I Caught Myself Snoring

March 26th, 2007

I caught myself snoring
It was suspiciously audible and annoying
I woke up with my face on the pillow
And my mouth shaped a dumb looking ‘o’

It’s the flu, it’s the flu, it’s the flu, it’s the flu, I hate you
Phlegms covering my lungs and it’s hard breathing thru
My sister says I do snore but inaudible
Not to the extend that’s impossible

‘It’s rather endearing and cute.”
Although I myself prefer that I mute
Coz snoring reflects bad health
Or simply major lack or rest
And health often needs wealth
Or simply eating habit at its best

So tonight I promise myself
To sleep on my back instead of my side
Not to crouch like an elf
Nor gripping the pillow too tight

Switch Mode

March 25th, 2007

“I need to confess something. I’m in love with someone else.”
“What? What do you mean, who?”
“It’s…honey,…it’s hard to say this… I thought it was just a phase. But now I’m sure. I can’t get her out of my head. Everyday, there’s this…sense of longing to get to know her better. I just don’t know how to do it yet. But I do. I do want to get to know her better…”
“Her? HER WHO? How long’s this been? Are you messing with me?”
“No. It’s been…since, I don’t know…2-3 months ago?”
“I don’t believe you…Her who?”
“I don’t believe myself either. Well, she’s umm…”
“What’s gonna happen to us? HER??!! Are you?!?!”
“I don’t know…All we know is that…she’s all straight. She’s…she might not comprehend this…but…I don’t know what I want anymore but…I know I like her. A lot.”
“WE? Who do you exactly mean by ‘WE’? Does ‘SHE’ know this? You know what, I, I can’t continue this conversation. I..I have to go. I can’t believe this is happening.”
“I’m sorry.”
“No. Don’t be. Don’t say anything. I have to go.”

The man left his girlfriend sitting in the restaurant. His head is pounding. The idea of his girlfriend getting to know his sister, not in a civic way is as absurd as walking on your hands and clapping with your feet at The Opera.

The Worst

March 23rd, 2007

I was in the bathroom and there I saw it. And then I thought of reincarnation. Just recently I watched a movie on reincarnation. It was about a warrior who refused to do his pretold duties so that he could die, and ended the cycle of reincarnation. Bottom line, he refused to be reincarnated. He wanted to stop it right there. Back to me in the bathroom half crouching (it’s a public place. I don’t sit on public toliets), being stared at by a strand of little black curly hair. And there it hit me that the warrior in the movie was right. It was very advanced of him to stop his cycle of reincarnation right there. Because…it would be the worst reincarnation of all to be reincarnated as pubes.

“…I see you in my bed… where did you come from…” (Phoebe’s voice from one of Friends’ episodes echoed in my head and the reff kicked in right of cue)

IDIOTS MUST DIE

March 19th, 2007

around me overreacting hyperbolic faggots
laughing with extra articulation
I betcha they perform loud ejaculation

sorrow sorrow on the news
everyone’s either living in the mud
or surviving life in roughly made huts
‘we’re still in refuge, but this is alright’, they muse

planes are crashing
trains are colliding
buses are slipping
boats and ships are sinking
‘Forget traveling, we’ll stay inland
and save ourselves from dying,’
the petrified citizens are claiming.
But the lands are sliding and
the earth starts quaking
while the mud keeps piling
and the wind insanely blowing
mothers and fathers and children
and grandpas and grandmas
and men and women and
babies are crying and wailing
and howling…LORD HELP US…! (why?)
WHY THIS MISERIES, LORD? (you think?)
HAVE THEE NO MERCY? (no)

I see empty eyes
I see assholes
I see dumb people multiplying
I see walking breathing empty shells
with a face and hair and fake lifestyles
I see hopes collide like the landslide
I see haze. I see mud. I see no trees.

It’s you most of all, I see all the time.
It’s you. You dumb motherfucker I hate you.
I shall not mention names, but if you read this
and you know, that name belongs to you.

And you must die. We must kill you.
You serve nothing to the community and the country
You serve nothing to the life of others
You mean nothing even long after you die,
your remains are useless
You shall not live, nor your offsprings and
your premature sperm

I pray for more mayhem coming from you, Lord.
Disasters shall be at play
Rise your water and whirl them wind, Lord
Rake the concrete and wiggle them trees, Lord
Then all idiots and ignorant parents shall die
We need them no more, Lord. Nor we need their heirs and babies.
If I, a mortal feel sick, Lord, You’ll be Immensely Sick, Lord
If I, a mortal see, Lord, You’ll be Indubitably Aware, Lord
What I sense, You sense the most, Lord.

Then I’m begging you to restart, Lord.
Reverse and rebuild and return
To the day Adam’s cheerfully at play
and Eve’s gleefully makes hay.

The Dog

March 13th, 2007

This is the whateverth nights I can’t sleep properly. I feel like I’m in the set of horror movies and nightmares I can’t wake up from.

Okay, imagine this. I’m sleeping (imagine all you like), in my alright room, when suddenly at about 10pm, the neighbor’s dog starts howling. Howling. Howling. Louder and louder and louder and squeeking and barking and howling and howling and squeeking and howling and howling and barking and barking and giving out more painful noises that seeping into your subconscious and noise radar while you’re in between consciousness. For a moment I’d like to think that it’s just the back of my head howling. Or my memories of things I’d like to forget. But no. But no. It’s real and it happens almost every night when it feels like it. From anytime around 10pm to 4.30am in the morning. Godgoodnessgraciouslord.

At one point I also thought that the dog wasn’t real. Was it? But fellow lodgers assured me that yes, there’s an actual dog. That yes, howls and barks and squeeks and howls and howls and howls and howls and barks to the wee hour of human time.

Now…I have two choices of asking the owner to put the miserable four-legged howler to sleep OR, I can just poison it to death. What? Why you cringe? Too mean? Too un-dog-ly? ORRRR…I can buy myself a pair of ear plugs…since…my sister just told me that in this Year Of Ham in the Chinese year, it is very very extremely inappropriate for a Rabbit Sign to kill a dog since, dog would be my sign’s guardian throughout this Year Of Ham.

So…howl away, doggy…

Sunday At The Museum

March 6th, 2007

Sungguh hari Minggu pagi yang cerah. Eh, nggak sih. Agak mendung dan angin dingin berhembus bak di negara empat musim. Pagi ini saya akan berkunjung ke Museum. Ikut acara yang diadakan oleh ‘Sahabat Museum’ yang memang rutin setiap bulan mengadakan ‘Plesiran Tempo Dulu’, begitu mereka menyebutnya, ke museum-museum dan tempat bersejarah di seluruh Indonesia.

Maka, pagi itu sekitar pukul 7 pagi saya naik bis Transjakarta menuju Kota. Sesampainya di sana, saya naik bajaj dan dengan sok yakin bilang ke si supir, ‘Museum Bahari, Pak.’ dengan doa dan zikir semoga si bapak tidak salah dengar dan malah membawa saya ke tempat-tempat aneh tak bertuan. Sempat parno juga dan berpikir skenario self-survival macam-macam jika sesuatu yang tidak menyenangkan terjadi. Ah, positive thinking sajalah, segera saya meralat diri saya sendiri. Setelah berputar-putar mengikuti alur jalan Kota, yang presummably, menuju tujuan saya, yaitu Museum Bahari, sampailah bajaj saya ke ujung sebuah gang yang dipenuhi kios dan warung makanan serta berbagai macam alat pancing, buah-buahan dan kacamata cengdem. Saya bingung juga, maklum lah, rookie, ini kunjungan perdana saya seorang diri ke daerah yang tidak saya kenal. “Pak, berentinya di Museum.” kata saya kepada si Pak Bajaj. ‘Iya ini museum, non. noh, pasar ikan.’ katanya semakin tidak meyakinkan. Saya pun kekeh bahwa saya ingin diturunkan di dekat museum, dan si Pak Bajaj juga ngotot bahwa kami sudah sampai di museum yang dimaksud. ‘Enih, udah museum non. No kiri sini no udah museum. Noh temboknya.’ katanya lagi. Ya sudah, saya percaya. Saya memberinya uang Rp 10.000 dan turun. Dia tidak menggerutu, berarti saya kasihnya kebanyakan, tapi ah…sudahlah.

Lalu saya berjalan ke arah kiri, naik ke trotoar yang tertutup oleh kios-kios buah dan barang-barang kelontong macam celengan, tempayan dan vocer hp. Heterogen dan ajaib gabungannya. Sedikit berbelok ke kiri, saya melihat sebuah jangkar raksasa yang terlihat ‘zaman dulu’ berdiri tegak di samping kiri dan kanan gerbang museum. Ada panitia SM yang berdiri menyapa peserta dan mengarahkan mereka ke tempat pendaftaran ulang, untuk mengambil tanda peserta, roti buaya dan minum.

Di atas pintu masuk terlihat sebuah plang kecil bertuliskan: MUSEUM BAHARI. Saya masuk lewat pintu utama yang melengkung bentuknya. Tiket tanda masuknya hanya seharga Rp 2.000,-. Saya berada di sebuah lobby ruangan yang gelap dan berlangit-langit agak tinggi. Di depan saya ada lagi pintu lengkung yang rupanya merupakan bentuk standar pintu Museum Bahari. Di setiap ujung lengkungannya ada tulisan ANNO 17_ yang menandakan hitungan tahun. Di sebelah kanan saya ada meja seperti meja information di kantor-kantor yang low budget karena terlihat sangat murahan. Di sebelah kiri saya ada meriam kecil yang diletakkan di lantai, sebuah diorama bertema laut lepas dan kapal-kapal yang sedang berlayar yang menggunakan ilusi optikal sehingga laut terlihat luas dan bergelombang. Diorama ini diletakkan begitu saja tanpa ada penjelasan apa maksud dari keberadaannya. Ada juga batu pualam yang bergrafir tentang sejarah singkat Museum Bahari yang ditanam di tembok tepat di atas meriam.

Dari lobby, di sebelah kiri saya adalah ruangan yang berisi miniatur kapal-kapal pedagang dan kapal-kapal VOC yang dulu mondar-mandir membawa rempah-rempah dari Indonesia ke Belanda. Ruangan ini panjang macam bangsal yang juga berlangit-langit tinggi. Lantai sepertinya bukan lantai asli karena bentuk u binnya terlihat lebih tahun 1900-an. Tiang-tiang konstruksi kayu berbentuk Y yang kokoh menyangga langit-langitnya. Saya merasa seperti di area langit-langit dan kata Pak Liliek Sang Pemandu,” O ya, memang ini sudah langit-langit, karena gedung ini sudah dinaikkan sekitar 2 meter dari permukaan laut karena sering terkena banjir air pasang.” Khusus mengenai Pak Liliek, yang ternyata mengajar bahasa Belanda di Fakultas Hukum UI dan bekerja untuk salah satu di Belanda, saya kagum pada semangatnya berbagi tentang sejarah. Begini seharusnya pelajaran sejarah diajarkan di sekolah-sekolah. Diajarkan oleh orang yang memang ahli sejarah yang menceritakan tentang Daendels dan Jan Pieterzoen Coen seolah ia baru saja bertemu mereka minggu lalu. Oh, Pak Liliek, semoga kau punya banyak murid yang sepertimu.

Kembali ke museum…entah kenapa, miniatur kapal-kapal diletakkan begitu saja di atas box kaca dan dibiarkan berdebu. Di sekeliling tembok ada papan-papan yang bercerita tentang sejarah kota Jakarta. Keadaan ruangan dan kondisi barang-barang bersejarah yang dipamerkan di ruangan lainnya dan di lantai lainnya sama-sama terlihat mengenaskan. Penuh debu, bergelatakan tidak menentu di lantai atau di atas kotak kayu, atau di atas kotak kaca. Barang-barang berharga yang bernilai sejarah tinggi itupun terlihat tidak lebih berharga daripada barang kelontong yang dijual di kios-kios di luar museum. Keterangan-keterangan benda di dalam boks kaca diketik atau ditulis dan ditempel sekenanya pada dinding boks atau dasar boks. Kadang mereka hanya berupa daftar benda tanpa ada petunjuk daftar benda tersebut mengenai benda yang mana. Gambar-gambar ilustrasi atau foto, lukisan-lukisan peta dan tokoh berbingkai kayu murah bergelantungan di dinding tanpa kebanggaan. Demi Tuhan, kalau Anda sering melihat penjaja kaca atau bingkai di pinggir jalan Senayan atau pasar-pasar dan bertanya, siapa pula yang membeli bingkai foto di pinggir jalan begini? Maka jawabannya ada di dinding Museum Bahari.

Lalu mulailah timbul penyesalan dalam diri saya. Penyesalan yang berhubungan dengan takdir rejeki. Kenapa saya tidak terlahir begitu kaya sehingga bisa mengambil alih perawatan museum-museum dan tempat-tempat bersejarah di kota ini saja, kalau tidak bisa di kota lainnya, selama 17 turunan? Kenapa saya bukan orang bule yang ditakuti dan diberi senyuman ramah yang palsu saat yayasan saya ingin membantu menyelamatkan sejarah suatu bangsa? Kenapa bukan saya yang punya begitu banyak uang untuk dihabiskan dan dihambur-hamburkan?

Saya menangis. Saya hampir tidak kuat melihat sejarah bangsa ini berdebu tak terurus seperti itu. Tidak tega rasanya melihat asal-usul ibukota republik ini terlihat begitu murah. Kalah megah dari banyak gedung apartemen yang ter. Kalah mewah daripada kompleks real estate yang paling. Kalah modern daripada handphone anak SD zaman sekarang. Mungkin suatu hari nanti akan ada Museum yang memuseumkan museum-museum di kota ini. Atau museum yang memuseumkan sisa-sisa museum di kota ini. Saya yakin, kalau bukan dibuat dari kayu jati ‘kelahiran’ tahun 1600-an, pintu-pintu dan jendela gedung VOC ini pasti sudah beterbangan entah ke mana. Besi-besi pintu dan jendelanya kusam kelelahan menahan deraan cuaca. Tiket masuk yang bahkan lebih murah daripada biskuit di Starbucks dan semangkuk Mie Ayam itu betul-betul tercermin dari keadaan keseluruhan museum yang mengenaskan. Sekali lagi, Demi Tuhan dan Setan-setan, gedung ini adalah gudang penyimpanan dan pusat administrasi perdagangan rempah-rempah se-Asia tiga ratusan tahun yang lalu. Tidakkah itu sama sekali berharga sesuatu? Tidakkah itu sama sekali berarti sesuatu?

Melihat sekeliling, saya pun sadar, bahwa pertanyaan saya sudah menjadi sangat retorik dan kata-katanya menguap keluar lewat seratus jendela yang terbuka, ke udara di atas laut yang hitam dan kumuh dipenuhi sampah dan di antara kata-kata yang tertinggal sudah menjadi hantu.