Cuma Dia.

September 20th, 2007

32. 32 adalah umur yang…tanggung. Menurut saya sih tanggung. Menurut pacar saya, nggak penting, karena toh kalau saya dikuncir dua dan dibajuin SMA, masih ada ABG yang comel kalau ngeliat saya. Bukan karena apa-apa. Tapi lebih karena rambut saya blonde. Sudah setahun lebih rambut saya blonde. Inginnya tahun ini saya ‘memakai’ warna yang berbeda lagi. Saya dari kemarin sudah kepingin ganti warna rambut. Tapi selain waktu yang tidak memadai untuk saya berlama-lama di salon, uang juga belum setuju saya spend untuk rambut.

Jadi sekarang, selain umur yang tanggung, rambut dan bleaching saya juga serba tanggung. Panjang belom, pendek sudah tidak. Blonde iya tapi warna hitam rambut asli sudah mulai serabutan mencuat dari akarnya. Tiga puluh dua. Baru saja saya menjadi tiga puluh dua tahun. Dan saya merasa kagok. Merasa tanggung. Umur yang aneh. Saya merasa berada di persimpangan antara menuju tua serta lebih bijaksana dan masih belum ngeh sama kehidupan ini. Saya merasa, seharusnya saya bisa melakukan lebih. Tapi lebih apa ya? Saya berpikir seharusnya saya sudah nggak di sini. Tapi di mana ya?

Seharusnya saya sudah menjejakkan kaki saya di tempat saya sendiri. Bersama seseorang yang mau menyingsingkan lengan bajunya dan menempuh jarak yang tidak pendek dengan kakinya untuk menemukan saya. Orang yang berpikir dengan hati dan kepalanya dan menumpahkan cintanya kepada saya. Cuma saya. Karena saya sudah pasti akan menjadikannya Cuma Dia.

Orang itu memaksa saya menemaninya saur di daerah Thamrin dekat kantornya tadi pagi. Entah kenapa. Kekeh sekali dia memaksa saya untuk ikut bersamanya. Saya setengah sadar membonceng di motornya. Thamrin terasa begitu jauh kalau Anda setengah sadar. Sesampainya di Thamrin, hampir semua tempat makan yang kami lewati tutup. Saya hanya heran kita akan makan di mana. Saya tidak siap makan di McDonald yang terang benderang dalam keadaan ngantuk berat dan antisosial. Akhirnya dia tiba-tiba membelokkan motornya ke arah kantornya. “Mau ambil barang dulu di kantor.” dan ia minta ditemani. Dengan sangat malas saya mengikutinya. Jujur, saya lebih baik berada di tempat tidur saya saat itu. Ia pun memapah saya mengikutinya. Sesampainya di kantornya, ia mengeluarkan sebuah kotak merah. Di pojok kotak merah ada kotak kecil lagi. Di dalamnya ada pesan romantisnya. Di dalam kotak ada DVD Bjork Live yang saya belum punya. Saya menitikkan air mata terharu sedikit. Pantas dia begitu memaksa.

Ternyata mau kasih surprise. Hendra sering begitu. Tiba-tiba muncul di kantor. Datang hanya untuk memeluk saya lalu dia kembali ke kantor untuk bekerja kembali. Hendra bisa jadi Cuma Dia saya. Bisa membantu saya menjejakkan kaki dan meyakinkan saya bahwa tidak ada yang tanggung dengan saya.

Tiga puluh dua tahun. Pertama kalinya saya tahu, bahwa saya tidak tanggung-tanggung dalam menjadikannya Cuma Dia.




Comments RSS

Leave a Reply

Name (required)

Email (required)

Website

Speak your mind