Memaafkan maaf untuk dimaafkan.

October 11th, 2007

Ada kawan saya pernah berkata, bahwa di mana ada Tuhan, di situ ada Setan. Dia kemudian berspekulasi dengan dirinya sendiri, bahwa jangan-jangan Setan itu alter ego-nya Tuhan, atau jangan-jangan Tuhan itu alter ego-nya Setan.

Untungnya…tiba-tiba sudah Lebaran. Jadi, mau ada Tuhan mau ada Setan, yang penting intinya kita semua bermaaf-maafan. Untuk itu, saya ingin lebih dahulu memaafkan.

Memaafkan pemerintah yang masih saja membuat negara ini berantakan. Memaafkan mereka-mereka yang pernah hampir menabrak saya dengan motor mereka padahal saya sudah sangat minggir, berjalan di trotoar. Memaafkan orang-orang bermobil bagus yang masih suka random membuka jendelanya lalu membuang tissue, rokok, kertas parkir dan karcis tol sembarangan. Memaafkan supir bis Metromini no. 75 yang tidak mau menurunkan saya di halte sehingga harus kena complain saya. Memaafkan supir taksi Express dan Putra yang hampir menabrak orang yang menyeberang di zebracross sehingga harus kena complain dan anjuran untuk lebih banyak berzikir dari saya. Memaafkan mereka yang telat membayar saya dan harus selalu diingatkan. Semoga mereka semua dibuka mata hatinya untuk lebih menghargai orang lain, lingkungan dan sopan santun serta dirinya sendiri.

Maka dengan itu saya sekarang mau minta maaf. Kepada semua orang yang pernah saya kecewakan dalam kurun waktu Lebaran tahun kemarin hingga tahun ini. Kepada mereka yang pernah mendapatkan dampratan saya. Kepada mereka yang saya lupakan karena saya pernah ingkar janji. Kepada Eyang Uti saya yang sedang jarang saya hubungi. Kepada Mama dan Papa yang akhir-akhir ini jarang saya temui. Kepada mereka yang hutangnya belum bisa saya bayarkan dengan lancar pada saat ini. Kepada mereka yang mungkin tanpa sadar sudah pernah saya benci, saya iri, saya komentari, saya zolimi, saya maki-maki. Kepada adik saya, Asti karena saya tidak bisa berada di sana di saat ia betul-betul membutuhkan seseorang yang bisa mengerti dia dalam dua bahasa. Kepada pacar saya, Hendra karena kadang saya membuat hatinya cemas dan kesal. Kepada semua boss saya karena kadang saya ngeyel dan tidak bekerja dengan maksimal. Kepada Tuhan…karena…ah, Ia Maha Tahu. Ia tahu. Ia tahu semuanya. Sama dengan Setan. Setan juga tahu semuanya.

Saya memohon maaf yang sebesar-besarnya. Sebagai manusia yang mudeng, saya tahu bahwa saya tidak bisa menjadi sempurna, namun saya akan terus berusaha untuk menjadi yang lebih baik. Tidak demi Tuhan, tidak demi Setan, tapi demi saya sendiri. Karena saya ingin menjadi orang yang lebih bertanggung jawab dengan permintaan maaf saya. Di saat dan setelah saya mengatakannya.

Untuk itu, ada baiknya sekarang kita sama-sama ber-Lebaran =}




One Response to “Memaafkan maaf untuk dimaafkan.”

  1.   'Nizar on October 14, 2007 9:19 am

    masalah yang sama di setiap lebaran adalah gw musti ketemu yang namanya ketupat, gak ada ya yang mau bikin terobosan baru lebaran dengan sushi atau steak ? Mohon maaf ya (incl lahir dan batin)

Comments RSS

Leave a Reply

Name (required)

Email (required)

Website

Speak your mind