Mungkin Tentang…

November 27th, 2006

Sepertinya saya sudah tidak bisa menulis lagi. Walaupun saya ingin menulis banyak sekali. Tentang supir-supir bajaj yang sopan dan mengerem dengan cantik, tentang supir-supir taksi yang sialan, tentang pengendara-pengendara motor yang menurut saya lebih baik dimusnahkan, tentang perselingkuhan, tentang lamaran dan pernikahan para sahabat dekat, tentang perceraian, tentang akhir dunia ini dan tentang akhir manusia. Ah. Terlalu berat. Mungkin saya hanya perlu berlibur. Menjauhkan diri dari banyak hal yang rutin. Seperti misalnya rutinitas menjadi diri saya sendiri. Maka kadang saya ingin menjadi debu saja, atau burung, atau asap knalpot bis-bis ibukota dan membunuh pengendara motor yang menyebalkan seketika, atau pisau dan peluru-peluru panas yang menjebol jantung para koruptor seperti mereka menjebol moral dan rekening uang negara. BROL. Begitu mungkin kira-kira bunyinya ketika saya menjebol jantung mereka.

Mungkin saya hanya bosan dan perlu bermesraan dengan kekasih saya tanpa kenal waktu, lapar dan haus. Tapi tidak juga. Saya juga ingin hidup kembali. Menjadi baru. Menjadi ‘aku’ yang tenang, yang tidak terlalu banyak berkeinginan, yang hidup tanpa rasa khawatir, tidak, tidak, bukan rasa takut,… ok, baiklah, mungkin sedikit rasa takut, tapi takut yang wajar saja, seperti halnya takut pada Tuhan atau pada waktu yang tidak pernah kembali. Ah, apa sih? Tapi yang jelas, saya ingin lahir kembali. Terinkarnasi. Dengan begitu mungkin saya akan lebih senang hidup. Lebih baru. Lebih menarik. Walaupun sebenarnya sekarang pun masih banyak yang belum teralami…

Mungkin juga saya sebetulnya muak saja. Huek. Muak dengan mimpi-mimpi buruk. Muak menjadi orang yang punya perasaan. Muak menjadi diri saya sendiri. Tiba-tiba saya ingin membelah diri seperti sel. Saya merasa saya ini sebetulnya penyakit mag, bukan manusia seperti halnya manusia lain. Karena saya adalah kemuakan diri saya sendiri. Berlari sepertinya bisa membantu. Ya, saya memang harus lari. Lari yang jauh, seperti Forest Gump.

Bagaimana ini? Banyak betul keinginan saya? Mmm…mungkin…mungkin…,saya curiga…mungkin sebetulnya saya hanya jatuh cinta…mmphh…

Hari Yang Bukan Aku

November 27th, 2006

Hari ini aku adalah petir
Karena kata-kataku bermuatkan sihir
Dan membuat banyak orang khawatir

Hari ini aku adalah bajaj
Bunyi mesinku tak karuan ramai
Walau gas diinjak, tujuan tak juga sampai

Hari ini aku adalah debu
Setiap butirku pecah lagi jadi seribu
Dan dengan mudah musnah oleh lap si babu

Hari ini aku adalah burung
Terbangku jauh hingga ke ujung
Dan pulangku hanya jika langit mendung

Hari ini aku adalah apa saja
Apa saja yang bukan ’saya’
Karena semua hanyalah tipuan belaka

Hari ini tidak ada aku
Dan segala suara pun menjadi gagu
Karena dunia sudah menjadi batu

Tikus Itu Aku.

November 20th, 2006

Aku hancur. Aku hancur seperti tikus jalanan yang mati terhajar mobil di tengkoraknya duluan. Terkapar tanpa identitas di aspal. Darahku berceceran ke mana-mana. Otakku menempel pada ban dan terbawa entah ke mana. Mati. Tak bernyawa. Tubuhnya terkoyak berantakan. Tidak ada yang ingin memindahkan. Tidak ada yang ingin menguburkan. Tidak ada gunanya. Sejarahku menempel pada aspal berhari-hari lamanya sebelum akhirnya menjadi debu. Menempel pada ban-ban kendaraan dan tukang jualan, pada sol-sol sepatu yang lalu lalang. Sebelum akhirnya menjadi debu. Mungkin aku menyusup di nafasmu. Membuat matamu kelilipan. Atau tenggorokanmu gatal tersedak. Karena aku sudah menjadi debu. Seperti sisa tikus jalanan yang mati terhajar mobil tepat di tengkoraknya.

The Lipstick Trees

November 18th, 2006

Pssst!

The world is quiet. The trees are wearing colorful and glittering lipstick. Of orange and red. Are they selling tonight? What are they dressing up for? Is it to make them braver trees. Against the dark that’s now down on its knees.
“The president is coming!” they shout. “We’d rather like the rain that’s coming, but president is what the world can give us so far.”

Mirror Mirror on The Google

November 16th, 2006

Have you ever googled your name? Try it. Be amazed of what you might find. My name is Nataya. I’m a designer, I write, I draw and I work in entertainment. And yesterday, I googled my name. You see, almost all my life after I’ve learned geography and decided to like painting and drawing, people often asked me whether I came from Thailand or say something like, ‘Ah, like Basuki Abdullah’s (one of Indonesia’s most prominent painter) wife’s name is it?’ I usually gave them a polite smile and a no. But little did I know that a person somewhere was going to discover internet and make that one of the most incredible achievement in 20th century. Because through it I found out that if you google your name, you can find what matches it and show them in pages. In this respect, my name produced 60 or so pages that lead to 3 categories. A designer, a writer and a nude model. In a minor categories, it varies into transvestites, singer, sex addict, characters in a novel or a short story, dentist, mostly comes from Thailand, Russia, Japan and Australia. And I thought to myself that all this time, everyone is right. Maybe I am from Thailand and maybe, I am destined to be artistic and creative. How many chances are there for any other Nataya in this world doing things within a similar principal I’m doing? It’s bizarre.

What’s even more bizarre is that, in an extinct Peruvian dialect, my name is a word that completes the sentence ‘Merry Christmas’ in the Amuesha’s dialect. It goes something like, ‘Yomprocha ‘ya’ nataya’. The Amuesha dialect is a part of a Maipurean language of the native Peru and is still spoken by some 4000-8000 people who now reside in the protection forest area of San Matias - San Carlos. Interesting. I guess it now explains my certain attraction to crosses. I have a thing for crosses. I adore crosses. Although I’m a moslem, but to me, crosses are just artistically adorable. It suits any kind of self expression and inevitably fashionable.

But as to my name, I would never suspect that my mom and my grandpa knew anything about Thailand and the transvestites, Google, nor Russian designer nor a singer from Greece on the day they decided to name me Nataya. It’s like having a split personality and watching them taking control of your life doing way better than I am everywhere else in the world.

Sang Tu(h)an

November 14th, 2006

“Apa itu?”
“Ini? Kerudung Tu(h)an.”
“Bagus. Bagus. Apa gunanya kerudung itu?”
“Untuk menutup auratku Tu(h)an.”
“Aurat? Aurat yang mana?”
“Leher, telinga, rambut, Tu(h)an.”
“Hm?”
“Oh, eerr…dan tangan, dan lengan…”
“Kau tidak kepanasan?”
“Ya,…panas Tu(h)an. Tapi ini perintah Tu(h)an.”
“Perintah siapa?”
“Perintah agama Tu(h)an.”
“Apa yang terjadi kalau auratmu sudah tertutup?”
“Saya masuk surga Tu(h)an. Aman. Tidak akan diperkosa dan digoda lelaki yang bukan muhrimnya, Tu(h)an. Karena ini bagian dari ibadah saya Tu(h)an.”
“Kau sudah lama beribadah?”
“Sudah Tu(h)an. Sejak kecil. Membaca kitab suci dan sembahyang. Dalam waktu-waktu yang sudah ditentukan di kitab suci Tu(h)an.”
“Hmm…apa kau sudah berbuat baik juga untuk sesamamu?”
“Sudah Tu(h)an. Saya rajin menyantuni anak yatim dan piatu. Membayar zakat. Dan…bersedekah Tu(h)an.”
“Bagus. Bagus. Perbuatan yang baik. Apa kau sudah berbuat baik juga pada alam? Binatang?”
“Maaf Tu(h)an, alam, Tu(h)an?”
“Ya, alam. Alam tempat kau berpijak ini. Hutan. Gunung. Laut. Perbuatan baik apa yang sudah kau perbuat untuknya?”
“Maaf Tu(h)an…saya kurang begitu mengerti maksud Tu(h)an.”
“Kurang mengerti? Apa agamamu tidak mengajarkan untuk juga berbuat baik kepada alam ini?”
“Mengajarkan Tu(h)an. Kami diajarkan untuk berterima kasih atas pemberian-Nya.”
“Hmmm…berterima kasih saja? Tanpa berbuat baik?”
“Misalnya Tu(h)an?”
“Misalnya, sudahkah kau baik pada tanah dengan tidak membuang sampah sembarangan?”
“Saya tidak ingat Tu(h)an. Mungkin sudah. Kalaupun belum, saya sudah selalu mendoakan mereka Tu(h)an.”
“Dan menurutmu, doamu bisa mencegah kebakaran hutan, banjir, musnahnya makhluk-makhluk yang menjaga keseimbangan alam, rusaknya terumbu karang?”
“Tu(h)an…”
“Sudahkah kau baik pada udara dengan mencegah polusi dan pembakaran hutan tempat berbagai makhluk hidup tinggal?”
“Errr…”
“Sudahkau kau baik pada laut, sungai dan danau dengan tidak membuang sampah dan limbahmu ke sana?”
“Tapi itu bukan pabrik saya, Tu(h)an. Dan itu belum tentu semuanya sampah saya, Tu(h)an.”
“Apa agamamu tidak mengajarkan dan memerintahkan itu?”
“Agama saya memerintahkan untuk mendoakan keselamatannya dan berterima kasih atas pemberiannya,Tu(h)an.”
“Dan menurutmu itu cukup?”
“Cukup Tu(h)an. Maaf, saya belum mengerti, apa hubungannya ini semua dengan saya, Tu(h)an?”
“Belum mengerti? Katamu tadi kau seorang ibadat yang taat. Kau berkerudung, berdoa bersembahyang dan menyisihkan sebagian hartamu untuk fakir miskin dan mereka yang memerlukan, tapi kau tidak mengerti percakapan ini?”
“Betul Tu(h)an. Saya tidak mengerti.”
“Mengapa kau beribadah?”
“Supaya masuk surga Tu(h)an.”
“Masuk surga karena apa?”
“Karena saya sudah menjalankan perintah agama saya Tu(h)an.”
“Begitu ya? Jadi kalau tidak diperintah, kau tidak menjalankannya?”
“Err…yaa…tidak Tu(h)an.”
“Ke mana akalmu? Apa yang menurutmu harus kau lakukan tanpa perintah agamamu?”
“Saya kurang tahu Tu(h)an.”
“Hmmmmh…”
“Errr…ya…hidup Tu(h)an, dan bekerja. Membantu orang yang kesulitan. Berbuat baik kepada sesama…”
“Karena apa?”
“Karena…karena…itu yang membedakan kami dengan binatang Tu(h)an?”
“Dan kalau tidak tercipta binatang, apa yang akan kau jadikan pembandingmu?”
“Tidak tahu Tu(h)an…”
“Mengapa kau lebih banyak tidak tahunya? Kau ini nanti akan menjadi ibu dari anak-anakmu. Apa yang bisa kau ajarkan kepada mereka kalau kau selalu tidak tahu?”
“Saya akan mengajarkan mereka untuk berbuat baik kepada sesama, Tu(h)an, dan…dan menjadi anak yang berbakti kepada orang tuanya, Tu(h)an. Rajin beribadah, serta menjadi anak yang bisa menjadi penerus keluarga dan membawa nama baik…”
“Apa kau tidak akan mengajarkan mereka membaca dan berbuat baik kepada alam?”
“Oh, yah, itu juga, Tu(h)an. Membaca kitab suci dan menuruti perintahnya.”
“Lagi-lagi perintah yang kau bawa-bawa. Kenapa kau senang sekali diperintah?”
“Karena hamba ini kaum yang lemah, Tu(h)an.”
“Apa kau tidak punya keinginanmu sendiri?”
“Err…Tu(h)an…?”
“Apa keinginanmu sebagai dirimu? Berkerudung?”
“Err…mungkin tidak, Tu(h)an…”
“Masuk surga?”
“Iya, Tu(h)an. Masuk surga.”
“Karena apa?”
“Karena saya sudah menjalankan perintah sesuai di kitab suci, Tu(h)an.”
“Lagi-lagi kitab suci dan perintah. Sudah kau baca betul rupanya kitab sucimu itu ya?”
“Mmmm…belum, Tu(h)an.”
“Lalu bagaimana kau bisa yakin bahwa kau sudah menjalankan perintahnya betul-betul?”
“Karena pemimpin kami, Tu(h)an. Beliau sudah membaca betul kitab dan memerintahkan apa yang dibacanya dari kitab suci kepada kami.”
“Dan kau percaya mereka?”
“Percaya, Tu(h)an.”
“Kalau kau percaya TUHAN kenapa kau tidak menjalankan perintah TUHAN?”
“…?!?!…”
“Kenapa masih kau berlaku bodoh? Menjalankan perintah dari sesama manusia tanpa memikirkan asal usul perintahnya. Kenapa kau cemooh manusia yang bukan golonganmu? Kenapa kau cemooh alam dengan tingkah lakumu yang sembarangan? Kenapa kau cemooh binatang dengan menelantarkannya? Mengapa kau cemooh kitab sucimu dengan mengagungkan atribut hanya demi masuk surga? Mengapa kau cemooh bayi ciptaan Tuhan yang tak berdosa dengan tidak mengajarkannya budi pekerti dan sopan santun? Mengapa kau cemooh TUHANmu dengan berbagai kemunafikan dan tipu daya?”
“Tu(h)an…?!?!?!?”

The New School of Advertising: Tukang Ojek

November 13th, 2006

“Pagiii…!”
“Ojek, neng!”
“Lisa! Titi! Dina!” (dan panggilan-panggilan nama karangan lainnya yang dibuat hanya untuk menarik perhatian, dan bukan karena kenal)
“Morning!”
“Hello, Miss!”

dan sebagainya dan seterusnya begitu sapaan-sapaan nggak penting yang dilontarkan para tukang ojek tikungan gang deket kos-kosan saya setiap pagi. Sudah setahun saya ngekos di tempat itu, dan setiap pagi kalau saya lewat di jam ‘off-peak’ mereka, mereka pasti mengeluarkan seruan-seruan nggak penting itu setiap hari. Seorang kenalan saya pernah berkata, ‘Bayi itu nggak pernah ada yang ngajarin kapok, kalau ada, pasti mereka udah nggak kepengen nerusin belajar jalan karena kalo belum bisa jalan kan pas jatoh sakit, kapok, males deh jalan.” Dan itu terbukti dari kelakuan para tukang ojek yang mangkal di tikungan pertama setelah rumah kos saya ini. Mengingatkan saya dengan hard sell advertising dan Creative Director iklan paling senior yang juga mentor saya yang pernah memberikan contoh sama mirip dengan yang hampir setiap hari terjadi pada saya di atas tadi.

Baiklah, saya ceritakan sedikit tentang daerah kos-kosan saya. Daerah kos-kosan saya terletak di pinggiran Jl. Bangka masuk-masuk ke dalam gang yang buntu. Gang utama yang menuju kos agak lebar tapi ada kali kecilnya yang selalu meluap kalau hujan deras. Komentar orang-orang kalau mereka tanya saya kos di mana pasti langsung, “Waduh, itu kan daerah banjir!” Iya memang. Tapi murah dan bersih. Lagipula kalau banjir, saya masih bisa menginap di kantor. Dan pulang jam 3 pagi, karena biasanya sekitar jam itu, air sudah kembali surut. Anyway, rumah kos saya ini nyaman, selain juga bersih. Saya senang kamar saya yang ceiling-nya tinggi dan lemari built-in-nya yang masuk ke dalam tembok. Jadi space bergerak saya juga luas. Anak-anak kos lainnya kebetulan teman saya semua, karena dulu, Ibu Kos almarhumah, nggak pernah mau terima anak kos yang bukan temennya anak yang udah ngekos di situ. Takut kabur kali yah. Hari gini, kan biasanya orang suka ‘berolah raga lari’ kalau tertimpa masalah yang sifatnya bulanan dan berhubungan dengan uang.

Nah, nggak jauh dari rumah kos adalah tikungan ke gang besar yang di mana, para tukang ojek suka ngumpul karena lokasinya yang adem. Mereka inilah yang selalu saja mengeluarkan sapaan-sapaan nggak penting setiap saya lewat. Saya selalu lebih suka jalan daripada diantar teman untuk ke ujung gang. ‘Kan jauh. Udah lah, gue anter aja.’ Saya selalu bilang terima kasih, tidak perlu. Karena saya lebih senang jalan. Lebih senang melihat-lihat tukang jualan apa yang berkeliling pagi ini, sedang main apa anak-anak kecil yang saling bertetangga dan berlari-larian pada jam segini. Dan ibu-ibu atau pembantu-pembantunya yang sibuk berbelanja sayur. Saya menikmati pemandangan yang buat saya masih manusiawi. Masih organik. Walaupun risikonya adalah teguran-teguran nggak penting geng tukang ojek yang nongkrong atau pandangan orang-orang yang bingung ngeliat dandanan saya yang aneh. Tapi biarin aja. Saya mungkin bisa memberi sesuatu yang berbeda pada pengalaman mereka memandang manusia lainnya seperti halnya saya merasa menerima pelajaran yang berguna tentang kesederhanaan hidup mereka sehari-hari.

Maka saya pun meneruskan perjalanan saya. Sekitar 200m dari tikungan pertama ada pertigaan yang menuju ke jalan buntu dan gang lainnya di daerah situ, di pertigaan ini ada lagi kelompok ojek lain. Nggak seperti ‘geng’ yang di tikungan, kelompok ojek di sini lebih cuek. Lebih tua-tua dan berpendidikan kayaknya. Karena setiap pagi kalau saya lewat, mereka pasti sedang membahas berita hari ini atau berita kemarin atau kejadian-kejadian penting seputar negara yang nggak jelas ini. Dan mereka nggak pernah mempedulikan kehadiran saya. “Kemarin aja kan presiden ngomong tuh di tipi, katanya kalau sampai abis lebaran no soal lumpur kagak beres juga, pemerintah mo bertindak. ‘Ni udah kelar lebaran ya masingaja tu lumpur mikin kagak keruan kan? Gua bingung dah ama pemerintah.” Bukannya saya nguping, tapi biasalah, mereka kalau bicara memang keras. Bukan dimaksud supaya saya dengar juga, tapi memang karena mereka sudah tua semua. Kadang Pak Satpam bergabung, tapi biasanya kalau ada Pak Satpam, obrolan berubah jadi soal gosip keamanan warga dan siapa yang baru kemalingan atau kabar sakit.

Saya sering senyum-senyum dalam hati setiap kali jalan dari rumah kos ke ujung gang untuk menunggu bajaj. Saya berpikir bahwa terbukti memang cara berpikir manusia makin majemuk. Beda 200 meter aja cara berpikirnya udah beda. Saya lebih sering mendengar seruan-seruan nggak penting keluar dari mulut geng tukang ojek yang muda daripada geng yang lebih tua. Yang tua-tua sering menyapa anak-anak kecil dan orang tua yang adalah warga situ juga, dengan panggilan akrab. Yang geng muda lebih sering mengganggu orang-orang yang juga muda yang lewat-lewat di situ. Nggak ada isinya. Dan sama sekali nggak penting. Kalau di advertising, yang satu hard sell yang lainnya soft sell. Jelas yang hard sell itu ngeganggu dan nggak bikin kita tertarik sementara yang soft sell lebih bikin kita ingat pakai hati. Sesuatu yang selalu, SELALU diabaikan oleh sekelompok orang gila yang disebut CLIENT. Karena saya, nggak akan pernah nengok atau menyapa kembali geng ojek yang rusuh dan ribut itu sedangkan, saya berkontemplasi, bahwa mungkin saya akan mengganti spot menunggu bajaj saya menjadi di sekitar geng ojek yang tuaan supaya pada suatu waktu mungkin saya bisa nimbrung ngobrol sama mereka.

Yang membuat saya berpikir, bahwa sebetulnya memang nggak usah jauh-jauh, muluk-muluk atau ribet-ribet belajar bikin iklan dan pakai cerita apa untuk menyampaikan maksud dan pesan produk kepada pembeli. Cukup buka pintu, lihat kiri kanan. Perhatikan orang-orang sekitar kita. Kalau ada yang kembali memperhatikan kita lalu mereka berkomentar, anggap saja, bahwa mereka sudah menerima pesan yang ingin kita sampaikan tanpa harus menjadi hard sell seperti mereka.

‘Ojek, Neng? Neng? Ih, nggak denger neng-nya. Ojek, Neng?’

Where’s Wally With My Heart

November 13th, 2006

Where’s Wally Where’s Wally?
Playing Where’s Wally with my heart
Does it disappear with fart?
Or is it sinking down to my belly?

Where’s Wally Where’s Wally?
I can’t tell where it’s hiding
Is it my heart saying when I feel what I’m feeling?
Or is it merely an emotional anomaly?

Where’s my heart where’s my heart?
Is it hiding under the sweet mushy love-tart?
Or reflected in the form of my art?
Or can I buy a new one in a mini mart?

Coz I’m playing Where’s Wally with my heart
I’m disguising something else to make it looks the part
It has the shape of a heart
And the beating of a race cart

Is it my heart? Is it my heart?
When I feel it piercing a bullseye like a piece of dart
When I feel it prancing around in the yard
When I feel it breathing so hard?

Life-like Effigies.

November 13th, 2006

At awe of how alone I manage to feel in the midst of this hip-hip hooray world surrounding me. Hey, you! You’re wearing the latest cop out of designer’s bag you bought for half the prize ot its original shopping bag’s prize. Does it make you feel fulfilled? And you. You’re looking like you just stepped out of the fashion page of a posh lifestyle magazine. Does it make you feel justified? You, you’re standing too close to me, you’re breathing my air. O, wait. Was that your car? If I managed to have a car like that, I’d definitely make sure I’d have the manner to go with it. I saw you littered your cigarette butt on the street. That’s right, I saw you. And you on the motorbike. Who just overtook from the left and ran through the red light after successfully drove by on the pavement. You are so brave, aren’t you? So ahead of everybody else? So there-first? So advanced? Does it make you feel satisfied, bigger than God? You, with o-so-many maids trailing about your hind, your child’s hind, you child’ maid’s hind, to look after your own baby when it cries, shits and pees or even hungry, to pick up things after you while you are there sitting watching TV cosily flipping through the chanels. Does it make you feel rich and pampered like a Cinderella gone wrong?

At awe of how alone I manage to feel all the time I’m surrounded with human beings. Ridiculous bunch of flesh in their worshipped cloth and material symbolisms. Ridiculous bunch of mortal effigies.

At awe of how alone I always successfully manage to feel, even when I’m happiest and successfully at peace when I’m amongst strangers whose language I can’t translate.

She, Has Left The Building.

November 13th, 2006

No message.
She has probably left the building.
Looking for another life. Another hope. Another self.
She had done enough.
Enough for her to stand by him.
Enough for her to tell herself that, yes, he would understand. He would somehow realize that nothing is forever. And that it could happen any day now.
Enough for her to stay beyond her mean. Beyond her limit. Beyond her thought could bear.

She left. She left. She left.
When she left she rarely looked back.
But she always left with a smile. And a little thud that hit one’s tummy with pain that stayed for a day or two.
She’d give no warning. No hint. It would be decisive and she’s the maker. It would be obsolete. Nothing changes her mind.
Not even love. Nor happiness. When she left, she left.

Because she’s always happy everywhere else as much as she’s happy here. She’s always as happy with anyone else as much as she is with him. But the clock is ticking. In her head. It wakes her up when she sleeps. It wakes her up in her dreams. It weights her steps. It’s thudding furthermore, not ticking anymore. Each seconds more persistent than the last one. Thud. Thud. Thud. Thud. Thud. Thud. It’s even thudding in her stomach when she’s awake. And smiling consciously. Talking socially. Laughing politely. Thud. Thud. Thud. Thud…

And today she’s no more. Left the building and no message. And I, standing here by the edge of what once her space, thinking, hey…it *is* her message.