IBU, TIDAKKAH KAU MALU…

November 22nd, 2007

Di suatu siang di hari Sabtu, saya harus pergi meeting ke Plaza Senayan. Mendung. Tapi nggak hujan. Saya memutuskan naik bis Transjakarta. Sebelumnya, karena dari Mampang, saya naik Metromini S75 yang ngebut setengah mati, padahal jalanan kosong. Santai boss…santai…Saya turun di perempatan jalan depan ummm…ah…lupa nama patungnya. Sambil jalan ke shuttle Transjakarta yang di terminal Blok M, saya memperkirakan akan telat 15 menit dari janji jam 1 siang itu. Karena pasti bis penuh. Dan shuttle yang seciprit itu pasti berjubel penuh calon penumpang yang mau ke arah Kota.

Benar saja. Saya mengambil ‘jarak aman’ sambil berpikir, kirain budaya jijay dorong-dorongan yang sudah saya alami sejak saya SD (tahun 80-an) sudah kelar. NOT. Bis kosong berikutnya datang. Calon penumpang berjejal-jejal heboh, saling dorong-dorongan. Saya bergerak maju lambat. Mengambil tempat tepat di depan pintu yang terbuka. Si kondektur Transjakarta memberikan gerakan tangan menahan tanda bahwa calon penumpang harus menunggu bis berikutnya.

Ketika bis berikutnya datang, saya sudah siap masuk ke pintu yang terbuka ketika tiba-tiba saya terdorong dengan kencang, hampir menabrak tiang bis, untung Mas Kondektur memegang lengan saya (Makasih ya, Mas) sehingga kepala saya tetap dalam ‘jarak aman’ dengan tiang. Saya menoleh untuk melihat siapa yang mendorong, tepat ketika saya hendak duduk, saya terdorong lagi. Didorong oleh orang yang sama. Seorang ibu berjilbab yang menarik tangan anaknya terburu-buru. Dia mengambil tempat di sebelah kanan saya, duduk dan anaknya yang tidak dapet duduk, berdiri.

Saya: “Bu, bisa nggak ya, nggak pakai dorong-dorongan? Yang sopan dong sama orang lain. Naik bis aja koq dorong-dorongan begini.”
Ibu: “Ya kalau nggak buru-buru nanti kan nggak dapet duduk!!!”
Saya: “Astagfirullah al adzim, Bu! Kasihan banget cara berpikirnya. Itu jilbab nggak ada gunanya deh. Ini harusnya jadi contoh (kata saya sambil melakukan gerakan jari memutari wajah saya). Kalau didorong, bilang dong sama yang belakangnya untuk jangan dorong, jangan malah dorong saya lagi. Gimana sih?”
Ibu: Eh!!! Diem lo!! Jangan ngoceh aja lo! Dasar orang gila!!”
Saya: Astagfirullah, Bu. Jangan bikin malu agama sendiri, saya juga Islam, saya bisa koq dapet duduk tanpa harus dorong-dorong. Bikin malu orang Islam lain aja. Nyebut, bu. Pake jilbab koq ngasih contoh yang nggak bener gini. Nggak malu ya.”
Ibu: “Diem lo! Diem gak lo! Jangan bawa-bawa jilbab gue!”
Saya: “Ya saya bawa lah, karena itu harusnya jadi contoh, bu. Buat anak ibu juga. (kata saya sambil menunjuk anak si Ibu yang kira-kira SMP, menunduk malu dan berdiri karena nggak dapet duduk) “Ini ibu lo, kesian ya, jadi lo, kalo gue sih malu punya ibu begini kelakuannya. Mau diajarin apa anaknya kalo punya ibu nggak punya sopan santun sama orang lain kayak gini.”
Ibu: “UDAH DIEM LO! JANGAN SAMPE GUE PANAS YA!!”
Saya: (memandangi wajahnya lekat-lekat, menghela nafas dan mulai berzikir menenangkan diri) “Bener-bener deh, kasihan gue sama lo.” kata saya lagi ke anak si ibu.
Ibu: “Teh, diemin aja, Teh. Ada orang gila. Diemin aja nggak usah didengerin.”

Setelah sejenak menenangkan diri, saya berdiri. Nggak kuat. Gemes. Tapi agak puas juga karena saya sudah say something to a person like that. Saya memberi tanda kepada anak si ibu untuk menduduki tempat saya. “Duduk deh, malu saya duduk sebelah ibu kamu.”

Saya turun di shuttle Bunderan Senayan. Telat 15 menit ke meeting saya, seperti yang sudah diperkirakan. Menghela nafas panjang dan nafas panjang sekali lagi. Heran. Heran apa yang salah dengan makanan kita sehingga orang bisa begitu saja tumbuh jadi orang yang sangat nggak mempedulikan orang lain, sejak 22 tahun yang lalu. Saya menghela nafas sekali lagi dan berpikir,’ya ampun, mereka berkembang terlalu cepat dan saya tidak bisa menghentikannya’.




3 Responses to “IBU, TIDAKKAH KAU MALU…”

  1.   Priesnanda on November 22, 2007 11:42 pm

    ya olo, nat! Ternyata orang2 sini dah ga punya kemaluan lagi. Padahal kan di situ ada kemaluan, disitu ada jalan (he he he). Good for you, nat, telling her off like that. Harusnya kan kebalik, yang tua negur yang muda. Tapi emang jaman dah edan. Just hoping para penumpang bus lain pada ngeliatin kalian.

  2.   cuma Indian on November 28, 2007 2:54 am

    hi…
    thx 4 visiting my blog :)

  3.   rinto on February 5, 2008 10:29 pm

    Nat,masih suka ngebis aja toh?.gw salut ama lo,very2 down to earth and patience ya?.bersabar aja deh,skrng mah dimana2 sikut2an,gak di bus n jalanan.oke?

Comments RSS

Leave a Reply

Name (required)

Email (required)

Website

Speak your mind