MUSIM BANGKAI

October 28th, 2007

Motor Hendra meluncur perlahan di jalanan. Hari itu hari kerja, pagi hari. Kami sedang dalam perjalanan ke kantor masing-masing. Biasanya Hendra nge-drop saya dulu di kantor lalu baru ia melanjutkan ke kantornya. Kami sudah sampai di ujung jalan. Saya memekik kecil karena roda motor Hendra hampir saja melindas bangkai tikus yang tergeletak dengan daging dan darah berceceran. Euch. Menuliskannya lagi saja saya mual. Motor Hendra berhasil menghindar dengan sukses. Kami pun sampai di ujung perempatan jalan besar. Lagi-lagi ada bangkai seekor tikus yang malang tergeletak di jalanan.

Lalu saya teringat bahwa sebetulnya sudah 3 minggu belakangan ini saya sering sekali melihat bangkai tikus terlindas tergeletak di jalanan. Sepertinya sebulan yang lalu belum sebanyak ini. Saya jadi tergerak untuk mulai lebih memperhatikan dan mencatat di mana-mana saja saya lihat mereka. Coba. Coba kalian juga mulai memperhatikan.

Pertanda apa ya? Apakah ini jenis musim yang baru? Jangan-jangan fenomena orang bodoh, tolol, idiot dan koruptor yang berkembang biak dengan kecepatan penuh per harinya sedang terjadi juga pada tikus. Kira-kira sudah sebanyak apa mereka sekarang jika dalam sehari saja saya bisa melihat 2-3 bangkai tikus tergeletak di jalanan? Sudah sedemikian butanya kah kita akan perubahan-perubahan kecil yang mungkin saja pertanda dari alam? Apa sudah pada lupa bahwa tikus itu membawa bibit penyakit pes yang berbahaya? Ya memang sih tidak akan menular melalui udara, karena bakteri Yersinia Pestis hanya bisa menular jika si pembawa (tikus) yang darahnya mengandung pes, menggigit korban.

Tapi, di laporan dan program dari DepKes disebutkan bahwa salah satu cara pencegahan pandemik/epidemik penyakit ini adalah salah satunya dengan mendata ‘rat fall’ yaitu jumlah tikus mati di satu daerah. So, saya akan mulai mendata. Ya memang sih, penyebab kematian tikus yang saya lihat sampai sekarang masih cenderung disebabkan oleh ‘pihak ketiga’ yaitu terlindas kendaraan. Akan tetapi, kenapa juga tiba-tiba seperti bisa ada begitu banyak tikus selama satu bulan ini. Hih.

Crot! Begitu kira-kira bunyinya sebelum daging dan darah mereka berceceran di jalan dan di roda yang melindasnya. Sebelum daging dan darah mereka menempel pada roda, mengaspal dan mengering menjadi bagian dari debu kota Jakarta yang membumbung saat tertiup angin dan bergabung dengan debu dan polusi yang setiap hari kita hirup sebagai udara.

Euch.

Diam-diam, dalam hati saya berharap bukan bangkai tikus yang tergeletak mati di jalan, melainkan para orang bodoh, tolol, idiot dan koruptor.

Memaafkan maaf untuk dimaafkan.

October 11th, 2007

Ada kawan saya pernah berkata, bahwa di mana ada Tuhan, di situ ada Setan. Dia kemudian berspekulasi dengan dirinya sendiri, bahwa jangan-jangan Setan itu alter ego-nya Tuhan, atau jangan-jangan Tuhan itu alter ego-nya Setan.

Untungnya…tiba-tiba sudah Lebaran. Jadi, mau ada Tuhan mau ada Setan, yang penting intinya kita semua bermaaf-maafan. Untuk itu, saya ingin lebih dahulu memaafkan.

Memaafkan pemerintah yang masih saja membuat negara ini berantakan. Memaafkan mereka-mereka yang pernah hampir menabrak saya dengan motor mereka padahal saya sudah sangat minggir, berjalan di trotoar. Memaafkan orang-orang bermobil bagus yang masih suka random membuka jendelanya lalu membuang tissue, rokok, kertas parkir dan karcis tol sembarangan. Memaafkan supir bis Metromini no. 75 yang tidak mau menurunkan saya di halte sehingga harus kena complain saya. Memaafkan supir taksi Express dan Putra yang hampir menabrak orang yang menyeberang di zebracross sehingga harus kena complain dan anjuran untuk lebih banyak berzikir dari saya. Memaafkan mereka yang telat membayar saya dan harus selalu diingatkan. Semoga mereka semua dibuka mata hatinya untuk lebih menghargai orang lain, lingkungan dan sopan santun serta dirinya sendiri.

Maka dengan itu saya sekarang mau minta maaf. Kepada semua orang yang pernah saya kecewakan dalam kurun waktu Lebaran tahun kemarin hingga tahun ini. Kepada mereka yang pernah mendapatkan dampratan saya. Kepada mereka yang saya lupakan karena saya pernah ingkar janji. Kepada Eyang Uti saya yang sedang jarang saya hubungi. Kepada Mama dan Papa yang akhir-akhir ini jarang saya temui. Kepada mereka yang hutangnya belum bisa saya bayarkan dengan lancar pada saat ini. Kepada mereka yang mungkin tanpa sadar sudah pernah saya benci, saya iri, saya komentari, saya zolimi, saya maki-maki. Kepada adik saya, Asti karena saya tidak bisa berada di sana di saat ia betul-betul membutuhkan seseorang yang bisa mengerti dia dalam dua bahasa. Kepada pacar saya, Hendra karena kadang saya membuat hatinya cemas dan kesal. Kepada semua boss saya karena kadang saya ngeyel dan tidak bekerja dengan maksimal. Kepada Tuhan…karena…ah, Ia Maha Tahu. Ia tahu. Ia tahu semuanya. Sama dengan Setan. Setan juga tahu semuanya.

Saya memohon maaf yang sebesar-besarnya. Sebagai manusia yang mudeng, saya tahu bahwa saya tidak bisa menjadi sempurna, namun saya akan terus berusaha untuk menjadi yang lebih baik. Tidak demi Tuhan, tidak demi Setan, tapi demi saya sendiri. Karena saya ingin menjadi orang yang lebih bertanggung jawab dengan permintaan maaf saya. Di saat dan setelah saya mengatakannya.

Untuk itu, ada baiknya sekarang kita sama-sama ber-Lebaran =}

The Sitcom of Self

October 2nd, 2007

(my thought of the day in between tootache, tummy ache and the urge to do number two but when i sit it on, no shit come out my hole)

are we really ourselves when we say we like each other the way we are, or are we just being civic and courteous? or is it, we like the self that we project outwards towards others so that we do appear that likeable and shield our real self in the process? how far are we allowed to be a little bit me and a little bit you?

whatever…but lately it seems we’re too busy being ourselves and stubborn too to want to be ourself so much that when we say we’re in love with who we are, we really are in love with ourselves.

but we’re fucking grown up for crying out loud. we should be able to come to terms with things. things that you say, “IT’S THE REAL ME” and things that i claim, “THIS, IS THE REAL ME”. True we are in the process of synergizing who we are each in order to become the real ‘we’, the ‘team we’, the ‘us’. But now I sit back and reflect and find that we have let egos run our love. Run our lives.

I mean, yes, I like myself. I like the fact that I can be this independent and capable of looking after myself. I like the fact that I have the most talented and amazing friends. I like the fact that I’m not timid to express my ideas, my feelings and my concerns. I like the fact that I’m a little bit kooki and queer and out of sorts and random and quirky. I like the fact that I’m associated with a certain establishment. I like the fact that despite all that worldly vanities, I’m still capable of falling in love. There’s still hope for a person like i. And I like the fact that I’m not perfect. If I were perfect I’d sit next to God everyday and pick on the mortals with my fingertips and turn their life upside down just for fun. I’m imperfect. But my ego, is a true a perfectionist.

So in part, I’m one of those generic human who want things to be perfect. I don’t really give a pig’s ass that I have to be perfect, but i bounce it towards others and drive them to be the perfect self i thought they should. Yes. Yes. I have the tendency to insanely do just that. And that’s like shaking the bejesus out of a person.

So, is it really who i really am? A driven perfectionist self-alter ego maniac who like to bust a gut out of a person? Or am i this twisted delusional perfectionist who pompously refused in silent to reflect and pick deeper under my surface?

There’s only one imperfect other who’d love to skin me out with his samurai sharp analysis. Skin by flesh by bones to the marrow. And, if you’re reading this right now, with a hint of smile, you know who you are.

-n-

Kau dan Aku.

October 1st, 2007

Kita ini dua orang yang sakit. Rasa cinta kita kepada masing-masing melebihi rasa cinta kita kepada negara ini. Aku merasa bahwa aku akan bisa menjadi gila kalau kau meninggalkanku, daripada ketika pemerintah mencabut kewarganegaraanku karena sesuatu hal. Aku bisa hilang akal. Aku bisa hilang ingatan. Kalau tidak pun, aku akan berusaha supaya semua ingatanku tentang kita hilang tanpa sisa.

Karena aku tahu, aku tidak akan bisa menanggung rasa sakitnya. Aku akan menjadi begitu sakit sehingga aku tidak bisa lagi merasakan rasa sakit. Mungkin aku akan menjadi tuli. Memilih untuk menjadi buta. Dan dengan sengaja melumpuhkan segala-galanya dari tubuhku yang bisa bergerak.

Kita ini dua orang yang gila. Yang begitu jatuh cinta. Begitu jatuh sehingga segalanya terasa menyakitkan bila kita bergerak. Bergerak maju atau bergerak mundur. Karena ketika jatuh kita begitu lepas. Begitu bebas. Terjun begitu saja. Bersama-sama. Bergandengan tangan dan berpelukan. Seharusnya salah satu dari kita menjaga di bawah. Dengan tangan terkembang.

Tapi tidak. Karena kita ini, dua orang yang berani mati. Berani jatuh cinta. Berani sakit. Berani telanjang dan menjadi diri kita sendiri. Dengan sekeras hati. Dengan berani. Hingga kita mati. Inginnya hingga kita mati. Kadang kita terlalu berani. Seberani prajurit yang pergi berperang. Jenderal bertemu jenderal. Satu lawan satu. Berperang taktik. Bersilat kata. Beradu ego. Tidak sampai pada titik darah penghabisan. Karena tidak ada seorangpun dari kita yang ingin itu terjadi.

Tidak kau dan tidak juga aku. Karena kita sudah pernah tahu. Seperti apa rasa sakit itu. Kita sudah pernah sakit dan sudah pernah mati tanpa kita betul-betul bisa mati.