Kasihan…

August 31st, 2007

Ah. Sudah lama nggak ngobrol di blog. Let’s see? Apa saja ya yang sudah terjadi. Mmm…saya pengen ngobrol soal sendirian. Karena baru aja makan siang sendirian. Sudah lama juga saya nggak makan siang sendirian. Rasanya menenangkan sekali. Kalau ditanya lebih senang rame-rame, berdua atau sendirian, mungkin saya akan langsung jawab, sendirian. Karena kalau sendirian rasanya lebih bebas ke mana-mana. Nggak harus confirm, nggak harus tanya, ‘eh, ok nggak kalau kita ke sini dulu atau ke sana dulu?’, nggak harus ngerasa nggak enak sama yang lain kalau saya mau berlama-lama, cepat-cepat atau berubah acara mendadak. Saya ingat, teman-teman sekantor saya selalu heran kalau melihat saya seperti baru saja kembali dari makan siang atau dari luar kantor. Sendirian. Mereka akan bertanya, dari mana dan sama siapa, dan jawaban saya lebih sering, ’sendiri’. Reaksi pertama mereka adalah, ‘ketemuan di sana?’ dan reaksi kedua setelah jawaban saya untuk pertanyaan tadi adalah ‘nggak’, adalah, ’sendiri? kesian amat.’

Sampai sekarang saya masih nggak ngerti definisi dari reaksi dan ekspresi ‘kasian amat’ itu. Saya sehat-sehat aja koq pergi makan sendirian. Pergi dan pulang dengan selamat. Saya menikmati apa yang saya makan dan sangat menghargai waktu saya bersendirian. Buat saya itu lebih ramai karena saya justru bisa mengerjakan banyak hal sekaligus, jadi tidak ada waktu yang terbuang. Perjalanan jadi lebih efektif dan apa yang ingin saya kerjakan bisa terpenuhi semua. Saya justru kasian sama mereka yang merasa kasian itu tadi. Hidup selalu bergantung pada keadaan dan sittuasi yang melibatkan orang lain. Nggak bisa akrab sama dirinya sendiri dan secara nggak sadar, mereka sebetulnya sudah buang-buang waktu untuk orang lain daripada meluangkan lebih banyak waktu untuk diri mereka sendiri. Padahal, sebagai makhluk sosial dari mulai melek mata sampai tutup mata kadang kita selalu berinteraksi dengan orang lain. Nggak bosen ya? O, well.

Kalau buat saya, sendirian ke mana-mana itu sangat liberating. Seperti tadi, makan siang. Sudah lama sekali saya tidak makan siang sendirian. Maksudnya makan siang proper ya. Di restoran, dengan peralatan makan stainless steel yang baik, papan menu, waiter dan meja yang ditata. Saya jadi bisa berpikir dengan tenang dan betul-betul menikmati makanan saya. Walaupun akhirnya nggak jadi mikirin apa-apa juga, tapi lumayan menenangkan. Sebulan sekali saya menjadwalkan makan enak dan mahal untuk diri sendiri. Makannya juga sendirian. Tapi memang itu intinya. You need space lah. You need to be with yourself. You need to like being with yourself and be there for you every once in a while.

Dari kecil orang tua saya bekerja, dan adik saya 4 tahun lebih muda. Saya sering ditinggal sendiri dan mungkin karena itu juga saya jadi terbiasa dengan kesendirian. Namun, saya selalu tahu di mana dan ke mana orang tua saya pergi. Mereka bilang sih mereka kerja dan minta maaf karena saya harus ditinggal sendiri dulu. Ada sih pembantu atau nenek atau kakek, tapi kan stamina mereka tidak sama dengan stamina saya yang random. Kadang mau duduk manis di meja dan asik menggambar atau main puzzle sendirian sampai orang tua saya pulang kantor. Kadang saya ingin mengeksplor dunia luar walaupun hanya sejauh halaman depan dan warung di muka rumah. Ini berlangsung terus sampai saya SMA. Daftar sekolah sendiri, ngurus paspor dan KTP sendiri, ngurus surat berkelakuan baik sendiri, ke Australia untuk pertama kali juga sendiri ikutan tur (ada yang ditemenin mamanya dan kakaknya lho. plis deh), ngurus sekolah ke Australia sendiri. Dan sampai sekarang kalau nonton konser sendiri juga nggak masalah. Saya pernah nonton konser Boomerang ke Bogor juga sendirian. Nonton Slank sendirian. Nonton Peterpan, Sheila On7, Iwan Fals, sendirian. Nggak masalah. Enak koq. Nonton film “Jomblo” juga sendirian. Yang nggak mungkin saya lakukan sendirian adalah nonton film horor. Hiii…rame-rame aja saya sering malesss, apalagi sendirian. Pacaran pun saya nggak masalah sendirian. Misalnya di saat pacar saya nggak bisa nganter, atau dia pergi keluar kota, atau dia sakit dan sedang sibuk kerja, saya juga nggak masalah. Seingat saya sih, saya nggak pernah merasa orang tua saya nggak perhatian walaupun kalau habis terima rapot, rapotnya cuma ditaro di meja. Kadang malah lupa nggak dikeluarin dari dalem tas, yang artinya tu rapot nggak diliat sama sekali seberapapun berprestasi dan jebloknya rapot saya itu. Saya asik sendiri dengan dunia saya.

Sekarang saya punya pacar yang seneng nganter dan jemput saya ke mana-mana kalau dia sempat dan ada waktu. Awalnya saya agak kagok dijemput-jemput karena memang jarang sekali ada yang berani jemput saya ke kantor. Karena pasti saya bilang belum tau bisa pulang jam berapa. Tapi pacar saya yang ini beda. Dia kekeh jemput saya hingga akhirnya saya ‘tahu waktu’ dan menyelesaikan pekerjaan saya supaya dia tidak lama menunggu. Saya sekarang jarang sendirian. Karena pasti ada dia yang menemani. Begitu pun pacar saya. Kadang dia pingin sendirian aja, istirahat di rumahnya tidur dan sama sekali nggak ngapa-ngapain. Karena sehari-harinya dia kerja pontang-panting menggunakan otak dan otot. Hmmm…jadi kangen sama pacar saya. Namanya Hendra.

Setelah makan saya balik lagi ke kantor. Sendirian juga. Jalan kaki. Satu hal lain lagi yang sering menimbulkan ‘rasa kasihan’ dari banyak orang yang mengenal saya. “Kasian, jalan. Nggak kepanasan?” Ya memang panas sih, tapi…apa yang salah dari menggunakan kedua kaki kita untuk berjalan, walaupun kita memang diberikan otak juga untuk memilih untuk tidak berjalan di bawah terik matahari. Habis jarak dari tempat makan tanggung. Saya nggak suka naik ojek, taksi nggak ada yang mau, nggak ada bajaj dan tidak dilewati bis umum. Jalan satu-satunya yang paling cepat adalah jalan kaki. Agak berkeringat sedikit tapi tidak apa-apa. Apa yang salah dengan being organic? Going back to the basic. Using what’s God given you in the first place. A set of legs for walking and pores that lets sweat out of your body when you work it. And the best thing about it is, you can use them anytime. For free. Alone.

Merdeka? Maksud lo Kue Sus?

August 16th, 2007

Ah. Tujuh belas Agustus. Tanggal keramat. Sejarahnya sih, di tanggal ini, Bapak Proklamasi kita yang Buapaknya mantan Presiden R.I. yang paling senang duduk manis, Ibu Megawati Soekarnoputri, memproklamirkan kemerdekaan Indonesia.

Yang kira-kira enam puluh tahun setelah itu tercecer-cecer entah ke mana. How did we get so lost? Lost touch with everything. Di zaman yang seharusnya makin merdeka ini justru kita meng-ekspor lebih banyak lagi budak. Yang hampir 80%-nya pasti pernah mengalami siksaan dan masih bergelimang kebodohan. Begini saja, saya pernah sedang menunggu di airport sambil mengisi kartu imigrasi. Seorang TKW yang tercecer dari gerombolannya bertanya kepada saya, apa arti tulisan di kertas ini, katanya. Di kertas yang ditunjukkan kepada saya tertulis, “NOMOR PASPOR”. Apa itu paspor katanya. Astaga. Saya tanya memang dia mau pergi ke mana, “Arab,” katanya. Astaga. Kata saya lagi. Di dalam hati. Itu baru satu kejadian. Saya yakin banyak sekali kejadian seperti ini terjadi setiap hari di airport, dan ah…

Sementara untuk saya pribadi saya merasa belum merdeka. Karena hutang. Hutang yang dibebankan negara kepada saya. Lewat pajak. Yang pasti akan menguap entah ke mana. Yang nggak jelas juntrungannya. Dan lebih memiskinkan saya daripada mensejahterakan saya di masa depan. Saya masih dan justru MAKIN merasakan sulitnya jalan di trotoar. Saya masih merasakan sulitnya menyeberang jalan raya. Saya masih merasakan sulitnya berobat dengan harga yang terjangkau… dan saya bukan pengangguran atau orang yang tidak berpenghasilan susah. Tapi tetap saja.

Haduh…curhat nih jadinya. Anyway…saya sih masih belum merasa merdeka. Dan entah sampai berapa tahun lagi…

Keesokan Harinya…

August 9th, 2007

Gempa berkekuatan 7.5 skala reichter menggoncang Pulau Jawa pada pukul 24.00 dinihari, lagi satu kali pada pukul 01.00 dinihari dan lagi susulan terakhir pukul 03.00 dinihari juga.

Menarik.

Sudah dipastikan keesokan harinya, yaitu hari ini, semua orang sibuk saling mendahului bercerita tentang pengalamannya di saat gempa. Ada yang mengalami dari awal sampai selesai, terbangun dari tidur, panik nggak karu-karuan, dievakuasi keluar gedung apartemennya, dan ada yang tidak merasakan apa-apa sama sekali.

Saya merasakan 3 detik terakhir dari gempa itu. Sial.

Pikiran jahil saya berkata, inikah efek pilkada? atau memang sudah waktunya? atau memang sudah jatahnya? ataukah Tuhan menjawab doa saya sebelumnya? Haha.

Jakarta harus bersiap untuk merasakan gempa yang sebenarnya di mana semua orang lebih banyak terjaga dan sadar. Biar tahu saja kalau Tuhan itu ada. Dan Tuhan bisa melakukan apa saja.

“Gue kemarin lagi nonton DVD. Terus koq kursi gue goyang-goyang…” (ini rekan sekantor saya)
“Aku lagi mau tidur, terus masuk kamar koq tempat tidurku kemeretak dan kasurnya kayak keangkat. Aku pikir ini apa ada genderuwo yang ngganggu lagi atau apa…taunya Papamu teriak,’Weh!GEMPA YA?!?!?!” (ini ibu saya)

Seputar Pengkolan

August 6th, 2007

Saya berada di dalam taksi. Malam hari, sekitar pukul 20.00, taksi meluncur di daerah Bangka, Jakarta Selatan. Sejak beberapa saat yang lalu, seorang pengendara motor berniat menyalip dari kanan jalan. Dia sibuk menglakson. Berkali-kali. Saya agak bingung juga, karena sisi kanan jalan masih lowong dan masih asik-asik saja buat dia menyalip. Karena ada polisi tidur di tengah tanjakan, taksi saya otomatis melambat. Si pengendara motor kembali mengklakson. Setelah melewati tanjakan, dengan penuh emosi dia menyalip dari kanan dengan kesal, menoleh ke arah supir dan memakinya, “NGENTOT!!!’ teriaknya. Di belakangnya, seorang anak perempuan kecil berusia sekitra 7 tahun tanpa helm menoleh ke arah taksi saya.

***

Peserta kampanye pilkada memenuhi dan memadati jalan dengan yel-yel mereka, dengan atribut kampanye mereka, dengan kepongahan mereka karena berhasil merajai jalanan Jakarta hari Jumat siang kemarin. Jakarta macet total 15 kali lipat di hampir semua titik. Begini ya cara berkampanye yang mendidik? Bagaimana ya saya bisa percaya bahwa ELU si calon gubernur bisa bikin hidup gue sebagai warga Jakarta lebih nyaman kalo show force-nya aja udah bikin GUE jauh dari rasa nyaman dan aman?
Hari Rabu tanggal 8 Agustus besok jadi hari libur Nasional karena semua orang harus milih. Milih apa ya?

***

Sulawesi Tengah tertimpa musibah. Dua desa: Desa Ueruru dan Desa Boba, rata tanah tertimbun longsor dan banjir bandang. Keren. Keren banget. Saya berdoa kepada Tuhan untuk mendatangkan lebih banyak lagi bencana seperti ini. Daripada perang saudara, lebih baik bencana alam. Mau balas dendam sama siapa coba? Sana lo sumpahin serapahin tuh Tuhan lo kalau berani. Biar rata tanah aja semuanya. Orang juga pada susah dibilangin jadi rakyat. Jangan buang sampah sembarangan itu slogan kentut dari zaman saya mulai bisa baca dan saya sudah berumur 32 tahun sekarang. Hei, rakyat! Dapet salam lo semua dari banjir dan longsor.

***

SBY dan istrinya melapor ke Polda sebagai ‘warga negara Republik Indonesia’ yang juga memili’i hak yang sama dengan rakyat lainnya. Pasalnya, mantan Ketua DPR, Zaenal Ma’arif mengatakan bahwa SBY pernah menikah sebelum ia menjadi Presiden. Astaga. Penting ya? Kenapa nggak ada rakyat yang melapor kalau presidennya menelantarkan rakyatnya? Kenapa nggak ada yang melapor ke Polda Metro kalau ada yang menjadi saksi mata pelanggaran kecil yang efeknya besar seperti membuang sampah sembarangan itu tadi, tidak berhenti di halte, verbal abuse ke orang lain, dan penganiayaan hak-hak pengguna jalanan umum?

***

Intinya adalah…kira-kira 98% rakyat di negara ini mikirnya masih sejauh seputar pengkolan saja. Yang 2% sisanya adalah semua orang baik yang saya kenal yang selalu mikir jauh dan tidak pernah buang sampah sembarangan serta tahu etika kerja yang baik.

Baru dua desa, Tuhan…segitu aja? Masih banyak lho, desa-desa di negara ini yang perlu treatment sama…

Pulang

August 2nd, 2007

Blank. Nggak tau mau nulis apa. Apa harus selalu tau ya? Nggak juga kan? Tapi kemarin pas lewat pangkalan ojek, mereka lagi seru berdebat kusir soal harus apa nggak ikutan kampanye pilkada. Salah satu dari mereka bilang, “Males gue. Gak dibayar. Emang gratis keliling Jakarta naik motor gue? Kagak dah gue.” Yang lain lagi bilang kalau pasti nantinya ada duitnya lah, nggak mungkin kagak diberi. Kan supaya bakal dukung dia juga. Tapi sampai suara mereka tidak terdengar lagi, si pro kampanye dan si kontra belum mencapai kesepakatan. Terus hal lain lagi yang nggak penting tapi bisa ditulis juga jadinya, adalah saat saya kelahi dengan supir Metromini. Kesal saya karena dia tidak mau menurunkan saya di halte. Ketika saya ketok langit-langit untuk menandakan saya mau turun, tau-tau si supir nyolot dan berkata,”Ketok aja terus! Ketok aja. Terus sana ketok!” katanya. Awalnya saya nggak ngeh yang dia maksud adalah saya, tapi karena dia nggak berhenti-henti, saya jadi nyadar bahwa yang dia maksud adalah saya. Saya langsung mendatangi dia di dekat kursinya dan berkata,”Kenapa? Apa sih masalah lo? Susah banget berhenti di halte?” (Saya bahkan tidak berteriak waktu menanyakan ini. Saya tidak suka berteriak kalau sedang mencoba mengintimidasi orang). Dia malah semakin nyolot dan menimpali saya dengan marah-marah. Saya bilang saya cuma pengen berhenti di halte. Dan ketika akhirnya dia berhenti dengan paksa, saya sempat mengatainya, “Anjing!”

Saya turun dan melihat ada sebuah metromini lain yang berhenti di halte. Baru sekali itu saya dihina dengan tidak diturunkan di halte. Karena saya adalah orang yang selalu turun di halte dan menyeberang lewat tangga penyeberangan kalau ada.

Saya masih tidak tahu mau menulis apa. Bisa saja saya menulis saya bosan hidup susah dan mengabdi hidup untuk orang lain. Tapi rejeki saya ternyata masih berada di mengabdi hidup untuk orang lain. Rejeki saya masih datang lewat bentuk pengalaman dan bukan uang. Walaupun pada masa sekarang ini saya berpendapat bahwa uang lebih bisa digunakan untuk membayar dokter. Dan pengalaman lebih baik untuk dijadikan pelajaran. Tapi toh tidak mengurangi jiwa Maha Pemurah Tuhan untuk terus memberi saya pengalaman. Padahal saya ingin sekali ke dokter. Dokter gigi, gineakolog, dokter mata, dan melakukan general check up yang sudah TIDAK saya lakukan bertahun-tahun lamanya. Belum bisa lah. Karena uang yang saya cari juga masih hak orang lain, belum menjadi hak saya.

Sudah ah. Tidak ada lagi yang mau saya tulis. Saya mau pulang.

To My Knight

August 1st, 2007

I’ll be here my Knight
I’ll be here for your flesh and love that knows no pause.
I’ll be here my Knight
I’ll be here always for I need no cause
and without you, I’m sure at lost.