapa tidak ada yang ‘mengasisteni’nya. “Ah, repot, Mbak. Dulu ada, tapi orangnya gila. Baru nyampe terus mbuka tenda, nyiap-nyiapin, ditelpon istrinya terus tau-tau ngilang, kerjaan ditinggal gitu aja. Nanti mbalik-mbalik udah sore. Saya suruh berenti. Males saya. Mbaknya koq sendirian, Mbak?” tanyanya.

Anaknya juga tidak suka membantu. Anaknya hanya ikut mengantarnya kalau pagi, dan menjemput kalau ia sudah selesai. Ia berangkat pukul 07.00 pagi dan bungkus pulang pukul 22.30 malam. Seharinya ia bisa menjual ratusan mangkuk mie ayam dan ratusan piring ketoprak. “Tapi mangkal sini ya biayanya lumayan juga, Mbak. Ada biaya parkir Rp 1.500,- sehari, Rp. 1.000,- sehari untuk air, terus tiap minggu mesti ngasih rokok satu bungkus ke bawahannya tramtib, ngasih tramtib Rp 150.000,- tiap bulan, terus nanti ada lagi tramtib kecamatan itu minta Rp 10.000,- tiap minggu…”

“Oyah? Beda-beda toh, tramtibnya?” potong saya. “Beda, Mbak.” Kalau nggak ngasih, dia pasti diusir. Nggak boleh jualan di situ lagi. Kalau preman daerah situ malah nggak terlalu mengganggu dia. “Cuma tramtib,” katanya lagi. Jadi, untuk seorang ‘bisnismen’ macam bapak ini, ia harus menghabiskan biaya sekitar Rp 310.000,- tiap bulannya agar bisnisnya berjalan lancar. Tiba-tiba ia menawari saya rokok. Saya bilang saya tidak merokok. Dengan heran ia mengatakan bahwa padahal kalau saya merokok saya akan kelihatan lebih cantik. Halah. Ia bilang kalau dirinya juga tidak merokok. Ia heran dengan betapa makin mudanya anak-anak yang mulai merokok, terutama anak-anak perempuan. “Sekarang, semua perempuan ngerokok, Mbak.” Saya bilang kalau saya tidak akan merokok seperti halnya saya tidak akan makan anjing. Ia tertawa.

Pesanan mie ayam saya yang untuk dibungkus sudah selesai. Saya memberikan uang Rp 20.000,-. Kembalian yang saya terima adalah Rp 4.000,- Hmmm…ini adalah mie ayam pinggir jalan termahal yang pernah saya makan. Considering, porsi, bonus bakso, biaya operasional per bulan yang harus ia keluarkan, keramahtamahannya, dan segala pujiannya yang manis-manis sebagai bagian dari servis bawah sadarnya kepada pelanggan, saya pun maklum saja. Saya minta diri dan menyetop Bajaj kosong yang akhirnya lewat. Dalam hati saya berhitung metode kumon penghasilan dan pengeluaran si bapak. Waw, pikir saya. Coba deh, kalian hitung sendiri. Saya jadi berpikir, jangan-jangan itu Polo beneran yang dia pakai.

(posting-an ini juga di post di www.bloggaul.com dengan ending sentence yang berbeda)

Street (IN)Justice

December 6th, 2007

It was a Thursday morning, 7am and my friend was telling me about what just happened to him on his way to my place. He said, “The old man was riding a bike in front of my car, right, and he suddenly just fell. I hit the brake just in time to save his head from my bumper.” (He’s driving a big Ford car) “So I just sort of stopped right there, not moving, apparently he fell because he hit the car in front of him, which was an ‘angkot’ (a small minibus, public transport) that stopped to get a passenger. While stopping, a motorcycle hit me from the back. Being a big tough car, nothing happen to my car but the motorcycle almost fell,” he continued. “And apparently, the old man on the bike severed his arm quite bad. Everybody started gathered around and in the midst of confusion he almost convinced people that *I* hit him from the back. The freaking angkot disappeared and I was trying to defend myself and it was getting hot when suddenly, a lady said to everyone that it was not me who hit the old man, but he jumped brake his bike too late to avoid the suddenly stopping angkot. Geez, man. That was really, really, really, close. I was *that* close to being a mush victim of street justice crap.”

And he went on about how so thick with prejudice everyone in this city is. Everyone, he said. Including him. I couldn’t deny his words. I feel that I, myself am, also being one too. Sometimes. We got to his car, preparing our mental state of the murder traffic going to Trisakti in the morning.

On our way, I looked around. Cars and motorcycles and buses and ‘things’ like assorted vendors are piling up on the street, each eager to beat everyone else and be the first in line. To what? To where? With this much persistence on the road, that I seem to witness every single day, it’s really hard to believe that there are more news and sharing about lazy workers and employees or people who just do not grasp the idea and the ethic of the professional world, than the good news about how nobly hardworking and professional eveybody is.

My friend is still going on about how insanely horrifying this country is, if things are continuing to look like this. And in the back of my head I’m thinking, that, I’ve seen this happening since when I was 12, and that, was 22 fucking years ago.

Needs.

December 5th, 2007

Hmm…I’m sitting here. Staring at the calendar. December, my friend, is fading out. December, my friend, is past already. I wasn’t kidding when I thought that this year was going to be a turning point to most people I know close to my heart. Weddings. Especially weddings. There had been a lot of weddings a coupla divorces, and a few birth. 2007 is ending and I still owe a lot of people a lot of money and me, a lot of unkept promises.

I secretly made a promise that next year, I shall not be as struggling as much. Next year, I want to live well enough so that I can finally go to a dentist and buy myself a pack of Australian Strawberry. Next year, there shall be lots of changes in my part. I’m going to need a financial advisor (who’s willing to do charity work but still keeping it professional), I’m going to need…an investor (who’s willing to put trust first and faith second, in giving their support), and a partner that can inspire me to charge forth, to forge ahead, stand tall, and aim for full house shows and incoming funds.

I’m going to need a major revamp in my world. Major, major revamp.

I’m going to need money.