In Limbo

May 29th, 2006

In limbo imperfecto. Float float wait, let me get my coat. Transparent in flesh. Liquid in a box. Air in a package. Stop don’t stop go forward let the back tail along behind. Stay and disappear scream it out loud inside and spread the news in whisper. Today is the yesterday of tomorrow and you mean a lot when you are nothing. Whatever matters and what matters are worthless. Let’s live let’s live because we’re dying

Looking For ‘Woody Allen’

May 22nd, 2006

“Mau dibaca kartunya?”
“Boleh juga.”
Si Ibu Peramal mengambil setumpuk kartu berwarna merah, menggoyang-goyangkannya di atas semangkuk kecil dupa dan memberikannya kepada saya.
“Umurnya berapa?”
“30″
“Kocok deh 30 kali.”
Si Ibu Peramal mengambil kembali tumpukan kartu yang sudah saya kocok 30 kali. Dia lalu menjembrengnya di depan saya.
“Pilih 3 kartu yah. Kartu kehidupan, pekerjaan, dan jodoh.”
“Ok.”
“Yak, sudah. saya buka yah.”
Si Ibu Peramal membuka kartu pertama. “Kartu kehidupan.” katanya. Lalu dia memandang saya dan melanjutkan,”Kamu lagi banyak bimbang ya? Lagi seperti nggak pasti gitu. Apa yang jadi pikiran? Nggak usah dengerin kata orang. Kamu lagi pengen ada perubahan ya?”
“Iya sih. Saya lagi banyak menghela nafas akhir-akhir ini kalau melihat sekitar saya. Banyak yang bikin kesal.”
Dia memandang saya lalu mengangguk-angguk dan mengambil kartu berikutnya. “Kartu pekerjaan.” katanya melanjutkan. “Kenapa pengen pindah? Ya? Belum bisa, non. Belum bisa. Jangan dulu juga. Keadaan masih rame. Tahun depan baru bagus buat pindah. Kalau sekarang sih belum.”
“Hehehe…kalau untuk pindah kerjaan sih memang belum terpikir, malah mungkin sudah tidak terpikir, karena saya lebih mending pindah negara sekalian. Saya sudah nggak mungkin pindah kerjaan lagi. Karena masih di negara yang sama dengan sistem yang sama, jadi saya lebih baik pindah negara sekalian.”

Si Ibu Peramal melihat kartu saya lagi. “Belum bisa. Masih banyak yang harus dibereskan. Ada halangan. Tahun depan lebih baik waktunya. Atau 2 tahun lagi. Kalau mau lebih cepat, kamu harus ketemu dulu sama orang tua yang mau sponsorin kamu. Dia pengen kamu temenin anaknya.”
“Maksudnya kayak adopsi gitu?”
“Iya. Sponsorin. Support. Buat dukung kamu. Harus ada orang ini, nanti semuanya jadi lebih mudah buat kamu.”
“Tapi saya kan sudah 30 tahun, sudah tidak bisa diadopsi lagi.”
“Bisa aja. Kan adopsi beda-beda jenisnya.”
“Gitu ya?”
“Iya.”
Saya tertegun sejenak. Seorang tua. Apakah saya harus menikahinya? Seperti Soon Yi yang awalnya diangkat anak dan kemudian dinikahi oleh seorang Woody Allen. Hmmm…apakah saya akan membuat pengidolaan seseorang menjadi refleksi nyata di kehidupan saya? Waduh…semoga tidak harus sedramatis itu, jadi seperti materi acara Oprah. Eh, tapi dia bilang untuk temenin anaknya. Wah. Apakah anaknya lelaki? Menarik. Setidaknya ada harapan bahwa anaknya lelaki.

Si Ibu Peramal membuka kartu ketiga. “Kartu Jodoh.” Tiba-tiba saya tertawa bodoh. Jodoh itu menurut saya hal yang paling bodoh. Katanya ditentukan Tuhan, tapi kita tidak pernah tahu yang mana yang benar-benar jodoh ketentuan dari Tuhan. Bukan tidak mungkin bahwa jodoh kita adalah Tuhan itu sendiri. Ah.
“Kamu nggak usah khawatir yah. Jodohnya ada koq. Lagipula kamu itu tipe orang yang bisa langsung. Kalau nggak dapat ini pasti dapat lagi yang lain. Tapi jodoh kamu itu ada koq. Cuma memang sekarang belum waktunya ketemu. Kamu sebetulnya mudah dapat pacar, tapi memang masih sering belum jodohnya, jadi masih sering putus. Tapi tenang aja, nanti begitu ketemu, kamu pasti langsung tahu.”

Lagi-lagi saya tertawa bodoh. See? Bodoh. Jodoh bodoh. Lambat dan tidak kunjung menemukan saya. Menyebalkan. Saya termenung-menung beberapa saat lagi. Tiba-tiba Si Ibu Peramal bertanya,”Ada lagi yang mau ditanyakan? Soal jodoh?”

Saya tertawa. Tidak terlalu bodoh. Tapi saya menegaskan bahwa saya hanya ingin bertanya soal pekerjaan dan kepindahan saya ke tempat lain. Sekali lagi Si Ibu Peramal mengatakan bahwa kalau saya mau pindah dengan tenang paling baik waktunya adalah tahun depan atau 2 tahun lagi, dan tiba-tiba dia menambahkan, kalau soal jodoh, sekarang belum waktunya. Kenapa pula dia berpanjang-panjang soal jodoh saya. Saya toh tidak terlalu memusingkan. Dia juga menambahkan, bahwa saya cukup memilih sesuatu yang membuat saya paling nyaman bergerak. Tidak usah mempedulikan apa kata orang. Lakukan saja. Saya cuma harus yakin. Dia juga mengatakan bahwa saya sebetulnya mudah dapat rezeki, tapi mudah juga menghabiskannya. Hmmmm…dan saya bukan orang yang ambisius, padahal kalau saya mau ambisius pastinya saya sudah hidup enak sekali. Tapi saya seorang pekerja keras yang tidak bisa diam dan selalu lebih senang bekerja daripada melakukan hal lain. Well…

Tiba-tiba saya seperti mendengar diri saya berbicara kepada saya sendiri. Hampir tidak ada yang baru dari apa yang dikatakan si Ibu, tapi sebagai seseorang yang sama sekali tidak mengenal saya, pengetahuannya ‘cukup luas’. Saya mengangguk-angguk tanda mengerti. Pikiran saya kembali kepada ‘Woody Allen’ saya. Siapa dia kira-kira? Mungkin kah itu petunjuknya? Karena memang sudah 3 bulan belakangan ini saya selalu ingin menonton apa saja yang datangnya dari Woody Allen. Padahal sebetulnya saya hanya mencari jawaban atas pertanyaan-pertanyaan saya tentang gaung di hati saya.

Saya pun mohon diri dari bale-bale ramal itu. Si Ibu Peramal memegang tangan saya dan tersenyum. “Sabar ya.” Saya tersenyum dan berlalu. Di dalam kepala saya kembali terngiang-ngiang perkataannya tentang seorang tua misterius yang harus saya temukan itu.

TENGGANG RASA VERSI HARI INI

May 21st, 2006

Di sebuah Senin siang yang biasa. Saya baru datang dan baru memesan sebungkus nasi padang. Pesanan saya adalah, “Nasi setengah, ayam bakar dada, sambal merah, dan kerupuk ya.” Saya sudah hampir 3 tahun kerja di kantor ini, dan sudah hampir 1 tahun si office boy selalu memesankan pesanan nasi padang saya dengan menu yang sama dan setiap kali pula dia bertanya lagi, “Nggak pake sayur, Mbak?” Biasanya saya hanya menggeleng dengan apatis. Tapi kali ini dia saya semprot kesal, “Nggak, bencong! Kalau saya memang mau pake sayur di nasi padangnya kan saya pasti bilang, ‘pake sayur’, saya bilang nggak tadi?” Office boy hanya menggeleng dan buru-buru keluar menjalankan tugasnya sebelum saya semprot dia sekali lagi.

TENTUNYA, nasi padang saya datang HAMPIR sesuai pesanan. Nasi setengah, ayam bakar, sambal merah dan kerupuk. DAN…sesendok sayur nangka. Kalau di film Ally McBeal akan ada visual saya melempar sebungkus nasi padang itu ke muka office boy dengan nangka dan ayam dan sambal merah yang akan belepotan di seluruh wajah dan bajunya, tapi dia sudah keburu saya suruh pergi melakukan tugas yang lain dan oleh karenanya, mukanya pun luput dari make up ala nasi padang.

Saya perhatikan, sepanjang saya hidup di negara ini, saya melihat bahwa kebanyakan orang jarang sekali bertenggang rasa pada personal preferences orang lain. Contohnya banyak banget. Saya nggak ngerti ini asal muasalnya dari mana, padahal dari saya SD kayaknya yang saya dengar dari mulut ibu dan bapak guru serta orang tua dan propaganda di televisi dan di jalan-jalan dan buku pelajaran adalah, kita ini makhluk sosial yang sudah pasti ngga hidup sendirian dan oleh karenanya harus pandai-pandai bertenggang rasa dengan orang lain. Yang salah satu artinya adalah menjadi pendengar yang baik. Yang lalai dilakukan oleh 9 dari 10 orang yang setiap hari berinteraksi dengan kita. Dari mulai pengendara mobil atau motor lain, tukang jualan makanan, penjaga toko, office boy, teman sekantor, supir bis, client, bahkan orang tua kita sendiri.

Contohnya ya itu tadi, office boy yang nggak memperhatikan apa yang biasa saya pesan. Si penjual makanan yang memaksa memberi sedikit saja sayur pada nasi padang saya. Atau semua penjual makanan apapun yang menjadikan cabe dan ‘pedas’ untuk standar semua jenis makanan. Pengendara motor yang selalu bernafsu memakai trotoar. Pedagang kaki lima yang berjualan seenaknya saja sehingga merepotkan pejalan kaki dan menyumbang suburnya bisnis preman jalanan. Pengendara mobil yang sering saling menyalip. Atau orang yang merokok tepat di bawah tanda dilarang merokok. Atau orang yang tiba-tiba menurunkan kaca jendela mobil untuk membuang sampah. Dan orang yang membakar sampah sehingga asapnya heboh menarik perhatian dan menimbulkan polusi udara. Dan orang tua yang memaksakan supaya anaknya ikutan casting atau harus mempunya titel sarjana. Ini sudah jadi habitnya masyarakat dari saya SD. Dan saya tahu saya nggak mengada-ada, walaupun banyak orang di sekitar saya akan dengan sok lapang dada mengatakan, “Ya namanya juga orang nggak berpendidikan, nggak bisa baca tulis, kamu bisa ngarepin apa dari mereka?’ Dan oleh karenanya sebagai yang lebih berakal sedikit, sudah tugas kita untuk lebih nrimo dan ‘memberi petunjuk’. Awalnya memang saya percaya, tapi saya perhatikan lagi, awal paham tenggang rasa itu nggak ada hubungannya sama baca tulis. Itu dari ajaran orang tua, dari contoh yang diberikan oleh mereka secara turun temurun. Terlepas dari orang tua kita bisa baca tulis atau nggak. Dan akhirnya lagi, semakin saya dewasa, saya semakin heran karena justru orang-orang yang sudah bisa baca tulis dan lulus sekolah tinggi dan dari luar negeri juga rawan mengabaikan tenggang rasa.

Saya jadi sangat lelah dan putus asa (wuaduh, dramatis), soalnya saya ngeri. Orang-orang tanpa mengenal tenggang rasa ini akan terus beranak pinak dan menumbuhkan generasi-generasi yang akan semakin nggak tau apa yang dimaksud dengan tenggang rasa. Walaupun di lain pihak mungkin mereka malah akan semakin fasih beragama dan menghafal ayat-ayat dari kitab-kitab suci mereka dan punya uang segudang serta ke mana-mana naik mobil mewah atau lulus sekolah TER dan perguruan tinggi TER dengan gelar TER.

Yah, walaupun mungkin ada sisi positifnya juga sih, at least akhirnya, ada juga celah yang bisa mempersatukan hampir semua perbedaan yang dimiliki oleh bangsa ini tanpa memandang suku, agama, tingkat sosial dan pendidikan.

Dan sekali lagi hari ini, sebuah jendela dari sebuah mobil mewah atau mobil apa saja akan sedikit diturunkan demi si penumpang yang membuang sampah dan seorang pemesan makanan mengeluhkan pesanannya yang salah dan masih saja pedas walaupun sudah dibilang jelas-jelas tanpa cabe dan tidak pedas dan seorang pengendara motor lagi-lagi memakai trotoar demi bisa melaju di jalanan dan seorang pejalan kaki berjalan di tengah jalan serta menyeberang seenaknya dan sekali lagi hari ini, sebuah angkot, bis kota, taksi dan bajaj berhenti mendadak di pinggir jalan menyebabkan para pengendara mobil mengerem mendadak dan lain lain dan seterusnya dan sebagainya…

The Aphemist

May 18th, 2006

I’m sitting in front of this computer, while the computer is staring back at me. We look into each other’s. Mouth open agape. Speechless. Both are waiting for some kind of signs. Some leads. A word.

Thoughts begin to pop up but were lost in the middle. My hands start typing a letter, then a syllable, then words. I’m wondering why words make sentences and why sometimes they just don’t mean anything at all. Or why sometimes other words just sort of speak for each other, finishing each other’s meanings. I type more letters, more syllables, more words and sentences and think how many letters per second are spilled into this world and how much is the percentage of any of them that actually mean anything.

Mean anything means the words that move you. Make you think. Make you learn something. Make you want to do. Like those come from the bibles and the holy books. And why they are being so misunderstood each second of the day? Why sometimes a word scared the shit out of people? Why? Why am I lost in words sometimes. And why am I lost for them too? Who stole them? And if they are caught, do you think they should be put to jail? And labelled as the Word Criminal? What’s the punishment? Spilling all the words they know to the last letters? Return them to those who lost them?

Is it fair? What are their motives? What’s so special about the words I lost that they steal?

Destination It.

May 15th, 2006

I’m having the urge to fly. To spread my wings and never look back. Migrate and hybernate elsewhere. Where people are people and talent is Demi God and common sense is the absolut prophet, and God is God and religion is politeness and courtesy. Where recklessness is a crime and perfection is a form of art and ignorance is blasphemy. Logic should be everyone’s middle name and respect is the language, education is the bible. Beauty is what’s within and perfected by what appears on the surface and the president is John Lennon…

and I can go on forever…

But I’m really having the urge to fly. Away. Away. Away. And far from you all.

In Between Fate

May 12th, 2006

Who would have thought that Jakarta and D.C. is always a mutual person away?

Ceileeeh…Aksi Banget Sih Lo!

May 9th, 2006

“Pemirsa sebuah aksi damai yang diikuti oleh puluhan ribu partisipan memadati Bunderan HI hari ini. Ribuan orang ini menuntut adanya bla bla bla bla…” “…Headline news berikut, ribuan pendukung RUU Anu dan RUU Itu berpawai dari daerah Jakarta Selatan ke daerah Jakarta Pusat. Ketua rombongan pawai meyakinkan pihak aparat bahwa aksi yang mereka lakukan akan berjalan damai.” “Saudara, aksi anarkis dilakukan oleh sekelompok orang- kira-kira ada ratusan, yang menyatakan dirimya dari perwakilan sebuah organisasi ANTI ini dan ANTI itu siang tadi. Sempat terjadi bentrokan antara massa dengan aparat ketika lemparan batu tidak berhasil disembunyikan oleh tangan dan mengenai berbagai jenis jendela di sekitar tempat bentrokan aksi anarkis yang dilakukan oleh sekelompok massa…”

“Sebuah aksi kekerasan berlanjut menjadi sebuah aksi massa yang melibatkan puluhan petinggi-petinggi dan perendah-perendah daerah di wilayah Sulawesi Sana, sementara orang di wilayah Sulawesi Sini mengatakan bahwa masyarakat merasa semakin tidak aman dikarenakan adanya kelompok masyarakat tertentu yang disinyalir hendak melakukan tindakan-tindakan dan aksi-aksi anarkis serta aksi-aksi lain yang meresahkan…”

“Seorang oknum ditangkap karena merencanakan sebuah aksi yang disinyalir dan diduga akan membesar menjadi aksi anarkis yang dimulai oleh puluhan orang di jalan raya. Oknum ditangkap oleh aparat ketika sedang membagikan selebaran kepada puluhan orang yang diduga sebagai partisipan tetap aksi-aksi massa yang meresahkan masyarakat…”

(Cuplikan berita Aksi dari negara paling AKSI se-Asia Tenggara dan Antariksa. Gitu lhoohh…)

Demi Masa.

May 8th, 2006

“Aku tahu kenapa kamu nggak bisa ngasih aku kesempatan untuk jadi masa depan kamu, karena aku sepenuhnya sadar dan tahu kalau penting bagi setiap kita untuk memberi kesempatan kepada masa lalu. Jika masa lalu yang kita jalani sekarang tidak berhasil, setidaknya kita tahu bahwa kita sudah pernah mencoba menjalaninya ketika kita bisa.”

(untuk semua masa lalu dari setiap kita)

Object To Subject

May 4th, 2006

There’s a reason why an object of desire should stay an object and not turning into a subject.

Last night, the object had turned to subject. Then it formed a personality. It became human. It became a person that you can relate to. Suddenly he’s reachable. He’s real. You can touch him. Feel his smooth skin. Caress his body. Kiss his lips. You try to sabotage the moment just so you know that it was real and all that’s left is to enjoy it. Indulge. Bask yourself in the charm.

I indulged. I savored. I let myself go. I became one with his desire. I became an object while he’s becoming a subject…

I Failed My Mother

May 2nd, 2006

Today I was in another planet. The Planet Thin. Where its citizen consist of only thin women where the malls and shops only sell oceans pairs of skinny jeans and any other pants or skirt in size S and M or size 26 and 27. In this planet the women don’t have flesh, don’t menstruate, don’t eat and they’re life span can only go as far as 19 years old. Because after that, they would be transfered to another planet call Planet Earth. Where the women apparently eat sometimes, work out and go to the gym any other time, gain weight all the time while taking their time to age and embrace bodily lumps gracefully or dramatically. The later is the Planet that I physically and actually was born into and live in until today.

My visit to Planet Thin was ‘incidental’. Well, it was just one of those days after paycheck where you don’t really have anything to do and you sort of decided to wander a bit to spend the day under the disguise of ’see what’s out there’. That was when I decided to have a hunt for the day: a pair of jeans that the world’s fashion magazines have so proudly baptized as ‘the skinny jeans’.

After often being misled by the appearance of the jeans hanging on the stand and 15 tried ons and 5 shops later, and the fact that what I kept seeing in the dressing room mirrors was me looking like a female Hulk trying to urgently save lives, I must admit that when the world’s fashion magazines said that there’s such pair of jeans that are called ’skinny’, they meant just that. What I spotted, tried on and failed to purchase were the literally skinny jeans for skinny people in The Planet Thin. One time I tried to trick it by trying on a non jeans pair of pants in XL and still it didn’t fit.

I felt so cheated and manipulated and over weight. Isn’t there a proper size for a normal human being? If I couldn’t even fit size XL on the label, then I won’t be able to ever fit in anything else again? When did I start getting so fat? Where did all these lumps come from? Why wasn’t I warned about this before? Where did I go wrong? Is this the revenge of the Bajaj ride warnings that I have been ignoring?

Aaaaaaaaaaaaaaarrrrrggh…! I failed my mother! I failed my mother! She stayed thin until she was 48! I failed my mother…