The Little Boy Who Has Everything
moneytimebodyhistoryfriendslovelifeexperiencelookssexgirlfriendboyfriendbestfriendexgirlfriendmomanddadandsistersandbrotherandcousinsandauntiesandunclesnedlessendlessendless…
but still he thinks he has nothing
nomoneynotimenobodynohistorynofriendsnolovenolifenoexperiencenolooksnosexnogirlfriendnoboyfriendnobestfriendnoexgirlfriendnofamilyneverthereneverthereneverthereneverthere….
Guilt-Ridden.
“So you just sort of decided?”
“Yes.”
“Why?”
“Why what?”
“Why did you always the one who decides in your relationship.”
“Because…the guy I was with could never decide out of guilt.”
OUCH.
This, is emotional paper cut.
Not bleeding yet but the pain is there.
You’ll feel it when you wash it with water.
Memory, memory is water.
It makes the cut feels real.
Sperma Atau Manusia
Ini seperti perdebatan antara telur dengan ayam. Mana duluan yang keluar. Yang menjadi awal. Seperti manusia. Mana duluan yang diciptakan, apakah Tuhan langsung menciptakan Adam atau entah makhluk apa sebelum mereka berkembang biak, atau Tuhan menciptakan sperma dulu, bermain-main dengannya bak Dr. 90210 dengan gumpalan-gumpalan silikonnya lalu menciptakan manusia? Entah juga. Saya tidak menulis ini untuk memancing perdebatan mengenai cara Tuhan mencipta. Saya hanya ingin sharing. Sharing bahwa menurut saya, lebih baik sperma memusnahkan sperma daripada manusia.
Karena begini ya, saya merasa bahwa sudah waktunya ada seleksi sperma. Memang tidak alami, tapi masih akan sangat lama kalau harus menunggu tsunami. Segala hal yang berhubungan dengan negara ini semakin nggak mungkin diterima akal. Dulu, 19 tahun yang lalu saya yang bahkan belum pernah sekalipun menginjakkan kaki di Bandung, sudah merasa gerah melihat kelakuan manusia-manusia bangsa ini. Pemerintah perlu waktu 5 tahun untuk memasyaratkan sadar helm bagi pengendara motor. Bahkan dulu pun, orang sudah senang membuang sampah sembarangan. Pungli, calo, naik kereta di atas gerbong, menimpuki kereta yang lewat, bis-bis umum yang senang saling serobot, kemacetan yang menggila, orang menyeberang tidak pada jembatan penyeberangan, hwarakadah…Saya sudah curiga bahwa ketololan cara berpikir mereka yang lebih bobrok dari keprimitifan kera akan berlangsung cukup lama, saya hanya tidak menyangka bahwa mereka akan berkembang biak sedemikian cepat.
Jadi menurut saya kuncinya adalah pada sperma-sperma yang tidak sehat. Yang mengandung gen-gen dan kromosom-kromosom yang berkualitas rendah sehingga menghasilkan manusia-manusia yang memang sudah dari sononya berkualitas rendah. Walaupun ada kepercayaan bahwa semua bayi terlahir suci dan murni, hari gini? Bagaimana bisa, bayi yang lahir dari orang tua pengidap AIDS atau pemadat saja bayinya sudah mempunyai bakat AIDS dan madat, maka adalah sangat mungkin kalau bayi-bayi yang lahir dari sperma orang tua yang tidak berkualitas secara mental dan moral juga akan menghasilkan manusia yang sama rendah kualitasnya, seperti misalnya para koruptor.
Selain mereka yang bermoral rendah dan cara berpikirnya jauh dari akhlak dan akal, ada juga orang-orang yang secara fisik mungkin sebaiknya tidak usah berkembang biak. Misalnya ya, orang-orang munafik yang nggak korupsi tapi mulutnya jahat dan akhlaknya nggak lebih tinggi dari lalat, orang-orang yang sok bawa-bawa agama untuk propaganda, para penipu. orang-orang yang berpenghasilan di bawah rata-rata di mana mereka harus selalu berjuang untuk makan hari ini saja. Juga mereka yang terkena musibah bencana alam.
Karena kalau hanya sekedar bayi terlantar atau anak-anak putus sekolah karena kemiskinan dan anak-anak yang dari kecil sudah nggak berkualitas atau telat memiliki kesempatan untuk menunjukkan kualitasnya, negara ini sudah kebanyakan stok. Yakin ya kita masih perlu lebih banyak lagi?
Karena terus terang gue udah capek banget denger orang ngasih alasan klise (udah nggak jaman juga ya secara sekarang sudah era digital, masih penting ya klise?) bahwa kebejatan dan kelakuan mereka yang nggak penting dijadikan alasan untuk menyambung hidup. “Anak gue kan perlu makan.” atau, “Saya kan cuma berusaha untuk bertahan hidup.” atau, “Saya kan perlu uang untuk menyekolahkan anak saya.” atau “Masak anak saya mau saya biarkan terlantar, sih?” atau “Saya nggak tega liat anak saya merengek minta ini itu.”
Jadi itu tujuannya kalian hidup dan punya anak? Biar bisa bikin alasan yang memprihatinkan? Biar bisa punya kambing hitam yang nggak bisa diganggu gugat? Apa nggak sadar ya kalau hidup ini bisa jadi percuma dengan begitu saja? Karena ya, sebenernya, kesusahan hidup lo bukan tanggung jawab orang lain. Koq terus orang lain jadi harus keluar uang lebih untuk mendanai gaya hidup lo yang nggak sehat? Koq jadi masalah orang lain kalau lo yang beranak sembarangan nggak pakai mikirin gimana ntar bakal ngerawatnya? Ini apa sih? Revolusi cara berpikir umat manusia? Ini cuma terjadi di negara ini aja apa nggak sih?
Sinting. Hidup Durex yang menciptakan kondom pembunuh sperma. Negara ini perlu disubsidi kondom. Lupain subsidi pendidikan, toh banyak yang nggak mampu nyekolahin anaknya juga. Toh ntar kalau sudah sekolah mereka juga senangnya nyontek. Daripada terus menerus melahirkan gelombang Generasi P alias Generasi Percuma, mending bunuh saja sperma kalian. Atau bunuh manusianya, terus digantung kepalanya macam suku-suku primitif? Hmmm…itu akan menimbulkan dendam berkepanjangan. Kalau kata saya sih, bunuh saja spermanya. Beres.
Uncategorized | Comment (0)Phases
Forget. Don’t care. Nausea. Numb.
If you kill me now I won’t feel a thing.
Go ahead shoot and spear.
What the hell I’m emotionally disfigured
You can try. You can try.
I’ll help you get the bullseye.
Then it’s bye bye, bye bye
Kau…?
Di mana kau?
Kau hilang. Kau titip pesan
Tapi pesanmu luntur kena hujan
Di mana kau?
Aku pikir tadi kau di sini
Aku pikir itu kau
Tapi ternyata itu aku
Aku yang sedang sibuk ‘berjikalau’
Di mana sih kau?
Masih di sini ya?
Kupikir kau sudah pergi ke sana
Ke mana-mana
Ke mana kau pergi?
Tak tahu. Kau tidak berberita
Kau pergi begitu saja
Astaga, atau mungkin aku yang lupa
Bahwa kau memang sudah tidak ada
Wujudmu ini hanya bayangan belaka
Atau aku lupa bahwa kau memang bayangan saja?
Wujudmu entah ke mana…
Ke mana kau?
Kau mau pergi ya?
Hei, bayangan…
Tunggu…
Tinggallah kau dulu di sini
Janganlah kau lekas pergi
Karena aku…
Aku tak tahu
aku ini di mana
Dan kau ini…
Kau ini siapa…