PINK RIDDLE

June 29th, 2006

What is transparant, sticky like glue
Out of shape, mistaken for blue
Fills up all the right spaces
And touches on all the right places?

Click and Snap

June 28th, 2006

He asked, “Do you believe that there’s a reason to everything that happens in this world?” I said,”Yes. That’s why I don’t grief over natural catastrophies that have been lashing out my country. In random, I thought that it’d have to do with how almost so overpopulated we are.” Shellshocked, he asked again,”Did you mean the tsunami and the earthquakes?” “Yes. I did. The way I see it, we’re still about 100 million people too many.” He laughed in disbelief and said,”My God, that’s an awful thought!” “Yeah, I know. But, if you’ve lived long enough in a country like mine as a born citizen, you’d know what I meant. But you know, it’s just me. Lord probably secretly punish me every now and then for my insane random thoughts. And that’s when I know that my day isn’t going well.” I shrugged and he stared at me still. Shocked. But offered me a drink anyway. And that, I believe was the reason why anything happened at all, minutes later.

Minutes later we were still talking. And exchanging glances and conversation about coffee and favorite body parts. It was a moment where you’re sure you hear a ‘click’. And days later I’ve started to believe that we ran into each other for a reason, in which then continue on my believing that there’s also a reason why we have to be so freaking far apart. Why?

Why? Not even once. There has to be a reason that I should easily believe why all this seems like a cruel cosmic joke every single time. Once. I just want once and for all.

There has to be a reason why we click but can’t be around each other and for crying out loud! God! If you’re there at all. I need You to explain to me Your reason, like a 5 years old, and You really have to make me believe - why is it every time I hear the click, it comes back snapping at me. You freaking fate, you.

(”Give her one snap for each insane random thought she has!” commands a voice from afar)

What Is It Which One?

June 26th, 2006

Did you fiind true love? A man asked.
Hm. I thought I did, or I wished I had
But I must have lost it because I only felt it
And have not touched it.

But what is true love?
Is it the one that doesn’t lie?
Or the one that always says goodbye
yet it stays in your heart ’till the day you die?

Or is it the kind that makes you happy?
Beyond today and eternity?
The kind that makes you all tingly
when it whispers your name so sweetly?

Or is it the one that touches your soul?
And together you want to grow old
And have the ever so long term goal
Like traveling far to the North Pole?

What is it which one?
I’m so confused, I need a magic wand.
Because they say true love is not soul mate
and twin flame is better than great

Oh, such a puzzle
Like diamonds they dazzle
Will I ever find it
and when do I know when it fit?

I’m imagining fate
when all I need is a simple date
With a man like James Bond
So for once I won’t have to lead on

All for true love
As white as a dove
Freaking true loves
Or should I just buy me some gloves?

James Bond

June 26th, 2006

Saya duduk di sebelah kanan adik iparnya adik saya, Zoe. Di ujung meja sebelah kanan, ada Len, ayah Zoe, yang adalah ayah tiri dari Hugh, suami adik saya. Di seberang saya adalah Freya, ibu mertua adik, dan di seberang Zoe, yang berarti di sebelah kanan Freya, adalah Hugh, adik ipar saya, suami adik saya, Asti. Asti duduk di ujung meja sebelah kanan. Waktu itu kami semua sedang makan malam untuk merayakan keberadaan saya sekaligus kepergian saya kembali ke Jakarta pada keesokan harinya. Restoran yang dipilih adalah 3Weeds yang pada signage-nya bertanda ‘Chef’s Hat’, yang artinya, restoran ini sudah lulus kategori restoran terenak dan terpercaya di seantero Sydney.

Memang betul. Sejak masuk kami sudah disambut seorang M’aitre D yang sopan dan ramah, dan berambut merah ala Heidi dengan kulit sedikit pucat dan pipi yang memerah karena hangatnya heater dalam ruangan. Bahasa Inggrisnya pun sangat keinggrisan dengan aksen Inggris macam di film-film James Bond, semakin menandai perbedaan kelas restoran ini dengan restoran lainnya. Interiornya hangat dan cukup ramah. Sama sekali jauh dari kesan sok moderen yang minimalis macam interior umumnya restoran-restoran mahal yang akhirnya malah jadi kelihatan generik karena tidak spesifik. Justru tempat ini sengaja memakai kayu-kayu besar untuk kursi dan mejanya untuk di ruang depan dan kursi serta meja standar untuk ruang dalam. Secara keseluruhan, interiornya kata adik saya mengingatkan dia sama restoran-restoran di Aspen atau restoran di tempat-tempat wisata salju Eropa. Dan lagi-lagi, saya ingat film James Bond.

M’aitre D menggiring kami ke meja di ruang dalam. Boleh saya katakan, walaupun meja dan kursinya standar dan sederhana, tapi hitungan tinggi dan lebarnya sangat tepat dan terpilih. Jarak antara meja dan kursi sangat pas sehingga kita tidak perlu membungkuk untuk makan atau merasa pegal-pegal dan kembung di perut karena setiap kali hendak menyuap harus memposisikan badan kita lagi karena jarak yang kurang pas. Saya berpikir, berapa harga untuk segelas air putih di tempat ini, atau secangkir kopi atau semangkuk mash potato. Tentunya tidak murah. Mental orang susah saya tiba-tiba muncul dan jadi nggak enakan untuk memesan. Kebayang mahalnya. Saya jadi ngeri sendiri. Dan kebayang paniknya kalau tiba-tiba saya yang disuruh bayar. Ampun Tuhan, ampun. Jangan sampai mental orang susah saya ini merajai saya.

Mata saya mencari makanan yang harganya paling murah. Yang ternyata adalah side order yang itu pun juga cukup mahal, walaupun masih di bawah $10. Dan ternyata lagi, makanan di menunya cuma ada 6 macam. Dengan spesialisasi makanan khas Australia yang dimasak secara high cuisine, seperti Lamb chop, ikan baramundi, steak, dan makanan itali seperti risotto. Di lidah saya sudah terbayang enaknya dan betapa akan sangat nyenyaknya tidur saya malam nanti. Masing-masing memesan makanan yang berbeda dengan tujuan saling mencicip nantinya.

Berhubung ini restoran high cuisine, tentunya semua jenis masakan memerlukan persiapan yang tidak cepat. Belum lagi penataannya dan ego sang tukang masak yang menginginkan semua yang keluar dari pintu dapurnya terlihat ‘beyond perfect’. Maka, selama hampir 40 menit kami pun saling bercerita tentang kegiatan sehari-hari, tentang kabar baik dan kabar buruk, tentang teman-teman, tentang pernikahan sahabat saya 2 hari sebelumnya, tentang wine (untuk yang ini saya hanya menyimak), tentang properti (ini juga saya hanya menyimak dan menyempatkan diri ke toilet), tentang tujuan liburan mereka berikutnya, tentang orang tua saya, tentang seni dan pameran serta festival film yang sedang berlangsung di Sydney. Kami juga foto-foto sedikit untuk mengenang momen sekaligus membuktikan bahwa saya sudah pernah makan di restoran yang TER-bonafide di seantero Sydney. Senangnya. Saya jadi merasa sedikit spesial.

Sementara saya menyimak adik saya dan ‘keluarga Australia’ saya bercakap-cakap, saya mencoba membayangkan diri saya yang saat itu berada di situ dengan tambahan satu orang lagi, yaitu suami saya. Satu persatu wajah mantan-mantan saya muncul di dalam otak saya sambil sesekali muncul pula wajah James Bond. Tidak ada yang cocok. Mungkin James Bond. Skenario ’seandainya’ bermain di dalam kepala saya. Dan saya berkesimpulan, bahwa…siapapun nantinya orang yang menikah dengan saya, dia haruslah orang yang juga mengerti berbagai macam jenis keju atau setidaknya tahu bahwa keju itu tidak hanya ‘jenis Kraft’. Hm. Tidak, yang paling penting adalah, bahasa Inggrisnya harus cas cis cus. Mengalir kayak air dengan perbendaharaan kata yang cukup mengesankan dan tidak melulu ‘cool’ atau ‘great’ dan ‘fine’. Adik ipar saya sedang menceritakan tentang kantor barunya yang lebih besar dan ada jendelanya. Lalu topik pun berganti menjadi properti. Lalu saya berpikir, suami saya nanti juga harus sadar properti. Setidaknya, dia harus bisa memberikan satu dua pendapatnya tentang properti. Atau mengomentari rasa wine yang sedang kami minum dan membandingkannya dengan wine yang sudah pernah dia minum. Lalu saya pun tersadar…perjalanan saya masih panjang dan agak sedikit berat. Di mana saya bisa menemukan seorang pria yang memiliki kualitas seperti itu? Setidaknya sama sejajarnya dengan kualitas adik ipar saya. Maksudnya, saya kan inginnya kami semua bisa bersosialisasi dengan baik tanpa harus ada yang merasa dikucilkan. Tidak baik untuk egonya dan untuk kesehatan hubungan kami. Maksud saya, hubungan saya dengan adik saya dan adik ipar saya cukup dekat dan kami bisa mengerti satu sama lain dengan baik, saya, mama dan papa juga nggak mungkin dipandang dengan sebelah mata karena kami bisa dibilang keluarga yang berkualitas. Lagi-lagi, karakter James Bond terlintas di otak saya.

Maka akan jadi sangat berat untuk saya jika suami saya nanti adalah seorang yang biasa-biasa saja walaupun baik, berpenghasilan cukup dan bisa menghargai hak-hak saya sebagai seorang Nataya, soleh dan taat beragama, atau hampir ahli Quran, tapi bahasa Inggrisnya nggak lancar dan kaku, kurang pandai bersosialisasi, tidak suka makan keju, dan susu adalah musuhnya hanya karena dia merasa dia ‘bermental Asia’ oleh karenanya teh itu adalah air putih merangkap susu. Dia juga harus seseorang yang suka dan pernah berlibur ke tempat-tempat yang memerlukan paspor, atau setidaknya berlibur ke tempat yang memerlukan penerbangan atau setidaknya liburannya ke tempat-tempat menarik yang bisa diceritakan kembali ke orang lain. Saya pikir juga, akan lebih baik lagi kalau suami saya nantinya juga menguasai bahasa lain selain bahasa Inggris dan memiliki hobi. Tidak harus golf atau berlayar, tapi hobi yang cukup menarik seperti berkebun atau bermain musik. Ada baiknya juga si suami ideal ini nantinya menyenangi konser musik atau menyambangi galeri dan museum, karena musik dan seni adalah sesuatu yang universal dan oleh karenanya selalu baik jadi topik percakapan makan malam atau sekadar acara kumpul-kumpul… Lalu…

Pelayan datang membawakan makanan kami. Benar saja. Makanan datang. Wangi dan terlihat sangat enak dan indah dan porsinya yang pas membuat air liur semakin membuncah. Didesain dan dimasak dengan kebanggaan sendiri oleh si tukang masak. Saya seperti berada di dalam acara Discovery Channel Travel & Living. Bukannya makanan di restoran mahal di Jakarta tidak didesain dan dimasak sebangga ini oleh si tukang masak, tapi rasanya beda kalau makan makanan gaya bule gini di tempat aslinya. Kayaknya semua jadi lebih ‘believable’. Yang kurang cuma si pembawa acara yang menjelaskan tentang makanan sebelum menutup acara dengan kalimat, “Selamat makan!”

“Selamat makan!” Kata Len, mertua adik saya. Dan kami pun makan. Obrolan berlanjut seputar bagaimana harimu hari ini dan saya pun menyadari, bahwa saya mempunya tugas yang berat untuk diri saya sendiri. Yaitu mencari suami yang setidaknya setara segala-galanya dengan saya kalau tidak bisa lebih. Yang juga bisa sesekali membayari acara makan-makan seperti ini. Yang articulate dan tahu sopan santun serta table manner. Yang jari kukunya bersih dan terawat. Yang tahu kapan harus bicara politik, properti, bunga, ekonomi, musik, seni, lawakan, dan macam-macam keju serta ikan atau wine. Yang sopan dan berbusana baik, walaupun baju-bajunya bukan baju yang bermerek mahal atau terkenal. Yang tidak muncrat kalau ngomong dan tahu kapan harus memuji dan kapan harus mengomentari. Yang jelas, dia harus berpendidikan. Berpendidikan itu bukan hanya sekadar lulus dari perguruan tinggi anu dan itu, tapi mengerti apa ilmu yang dipelajarinya sewaktu di sekolah dulu dan tahu bagaimana memanfaatkannya setelah sekolahnya selesai.

Dan yang jelas, dia juga harus seorang yang bisa mengimbangi saya, menghargai saya sebagai seorang individu, dan menghargai keluarga saya dan tentunya menghargai dirinya sendiri dengan menjadi orang yang tidak pernah berhenti menikmati hidup ini dengan terus berkarya dan menghargai pekerjaannya. Karena saya ingin memiliki keluarga yang sehat, baik secara rohani dan jasmani. Dan sehat rohani itu banyak ditentukan dari sehatnya ego si suami juga, yang makanya haruslah dia seseorang yang bisa menghargai dan mengimbangi kehidupan keluarga saya dengan segala keanehan, kelebihan dan kekurangannya. Karena setelah saya pikir-pikir lagi, sekadar mencari suami yang soleh dan sayang sama saya itu sama sekali nggak cukup.

Kami semua telah selesai makan dan masing-masing memuji dan mengomentari betapa nikmatnya makanan kami tadi. Pelayan menawarkan desert, kopi, teh atau keju saja, karena mereka memiliki berbagai pilihan keju yang nikmat. Kalau saya tidak senang membaca atau menonton film, saya tidak akan pernah tahu bahwa keju itu tidak hanya yang dibungkus plastik merah bening atau bermerek Kraft. Dan maka, kami pun memesan desert, kopi dan macam-macam keju tadi sementara red wine masih terus dituang juga hingga ke dasar botolnya. Lalu kami bersulang.

Saya menghela nafas. Saya berjanji sepulangnya saya ke Jakarta nanti, saya akan langsung bilang ke orang tua saya, bahwa pencarian saya akan suami dan penantian mereka akan menantu sulung masih akan berjalan sangat lama. Karena siapapun dia orangnya, dia pasti sedang sibuk menikmati hidup sampai takdir dari Allah SWT mempertemukan saya dengan dia, atau malah mungkin dia sedang sibuk menjadi agen rahasia macam James Bond. Kami pun berfoto sekali lagi sebelum pulang, saling berpelukan dan Freya berjanji untuk mengantar saya ke airport besok. Saya, adik saya dan suaminya pun masuk ke mobil, melambai kepada keluarganya dan pulang.

Di dalam mobil, scene makan malam itu kembali terbayang di kepala saya. Dan tiba-tiba, James Bond, dengan setelan suit-nya, dan sekarang sedang duduk di sebelah saya di dalam mobil, menggenggam tangan saya sambil tersenyum seolah menenangkan saya. Dasinya sewarna dengan warna gaun yang saya kenakan pada pernikahan teman saya.

Still There.

June 25th, 2006

In my dream, we ran into each other. You were the guy who did the documentary movie about children’s movement in warzones. You had sat behind my bestfriend and I. In my dream you chased us when we got out of the auditorium and you had grabbed me in the arm. And you had said, “I owe you a long explanation. Please. We have to talk.” In my dream still, I had thought that, “Hey, this is all has been a sureal dream. I’ll wake up now and see if you’re still there.”

I had woken myself up. Voluntarily. My dream was no more, but you still are.

NEED YOU ENOUGH

June 23rd, 2006

I need you, because love is not enough
I need you, because things in common is not enough
I need you, because cheese comes in wordly variety and wine comes in two colors and a thousand of taste
I need you, because you speak English and maybe a couple of other languages
I need you, because we make each other laugh
I need you, because respect evolves with age and daily interference
I need you, because you’ve lived in other countries
I need you, because you go on holidays in the snow, the mountain, and the sea
I need you, because you are meticulous about your laundry
I need you, because you appreciate art and occasionally read books with no pictures in them
I need you, because you don’t eat pork
I need you, because you have lived
I need you, because you have tasted Indian food, Japanese food, Chinese Food, European food, and American goods in random occasions
I need you, because you’re a connoiseur of something, like coffee
I need you, because you are smart
I need you, because you write meaningful stuffs
I need you, because you think Sydney is a special city
I need you, because you read the news
I need you, because you put on lotion and moisturizer and lipgloss before you get out of the house
I need you, because you go to concerts and listens to Aimee Mann
I need you, because you can look after yourself
I need you, because you like traveling light
I need you, because you kiss like you do
I need you, because you hug beautifully
I need you, because you have an immigrant descent
I need you, because you know my bestfriend
I need you, because your eyes smile when you smile and so do the soft wrinkles around the corner of your eyes
I need you, because you have a lovely speaking voice
I need you, because you are single
I need you, because you are you
I need you, because you are perfect for me
Now, I need you, to tell me, do you need me the same way too?

I should have said when you said…

June 23rd, 2006

Man: “…unbeknownst to me that you’ve decided to have fruit cake for the wedding cake instead.”
Woman: “Wow, who do you read? Where did you go to school? You must be a romantic to have used such word while we’re just talking about a fruit cake.”

Man: “What did you learn by being abroad?”
Woman: “That I’m not alone.”

Man: “You love them and you leave them.”
Woman: “Hardly. I just leave them.”

Man: “So, do I have a chance?”
Woman: “See how things go tonight and I’ll let you know.”

Man: “Would you be my penpal?”
Woman: “…?!?!”

You Think?

June 22nd, 2006

Have you loved?
Have you inspired others?
Or have you been inspired by others?
Have you seen with your eyes then with your heart
and see that there is always beyond after every further
Have you heard? Voices so rich,
they’re varied in volumes and intensity?
Have you laughed with your whole body
and felt the tension disappear into air
like it was never there?
Have you smiled?
With your heart, with your eyes?
Have you spoken what it is you mean
about today, the future and not so much of how things have been?
Have you lived and loved regardless?
Color, religion, location, nationality, the past, the future and the present?
Have you?
Have you lived then, you think?

One Day On A Monday

June 22nd, 2006

Give me that one day
One day where everything you say
Can never make me look back again
Give me that one day on a Monday
Where almost everything you said
Drove me nearer to a goodbye
to one thousand four hundreds and sixty days
Of memories, photos, words and hopes
It was that one day on a Monday
going on a Tuesday when you said
“Would you email me?”

Yes.

NO RELIGION.

June 22nd, 2006

My bestfriend from college got married. It was the best wedding in 2006. Not that I go to weddings and review them, but to me, it was the kind of wedding where everything went right. Well, apart from the fact that one of the groom’s uncle had a mild heart attack, the rest of the 5 hours mingling and hearty chattering catching up with people I have not seen for years went extremely well. I was discussing water, film, tv, Indian producers, food, culture - oh, I was at my social peak, and the fact that almost all of us in the table are singles was the sweetest icing on the cake. Nice. Nicole, my bestfriend had specifically put me in the single and the dating table, so I can meet someone she said. What’s that? Did I meet someone? Well…

Anyway, it was a really emotional wedding for me to attend, I love both the bride and groom, they looked blissful and so content and happy tears just couldn’t stop running down my eyes. I rarely cry at weddings, I actually dread weddings, even when I was invited as a couple when I used to have boyfriends, but Nic and Drew’s wedding last weekend was the romantic highlight of my life. I’ve never felt so much mutual respect, love and fun from a bride and a groom and the rest of the family and friends too. I think it was really romantic and sincere, and it was a moment in my life where it occured to me that…we don’t need religion.