HOROR CINTA
“Kalau film, dia itu apa?”
“Film Horor.”
“Lho? Kenapa?”
“Karena…dia bisa bikin gue ngeri. Tapi pengen tau. Kayak film horor yang udah terlanjur ditonton gitu. Lo udah duduk, udah ngeliat depannya. Mau cabut udah tanggung, plotnya udah nyentil rasa ingin tau lo dan akhirnya biarpun sambil tutup mata dan merem melek sama kaget-kaget, lo tetep aja nonton tu film sampe kelar. Terusnya, lo udah tau itu film, CUMA FILM, tapi tetep aja bikin lo takut. Film tapi lo tau bisa kejadian juga di kehidupan nyata.”
“Ih, kalo gue sih keluar. Gue nggak demen film horor.”
“Ya kan lo tadi nanyanya kalo menurut gue.”
“Iya sih. Emang apanya yang bikin lo takut? Apanya yang serem dari dia? Berewokan ya? Suka menyergap lo di tempat sepi pake make-up pucat?”
“Hehehe…Hm? Mmmm…dia ngasih gue sesuatu yang nikmat rasanya. Di sini. (menunjuk ke dadanya) dan di sini (ke kepalanya). Persis kayak film horor. Bikin deg-degan tapi ini lo (menunjuk ke “otaknya”) kepancing. Pengen tau, gimana endingnya. Pengen tau sampe seberapa lama lo tahan duduk nikmatin yang ngeri-ngerinya itu.”
“Biarpun padahal lo gak suka film horor ya?”
“Iya. Setiap hari ada aja yang bikin gue kaget. Terus gue jadi takut. Tapi pengen tahu. Ini apa sih? Ini apa ya? Kenapa gini? Hmmm…coba gue tongkrongin dulu sampe hari ini selesai.”
“Wuih. Ribet ah. Mungkin nggak usah dipikirin kali. Dinikmatin aja. Kayak kalau lo udah kelar nonton film horornya itu. Nikmatnya pas udah slesainya karena lo jadi lebih lega. Jadi, lo iambil leganya aja kali.”
“Hmmm…bisa juga.”
“Ya bisalah. Duduk santai. Nikmatin tuh “film horor”. Ya nggak?”
“Mmmm…” (tiba-tiba hp perempuan itu berbunyi. sms masuk) “Ini. Ini yang ngeri tapi enak, karena munculnya setiap hari.” (memperlihatkan sms yang penuh cinta kepada temannya dan membalas sms mesra itu sambil tersenyum)
It’s Ok.
Gue turun dari bis P 20, angin bertiup sepoi-sepoi…jalanan Jakarta Selatan jam 8 pagi macet gila seperti biasa. Duh. Nggak pada liburan ke luar kota apa ya anak-anak sekolah ini? Kenapa masih banyak aja mobil di jalanan. Matahari makin terang. Gue naik jembatan penyeberangan di depan gedung Graha Irama. Udah kepikiran mau beli stroberi pagi ini, kangen makan stroberi Bandung yang biasa dijual abang-abang di tengah jembatan. Dia dari Bandung, jauh-jauh ke Jakarta cuma untuk dagang stroberi yang dijual RP 10ribu untuk 3 kotak plastik kecil. Lumayan. Dapet satu mangkok gede dan kalau di jus bisa dapet 3 gelas besar.
Damn. Tukang stroberi nggak jualan hari ini. Spotnya diisi sama mbak-mbak berjilbab yang jualan nasi kuning, bihun goreng, mie goreng dan nasi uduk. Ya udah deh. Gue beli nasi kuning aja. Rp 3000. Lanjut. Gue berharap si ibu-ibu penjual nasi uduk cemen yang Rp 1000an sebungkus masih jualan di spotnya yang biasa di samping gedung Graha Irama. Dia jualan di bawah tiang lampu, pake bakul. Dan nggak cuma nasi uduk tapi juga risol, lontong isi, bakwan dan kue-kue daerah lain. Well…jangan tanya rasa. Karena gue makan cuma supaya gue nggak sakit mag dan mati kelaparan. Yang penting, masih bisa ketelen lah rasanya. Oke lah.
Turun dari tangga penyeberangan, ada pemuda tanggung yang lagi jalan ke arah gue. Dia ngelewatin si penjual roti yang nangkring persis di ujung tangga. Eh, ada yang baru, ada tukang bubur ayam sepeda yang ngarang spot. Karena dia nggak jualan di trotoar dan malah nongkrong di jalanannya. Gue nggak ngerti sama orang-orang menengah ke bawah ini. Selalu aja nggak pernah mikir bahayanya buat dia dan orang lain. Gue udah mikir mau ngusir dia dari situ dan nyuruh dia pindah spot yang lebih aman dan nggak bikin susah orang lain. Egois. Oyah, balik lagi ke si pemuda tanggung yang jalan ke arah gue.
Si pemuda tanggung pakai kaos item yang ada gambar ilustrasi telapak tangannya, dengan jari telunjuk dan jempolnya membentuk huruf “O”. Di bawahnya ada tulisan, “It’s Ok” gede-gede. Heheheeheheh…gue jadi ketawa sendiri. Iya, deh, Mas. It’s Ok banget.
Gue jalan terus sambiil senyum-senyum sendiri dan berasa lebih santai. It’s ok, kata kaosnya. It should. It should be. Saya mencari si ibu penjual nasi uduk. Damn. Dia pun ternyata nggak jualan hari ini. Tapi…it’s ok juga sih. Ya ya…it’s ok. Hihihiih…
Uncategorized | Comment (1)The Ugliest Cat In The World
It was a night at a street side
We were having dinner when
A feline creature was advancing
Our way, in a devious manner and
We turned our heads and screamed
For it was the ugliest cat in the world
Grinning and moving slowly towards us
Right foot first then the left
Its dirty creamish fur showed scars
Of a long hard life being a stray cat
But the face, o the face
It was the ugliest cat in the whole world
The Future Between Kisses On A Motorbike
My arms were around his waist. He had put them there previously.”Like this,” he said, pulling my arms around his waist. Left one and then the right one. We’re on his motorbike, on a mission to find a quiet decent place where nobody goes, on a Saturday night. We’re whizzing through the street of somewhere in South Jakarta. In a moment my life suddenly flashed by. The time when I wanted to start my own business in entertainment. The time where I was deprived from decent life, the time when I was invited to many parties and had fun for free, the time when Amy and I went cafe hopping and somehow always ended up at the Hilton hotel, Amy and her wee hour desert and I with my cup of cappucino discussing love, life and someone’s husband, men who fell in love with us and mostly men who turned out to be losers. The time when I met you and thought that you had found me, Fey. The time when we had everything went well, the time when I had my 31st birthday and the time when I was living it in Sydney. The time when I was in full blown tears at my sister’s wedding because I was so happy for her. All the time when I was fully alive. Fully aware that my life was always going to be so short but happy.
Suddenly I felt 75 years old and reminiscing about the way we were, the way the world was when I was young and restless. When all my friends are still singles and breaking up. When I was still single and breaking up. When I was in the middle of the cheering crowd at a Naif concert. Oh, how life seemed like it’d never end. How happiness seemed like it’d never ceased. How love seemed like it’d always last a lifetime. And how heartbreaks seemed like it’d never leave you.
He hit a brake to make a u-turn. I tightened my arms around his waist and laid my helmed head on his shoulder. We passed Harris Hotel and I thought, it’d be nice to hang out there, the coffee shop would be quiet and we could hear our own voice talking about life, music, exes and why we are who we are today, while ocassionaly stop for a smooch and sweet kisses.
Uncategorized | Comment (0)Makam Merah Jambu
Seorang wanita duduk di bawah pohon beringin rindang berwarna merah jambu. Mukanya sedikit pucat dan rambut pirangnya gimbal. Di depannya ada sebuah buku yang juga merah jambu, terbuka pada halaman yang berisi coretan nama, sebab kematian dan tanggalnya. Tintanya merah.
Seorang lelaki yang terlihat bingung memasuki pintu gerbang tak jauh dari beringin merah jambu itu. Ia membawa sebuah bungkusan kotak yang dibungkus kain hitam. Si wanita aneh tidak menggubris. Pandangannya kosong mengarah ke depan. Seperti menembus dada lelaki itu.
“Permisi,” kata si lelaki.
“Hm.”
“Aa…mau tanya, apa betul…?”
“Betul. Di sini Makam Merah Jambu.”
“Ya. Betul. Memang itu yang aku cari. Dan kau adalah…”
“Saya Penjaga Hati Mati.”
“O. Saya mau menguburkan ini.”
“Punya siapa?”
“Punya saya.”
Si wanita membuka bukunya di lembaran baru.
“Nama?”
“Rinto.”
“Sebab kematian?”
“Cinta.”
Si wanita berhenti sejenak. Memandang si lelaki dan berkata,
“Tidak ada sebab kematian karena cinta. Di sini semua mati karena perselingkuhan, tidak ada komitmen, pasangan yang tidak tau apa maunya, pasangan yang emosional, pasangan yang belum dewasa cara berpikirnya,…tidak ada yang karena cinta. Karena cinta tidak pernah mati.”
Si lelaki tertegun.
“Tapi…itu benar. Saya bunuh hati saya sendiri. Karena sudah tidak ada lagi cinta. Saya mendengar suara pacar saya dan melihatnya dan saya tahu, cinta sudah tidak ada lagi di sini.” katanya sambil menunjuk ke sebuah kotak yang dibungkus kain hitam. “Saya tidak tahu apa lagi yang harus saya lakukan. Kekasihku, dia begitu mencintai saya. Saya juga mencintainya, dulu. Entah kenapa rasa itu bisa hilang. Cinta seolah berkemas dan meninggalkan saya. Saya masih menyayanginya tapi saya tahu saya tidak akan pernah bisa membalas cintanya yang sedemikian besar. Maka itu, saya bunuh hati saya sendiri. Supaya saya bisa berhenti merasa bersalah.”
Si wanita kembali kepada halaman yang tadi sedang ditulisinya.
“Sebab: Pasangan pengecut.”
“Saya bukan pengecut.”
“Kau pengecut. Kamu tidak bisa hidup dengan rasa bersalahmu sendiri. Bukan salah hatimu, dan bukan salah cinta. Tapi kau menyalahkan cinta. Kau memang tidak pernah mencintainya.”
“Pernah.”
“Kalau pernah kenapa kau harus takut? Takut menerima cintanya yang sedemikian besar? Hanya ada satu penjelasan. Kau pengecut. Buktinya, kau bunuh hatimu sendiri karena kau pikir itu bisa mengakhiri derita rasa bersalahmu.”
Si lelaki tertunduk. Ia mengangkat wajahnya dan wajah si wanita itu berganti menjadi wajah kekasihnya yang tersenyum. Ia sedikit tergagap dan bungkusan kotak hitam di tangannya terjatuh.
“Kau…kau…Nan…maafkan aku…”
Wajah pucat wanita berambut gimbal pirang pun kembali muncul. Senyum sedihnya tersungging di bibir. “Kau tahu? Nan tidak akan pernah mempersoalkan apakah kau bisa membalas cintanya yang sedemikian besar atau tidak. Tapi memang kau tidak pernah mencintainya. Kalau pernah, kau akan berusaha kembali lagi ke sana dan menemukannya.”
Si lelaki masih tertunduk.
Wanita pucat berambut gimbal pirang itu kembali berkata.
“Aku tidak bisa menguburkan hatimu di sini. Ia belum benar-benar mati. Aku tidak bisa menguburkan hati yang penuh perasaan bersalah. Dia gentayangan nanti. Aku hanya menguburkan hati yang benar-benar sudah mati dan tidak bisa ditawar-tawar lagi. Kau lihat itu, (menunjuk deretan nisan merah hati yang berjejer rapi), tempat ini sebetulnya milikku. Itu hatiku yang kukubur. Semuanya sudah mati. Beberapa mati karena lelaki pengecut seperti kau. Tapi ia bisa tumbuh lagi bila waktunya telah tiba. Aku sedang menunggu tutup buku (menunjuk onggokan tanah merah jambu yang masih baru digali. Di dekatnya ada sebuah lubang kosong), itu untuk hatiku yang terakhir, tapi ia belum bisa kukuburkan karena urusannya masih belum selesai. Ia masih penasaran walaupun sudah sekarat.”
Si lelaki mengangkat wajahnya dan memandang wanita pucat itu. Dipungutnya bungkusan kotak hitam yang tadi terjatuh. “Maafkan aku.”
Si wanita pucat berambut gimbal pirang itu memandanginya lekat-lekat. “Kau mengingatkanku padanya. Pada lelaki itu. Kau tidak tahu apa arti permintaan maafmu dan kenapa kata itu keluar dari mulutmu.”
Ia melanjutkan. “Pergilah. Kembali lah pada dirimu sendiri, jangan pada rasa takutmu. Kalau kau memang pernah mencintainya, kau akan menemukan jawabannya. Hatimu belum pantas mati. Tidak, tidak hari ini.”
Angin sejuk bertiup perlahan. Aroma wangi bunga setaman tercium. Si lelaki menutup matanya dan menghirup angin wangi dalam-dalam. Secuil rasa pilu menancap di dadanya. Bersamaan dengan itu, bungkusan kotak hitamnya hilang. Ia membuka mata dan menemukan dirinya di sebuah lapangan luas. Gerbang yang tadi dimasukinya hilang. Beringin merah jambu dan wanita pucat berambut gimbal pirang itu hilang, juga nisan-nisan merah marun dan tanah pekuburan merah jambu. Ia melihat sekeliling sambil memegangi dadanya yang masih terasa pilu. Di kepalanya terngiang suara wanita pucat berambut gimbal pirang,”Kembalilah pada dirimu sendiri, bukan pada rasa takutmu.”
Lelaki itu berjalan. Ke mana sekarang, pikirnya. Nan. Pikirnya lagi. Nan. Seperti mantra, ia mengulang-ulang perkataan wanita pucat itu sambil terus berjalan. Kembali ke dirinya sendiri.
Uncategorized | Comment (0)Deal.
One message to you:
Avoid living at all because living is all about dealing with it. Why bother letting yourself being eating by your own complaints and to-be-avoided list? So go kill yourself because you are no good to even your own expectation.
Uncategorized | Comment (0)HEPI HUT JAKARTA YANG KE-UZURRR
Sibuk sekali dia
Meeting terus kerjanya
Entah apa gunanya
“Untuk melupakan Jakarta,” suatu kali katanya
Lho? Memang ada apa dengan Jakarta?
Bukannya kau sekarang sedang tinggal di sana?
Aku tidak suka Jakarta. Jakarta rusuh luar biasa.
Susah untuk hidup normal sebagai manusia
Mau jalan di jalan raya kan melanggar hukum
Tapi jalan di trotoar pun bisa jadi kelahi sama oknum
Aku serba salah di sini
Mau selalu pergi
Tidak betah berdiam walaupun sudah di rumah sendiri
Tapi kalau keluar, malah sering jadi pusing begini
Dari dulu aku memang tidak suka
Karena menurutku, kota ini berbahaya
Aku sudah tidak suka bahkan jauh sebelum aku ke Australia
Menurutku sekarang justru makin menggila
Segalanya hampir tak terjaga dan tak terkontrol
Amit-amit sumpeknya kayak tinggal rame-rame dalam botol
Kalau kesel di jalan bawaannya mau nyepol
dan biilang mereka kalau kita preman dari Poncol
Halah.
Yang jelas dia sekali lagi bilang
Dia kerja untuk melupakan Jakarta
karena akal sehat di sini sudah hilang
“Lebih baik aku melakukan sesuatu yang berguna.”
Misalnya, seperti bekerja dan bekerja
Berkawan juga sebanyak-banyaknya
Karena kalau tidak, “Bisa gila aku!”
Kesal dan stres sama sekali nggak membantu.”
Maka dia kembali bersiap
Langkahnya seperti berderap-derap
Badannya kurus tegap
Meeting dan kerja lagi sampai hari berganti gelap
Hey Day For A Gay
Hey, …
Are you a gay?
If you are, I’ll say,
baby it’s okay.
I still love you anyway.
Because I can’t never grow a dick
Or transform myself to Mick
Or wear a man’s wig
Just so you can taste my fig
At least we have something in common
That we both like sexy caring men
Who can be as sweet as a woman
Although his name is really Damon
Was that why you didn’t respond
Even after I bleached my hair blond
Every now and then I feel that you’re gone
You’re here with me, but your thoughts far beyond
But I wasn’t born yesterday baby
It’s okay to tell me, really
I can understand you completely
Because I love you love you truly
I just wished you’d tell me sooner
Coz looking at you, I always get a boner
You’re built baby, like a great lover
Your skin your scent, I want you all over
You’re so perfect, it didn’t make sense
But now it does cause you’re never intense
I remember we mostly hold hands
Or in lucky days, kissing like two friends
Oh baby baby you see I don’t care
Whether you are gay or you’re just scared
Because this is something I have prepared
Since a long time ago, at the first eyes stare
So what I want to say is this
That being with you was really a bliss
Although all we did was just kiss and kiss
Any day baby, it’s something I’d never miss
Why you told my friend that I was the one?
It stays with me, no more for you, it’s done
O, we had fun, yeah we had fun
But you never tell me anything, no, you tell me none
So now we’re apart
But somehow you’re still in my heart
Getting over you would be really hard
Because, dude, you have really topped my chart
We can still be friends, yes we absolutely can
Because I love my friends
Like I love my man
To me, you’re still my man
Though you’d rather be friends
(miss you)
Uncategorized | Comment (0)BULUTANGKIS
Matahari sedang bermain bulutangkis pagi ini. Sinarnya memantul-mantul dari helm setiap pengendara motor dan atap-atap mobil. Tul tul tul… Ke mataku. Ke kulitku. Plak. Out. Satu kosong untuk matahari.
Uncategorized | Comment (0)KURUSSS…
“Hai, Nat!!! Kamu kurusan ya?” “Hei, Nat. pa kabar? Kurus lo sekarang!” “Kurus banget sih lo sekarang? Diet ya?”
Diet. No. Lo pingin kurus? Pingin langsing? Nurunin berat badan? Coba deh, seriusin bikin perusahaan sendiri tanpa punya pemodal. Terus pinjem uang sama orang-orang yang cukup murah hati untuk minjemin uang modal usaha. Dan janjiin sama mereka untuk ngembaliin semuanya dalam satu tahun atau setiap bulan. Serius.
Gue bukan orang yang biasa pinjem uang. Di dunia ini, cuma ada satu orang yang uangnya sering gue pinjem, “suami” dalam suka dan duka gue, si Andy, ottochan, karena dia pernah sama susah dan ribetnya sama gue. Jadi kita pernah sama-sama ngalamin masa-masa bank account tinggal 50 ribu-50 ribu peraknya. Sharing makan makan nasi goreng 3000 perak setiap hari. Dapet uang cuma bisa buat bayar kos-kosan. Yang penting, kebutuhan papan terpenuhi. Sandang dan pangan yaaa…bisa diakal-akalin lah. Anyway, saking seringnya sharing dari yang seneng-seneng sampai yang susah-susah, kita berasa jadi kayak pasangan suami istri yang saling bantu. Kalo dia lagi ada uang, dia balikin utangnya ke gue dan kalo gue lagi ada uang, gue balikin utang gue ke dia. Gitu terus, sampe hampir setahun. Tapi gue hepi. Gue nggak ngerasa susah. Kenapa ya? Mungkin karena gue lebih pasrah dan kepailitan cuma menyangkut hajat hidup seorang gue. Mungkin karena ada temen sharingnya. Temen yang selalu support dan ngertiin gue. Temen yang rela berkorban karena dia tahu gue juga nggak akan ninggalin dia kalo gue lagi seneng. Temen yang bener, nggak pernah seneng liat lo sedih dan susah lama-lama. Kayak si Andy itu.
Makanya, sampai sekarang, kita selalu seneng dan susah sama-sama. Sekarang ini, Andy udah keluar dari kerjaan full time-nya dan memutuskan untuk jadi LELAKI SEJATI. Mencoba berdiri di kakinya sendiri. Merintis dari bawah. Ngalamin lagi masa susah di mana uang pastinya lebih banyak keluar dulu daripada masuk. Dapet pressure yang banyak hubungannya sama bayaran. Bayaran anu dan bayaran itu. Sama kayak gue. Gue juga lagi berusaha jadi PEREMPUAN SEJATI. Merintis dari tengah. Supaya kalo anak gue ditanya sama temennya, “Ibu lo kerja apa?” Dia bisa jawab dengan bangga karena ibunya punya sesuatu yang bisa diliat hasilnya.
Dan itu nggak gampang, anjing! Gue belum pernah punya hutang sebanyak ini sama sebanyak itu orang di dalam hidup gue. Gue nggak akan pernah ngerti sama orang yang ngutang cuma untuk beli tas Hermes atau sepatu Marc Jacobs. Emang tuh hutang nggak sebanyak hutangnya Donald Trump waktu dia bangkrut, tapi secara penghasilan gue juga serba cukup ketat, seketat bungkus lepet, rasanya tetep sama dengan banyaknya hutang Donald Trump. Gue nggak sendirian di sini, untungnya. Ada partner gue Aji, dan walaupun beberapa orang memutuskan untuk mengundurkan diri, gue dan Aji mutusin untuk hajar bleh. Jalan terus. Ini bener-bener jadi survival of the fittest buat gue. Kalo gue berhasil berarti gue one of the fittest, gitu kata gue ke diri gue sendiri. Sekali lagi gue bilang, ini nggak gampang, anjing. Jadi kadang-kadang gue emang perlu sedikit ngimpi dan menenangkan diri gue sendiri kalo gue pasti bakal bisa ngelewatin ini tanpa pendarahan dalam yang terlalu parah. Gue bisa aja mundur. Tapi gue yakin gue nggak bisa maafin diri gue sendiri setiap kali gue ditanya udah ngapain aja. Gue bakal benci sama diri gue yang quiter, yang berenti sebelum nyoba sampai peresan otak gue yang penghabisan. Pertimbangannya adalah, gue udah kerja belasan tahun, ditempa sama berbagai keadaan dan bos-bos sinting tapi jenius yang bikin gue jadi seperti sekarang, gue harusnya punya sesuatu yang lebih aktual, konseptual dan nggak asal. Ini untuk mereka juga, cara gue berterima kasih ke mereka semua, ke orang tua gue, dan ke diri gue sendiri. Karena memang cuma ini yang gue punya. Yang bikin gue stres adalah gue pengen banget ngumpulin uang sebanyak-banyaknya dalam waktu singkat untuk ngelunasin semuanya. Tapi kan nggak semua hal bisa berjalan sesuai kemauan gue. Gue cuma harus usaha sekeras-kerasnya supaya semuanya bisa terselesaikan. Dan berdoa kepada Tuhan serajin-rajinnya, supaya semuanya bisa terselesaikan dengan lebih baik lagi.
Sejujurnya gue stres. Stres lah. Gue kan harus make sure company gue bisa bayar crew, bayar pemain, bayar catering, bayar sewa tempat, bayar uang kreditor, dan sementara itu gue masih harus tetep jadi diri gue sendiri yang juga punya kehidupan lain yang nggak ada hubungannya sama crew, pemain dan kreditor. Gue punya tagihan telepon, kartu kredit (yang udah jarang banget gue pake karena gue takut), kos-kosan, beli voucher telepon, makan dan minum supaya bisa tetep mikir dan setidaknya lancar bernafas, karena terus terang, modal gue cuma otak sama nama gue: Nataya Aryadni. Gue stres dong, karena sekalinya ada kerjaan gue tetep belum berani bayar asisten atau runner buat nemenin gue karena budget dari kerjaan yang masuk. Memang ada aja sih kerjaan yang masuk, alhamdulillah, walaupun deadline dan bayarannya masih pada masya allah. Belum lagi, gue baru aja putus. Weleh. Curhat colongan. Jadi gue bener-bener nggak punya temen sharing yang bisa menenangkan gue, yang tadinya gue harap bisa gue dapet dari punya pacar. Gue jadi berasa kayak beli tiket undian yang kalau di-scratched tulisannya pasti bilang, “MAAF, ANDA BELUM BERUNTUNG.” A-n-j-i-n-g.
Tapi gue ngga nyerah koq. Walaupun ya stres lah. Tapi pasti masih banyak lagi orang yang lebih stress daripada gue. Partner gue udah punya anak, dia pasti stres mikirin keluarga dan company ini juga. Gue harusnya bisa banyak belajar dari dia, karena gue belum punya anak, malah harusnya beban gue lebih enteng karena gue sekarang BENER-BENER SENDIRI. Ya, nggak? Gue harus percaya kalau Tuhan itu memang Maha Pemurah, selain juga Maha Nge-test. Kalau Andy bisa tenang dan ngadepin semua masalah dengan supplier dan client yang gila dengan tenang, gue juga harus bisa ngadepin semua masalah gue dengan tenang. Dengan ikhlas juga kali yah? Bersih dan beriman. Dan Anti narkoba. Hidup kota Bogor!
Balik ke kurusnya gue itu, gue memang nggak bisa makan. Kadang sayang mau buang uang untuk makan. Gue jadi pengen tinggal di Yogya. Soalnya katanya di sana makanan murah banget. Dan ke mana-mana bisa jalan kaki tanpa ngeri kesamber metromini. Tapi pikiran emang bisa banget mempengaruhi berat badan lo. Hutang, bisa banget mempengaruhi berat badan lo dan psikologis lo juga. Makanya, gue bahkan nggak bisa ngerti sama orang yang pinjem uang puluhan juta buat naik haji. Egois banget. Gue mau pinjem 5 juta sama orang yang gue yakin pasti ngasih aja ngomongnya pake doa ketenangan dulu berhari-hari. Gue harus ngumpulin kekuatan sampai akhirnya gue bisa ngomong uangnya untuk apa. Untuk bayar lighting, untuk bayar tukang make-up, untuk bayar gedung, bayar equipment sound, dll. Itu aja tetep masih kurang. Hhh…. Gue yakin, kalo gue nggak gaul sama orang yang tepat untuk ngadepin ini semua, gue udah ngikutin tren loncat dari gedung tingkat ke sekian dari kemarin-kemarin. Sori Ma, sori Pa, sori Stie. Cuma, loncat kan nggak menyelesaikan masalah. Masalah cuma bisa selesai kalau diselesaikan. Dan gue lebih milih untuk menyelesaikan. Secara pribadi, gue bakalan bangkrut banget untuk 5 bulan ke depan ini. Belum ada penyelesaian lain selain bangkrut dulu dan membanting… membanting apa ya? Dan kerja sekeras mungkin. Lebih keras daripada yang pernah gue lakukan selama belasan tahun. Gue cuma harus ngejalanin apa yang harus gue jalanin sambil tetep planning. Dan sesekali ngemil. Nasi bungkus. Hehehe… Dan mengucap doa khusus peringan hutang-hutang. Dan mengelilingi diri gue dengan orang-orang seperti adik gue Asti, Andy, Aji, Shakti, Dodi, Tommy, Bobby, Amy, Ipe dan Rissa, Dimas, Tju, Mas Erwin, Eko dan Yanti, Maria dan Doan, dan lo semua yang masih bisa bikin gue ketawa dari hati, senyum bahagia karena bisa kenal lo, bikin gue ngerasa perjuangan gue nggak mungkin seberat itu, bikin gue ngerasa semuanya bisa diatasin, dilewatin, diselesein, dan dijadiin pengalaman hidup.
Now, … back to slavery. And the glory of being thin…
Uncategorized | Comment (0)