MUSIM BANGKAI
Motor Hendra meluncur perlahan di jalanan. Hari itu hari kerja, pagi hari. Kami sedang dalam perjalanan ke kantor masing-masing. Biasanya Hendra nge-drop saya dulu di kantor lalu baru ia melanjutkan ke kantornya. Kami sudah sampai di ujung jalan. Saya memekik kecil karena roda motor Hendra hampir saja melindas bangkai tikus yang tergeletak dengan daging dan darah berceceran. Euch. Menuliskannya lagi saja saya mual. Motor Hendra berhasil menghindar dengan sukses. Kami pun sampai di ujung perempatan jalan besar. Lagi-lagi ada bangkai seekor tikus yang malang tergeletak di jalanan.
Lalu saya teringat bahwa sebetulnya sudah 3 minggu belakangan ini saya sering sekali melihat bangkai tikus terlindas tergeletak di jalanan. Sepertinya sebulan yang lalu belum sebanyak ini. Saya jadi tergerak untuk mulai lebih memperhatikan dan mencatat di mana-mana saja saya lihat mereka. Coba. Coba kalian juga mulai memperhatikan.
Pertanda apa ya? Apakah ini jenis musim yang baru? Jangan-jangan fenomena orang bodoh, tolol, idiot dan koruptor yang berkembang biak dengan kecepatan penuh per harinya sedang terjadi juga pada tikus. Kira-kira sudah sebanyak apa mereka sekarang jika dalam sehari saja saya bisa melihat 2-3 bangkai tikus tergeletak di jalanan? Sudah sedemikian butanya kah kita akan perubahan-perubahan kecil yang mungkin saja pertanda dari alam? Apa sudah pada lupa bahwa tikus itu membawa bibit penyakit pes yang berbahaya? Ya memang sih tidak akan menular melalui udara, karena bakteri Yersinia Pestis hanya bisa menular jika si pembawa (tikus) yang darahnya mengandung pes, menggigit korban.
Tapi, di laporan dan program dari DepKes disebutkan bahwa salah satu cara pencegahan pandemik/epidemik penyakit ini adalah salah satunya dengan mendata ‘rat fall’ yaitu jumlah tikus mati di satu daerah. So, saya akan mulai mendata. Ya memang sih, penyebab kematian tikus yang saya lihat sampai sekarang masih cenderung disebabkan oleh ‘pihak ketiga’ yaitu terlindas kendaraan. Akan tetapi, kenapa juga tiba-tiba seperti bisa ada begitu banyak tikus selama satu bulan ini. Hih.
Crot! Begitu kira-kira bunyinya sebelum daging dan darah mereka berceceran di jalan dan di roda yang melindasnya. Sebelum daging dan darah mereka menempel pada roda, mengaspal dan mengering menjadi bagian dari debu kota Jakarta yang membumbung saat tertiup angin dan bergabung dengan debu dan polusi yang setiap hari kita hirup sebagai udara.
Euch.
Diam-diam, dalam hati saya berharap bukan bangkai tikus yang tergeletak mati di jalan, melainkan para orang bodoh, tolol, idiot dan koruptor.
Uncategorized |Leave a Reply