Kau dan Aku.

October 1st, 2007

Kita ini dua orang yang sakit. Rasa cinta kita kepada masing-masing melebihi rasa cinta kita kepada negara ini. Aku merasa bahwa aku akan bisa menjadi gila kalau kau meninggalkanku, daripada ketika pemerintah mencabut kewarganegaraanku karena sesuatu hal. Aku bisa hilang akal. Aku bisa hilang ingatan. Kalau tidak pun, aku akan berusaha supaya semua ingatanku tentang kita hilang tanpa sisa.

Karena aku tahu, aku tidak akan bisa menanggung rasa sakitnya. Aku akan menjadi begitu sakit sehingga aku tidak bisa lagi merasakan rasa sakit. Mungkin aku akan menjadi tuli. Memilih untuk menjadi buta. Dan dengan sengaja melumpuhkan segala-galanya dari tubuhku yang bisa bergerak.

Kita ini dua orang yang gila. Yang begitu jatuh cinta. Begitu jatuh sehingga segalanya terasa menyakitkan bila kita bergerak. Bergerak maju atau bergerak mundur. Karena ketika jatuh kita begitu lepas. Begitu bebas. Terjun begitu saja. Bersama-sama. Bergandengan tangan dan berpelukan. Seharusnya salah satu dari kita menjaga di bawah. Dengan tangan terkembang.

Tapi tidak. Karena kita ini, dua orang yang berani mati. Berani jatuh cinta. Berani sakit. Berani telanjang dan menjadi diri kita sendiri. Dengan sekeras hati. Dengan berani. Hingga kita mati. Inginnya hingga kita mati. Kadang kita terlalu berani. Seberani prajurit yang pergi berperang. Jenderal bertemu jenderal. Satu lawan satu. Berperang taktik. Bersilat kata. Beradu ego. Tidak sampai pada titik darah penghabisan. Karena tidak ada seorangpun dari kita yang ingin itu terjadi.

Tidak kau dan tidak juga aku. Karena kita sudah pernah tahu. Seperti apa rasa sakit itu. Kita sudah pernah sakit dan sudah pernah mati tanpa kita betul-betul bisa mati.




Comments RSS

Leave a Reply

Name (required)

Email (required)

Website

Speak your mind