Mutasimosional.

March 28th, 2006

Saya berumur 30 tahun. Masih single dan sepertinya mempunyai perilaku baru. Secara emosional saya seperti bermutasi. Mutasional. Sebelum berpanjang-panjang, sebaiknya saya jelaskan sedikit analisa saya tentang penyebab perilaku saya. Bukan. Bukan perilaku yang itu.

Saya bekerja di sebuah kantor yang tidak memiliki resepsionis. Siapa saja bisa datang dan langsung masuk atau menelepon langsung ke meja saya, karena line telepon hanya satu dan salah satu dari pesawat telepon yang paralel berada di meja saya. Adanya fakta bahwa pesawat telepon ada dua tapi line telepon ada 1 sering disalahartikan oleh mereka yang tidak tahu dan selalu lupa padahal sudah diberi tahu, bahwa ketika saya sedang memakai telepon, otomatis, pesawat telepon yang satu lagi tidak bisa digunakan karena sistem perteleponan di sini bukan PABX. Saya sering menghibur diri saya sendiri dengan jokes tolol yang sedikit sarkastik dan sinis dengan menyebutkan bahwa, “Risaaaaaaa, ada telepon buat lo di line 3!”, padahal boro-boro line 3, line 2 saja tidak mungkin ada. Letak telepon yang berada di luar, menyebabkan pembicaraan model apapun bisa terdengar oleh siapapun yang kebetulan berada di ruangan yang sama dengan saya, dan ini maksudnya adalah semua orang siapa saja. Dari mulai tukang indomie yang mengantar indomie, tamu bos saya, rekan sekantor, temannya rekan sekantor yang berkunjung, office boy, atau supir kalau kebetulan sedang dipanggil. Siapa saja. Betul-betul transparan dan tanpa rahasia.

Maka kadang, kalau saya kebetulan sedang menerima telepon dari orang-orang tolol yang somehow jumlahnya tak terhitung dan terjadi hampir setiap beberapa menit sekali, atau orang salah sambung, atau orang yang mencari bos saya atau saya, atau bahkan ketika menelepon biro perjalanan, semua orang yang berada di ruangan tadi akan tahu. O yah, saya belum bilang bahwa di kantor saya juga tidak ada ruangan khusus untuk seseorang. Adanya hanya istilah Meja Saya atau File Saya. Komputer pun saya memakai komputer saya sendiri dan komputer yang ada di kantor ini adalah milik semua orang yang bisa mengoperasikan komputer. Ya, maka semua orang yang kebetulan ada di ruangan itu akan menjadi tahu apa yang terjadi pada pembicaraan telepon saya. Maka saya tidak heran jika setelah saya menutup telepon dengan biro perjalanan, semua orang yang ada dalam radius 50 cm itu tadi akan bertanya,”Lo mau ke mana? Bisnis apa cuti?” Yang membuat saya jadi heran. Sebegitu penting ya hidup orang lain buat kita? Dan, orang sudah tidak malu lagi untuk memperlihatkan betapa mereka dengan bangganya merasa harus mengganggu privacy orang lain. Ternyata.

Lalu karena pekerjaan saya banyak tergantung dari telepon menelepon, kadang ada juga orang yang merasa bahwa saya ‘nggak ada kerjaannya’. Karena kalau ditanya orang, yang paling sering mereka lihat adalah adegan saya menelepon atau adegan saya keluar kantor. Jadi kalau ditanya ke orang lain kerjaan saya itu apa mereka pasti akan bilang, “Oh, tauk tuh. Kerjaannya mainan telepon. Nelepon melulu. Kalo nggak nelepon pergi deh. Katanya sih meeting.” Padahal ternyata…saya sedang menelepon orang-orang dan koruptor yang mau beli aset negara dari saya. Karena selain kerja di sini saya juga membantu membangkrutkan negara ini . Nggak ding.

Anyway, sudah 6 bulan belakangan ini, kualitas orang yang menelepon menurut saya berkurang. Mereka semakin mengganggu. Mereka menunjukkan bahwa pelajaran budi pekerti sudah lebih mengacu kepada sinetron. Yang sering mempertontonkan ketololan dan penggunaan kalimat-kalimat nggak penting. Mereka menawarkan macam-macam. Dari mulai jasa, perabot rumah, keahlian, casting, pekerjaan, casting, film, casting, naskah, naskah, naskah, naskah, naskah, naskah, lagu sampai kerjasama. Ada juga penelepon yang berisi pencarian. Pencarian akan saya, bos saya, rekan sekantor, crew, dan orang-orang yang sudah tidak bekerja di sini lagi karena mereka semua adalah freelancer, yang hampir semuanya lebih sering tidak berada di sini pada jam kantor. Terutama saya. Saya tidak pernah ada. Karena 10 dari 10 orang yang menelepon untuk mencari saya ke kantor adalah orang-orang yang tidak mengenal saya. Prinsip saya, kalau mereka memang mengenal saya, mereka akan langsung menelepon ke HP atau meng-sms kalau apa yang ingin mereka sampaikan itu penting dan kalau saya kebetulan tidak mengangkat. Begitu juga dengan mereka yang sering sekali tiba-tiba datang ke kantor dengan keperluan yang sama dengan mereka yang menelepon. Jadi saya memang tidak pernah ada. Satu haripun.

Dan ini semakin sering terjadi dalam waktu 6 bulan ini. Mereka seperti berlomba untuk menelepon kemari. Saya sudah 2 tahun lebih sedikit di kantor ini dan belum pernah orang-orang asing itu segila ini. Maka saya rasa lama kelamaan saya mempunyai perilaku baru. Kepribadian ganda, ‘menolak kenyataan’ (dengan sering mengaku tidak ada di tempat), semakin tidak menghargai orang asing, memotong pembicaraan mereka kalau mereka bertele-tele dan tidak penting, judes, judes banget…mengerikan. Saya sudah kehilangan keiinginan saya untuk beramah tamah dengan orang asing yang tidak saya kenal. Mesin fax adalah sahabat saya. Karena ke sana lah orang-orang ini lalu ‘mengadu’ dan mengirimkan ‘wish list’ mereka. Kalau ternyata menarik dan berguna saya akan menghubungi mereka dan akhirnya menjadi ramah. Tapi kalau tidak ya, tempat sampah lah tujuan mereka berikutnya.

Saya tidak tahu kenapa, tapi rasanya beramah tamah dengan orang-orang asing menurut saya tidak efektif dan saya nggak sabaran ngeladeninnya. Wong, kalau kita ramah dengan orang yang kita kenal saja kadang juga nggak efektif, karena ternyata orang-orang itu selalu bicara nyinyir tentang kita di belakang. Nggak efektif. Tahu gitu kan dari dulu aja sekalian nggak ramah sama orang-orang model gitu. Nggak ada gunanya juga. Kita ramah, katanya kita ’sok ramah’, kalau kita nggak ramah katanya kita ‘belagu’. Jadi kalau menurut saya, ya sekalian jadi belagu saja. Tanggung. Toh akan diomongin juga. Makanya saya pikir apa gunanya juga ramah sama orang yang nggak kenal kita anyway. Besok juga dia udah lupa sama kita. Setidaknya, kalau ternyata mereka ingat terus, kita tetap berguna karena sudah membuat memorinya bekerja. Hehehehehe (tertawa licik).

Mungkin saya kesal karena saya merasa semakin tua, saya semakin butuh privacy. Semakin tua saya semakin cepat melihat dan membedakan apa yang penting dan apa yang sudah tidak lagi penting. Semakin tua saya jadi semakin mudah marah karena acap kali menemukan kebodohan-kebodohan dan bertemu dengan perilaku-perilaku manusia yang saya curiga, SAMA SEKALI tidak berubah dari sejak zaman saya SMP. Koq bisa ya? Makanya saya semakin nggak simpatik sama orang asing. Buat saya mereka menyebalkan. Sok tahu. Nggak penting. Dan buang-buang waktu saja.

Seiring dengan dering telpon paralel di meja saya sekali lagi, saya yakin itu dari orang-orang asing yang masih ingin menawarkan segala hal yang tidak saya cari dan tidak saya butuhkan. Saya menghela nafas, mengangkat telepon, mencoba berpikir positif dan membuang pikiran ‘hidup itu nggak efisien’ sejauh mungkin. Suara seorang lelaki terdengar di ujung sana, “Selamat siang, kita dari agen iklan yellow pages, mau menawarkan spot iklan…”

Bwahahahahaahahaha….

How To Entertain Yourself At The Office

March 23rd, 2006

Feeling bored? Don’t feel like answering phone calls or opening the doors for strangers that you don’t wish to know anyway? Amused by the lack of politeness of most of the strangers who call or drop by your office? Here are some tricks to get them out of the way in no time. Though sometimes, some unwanted strangers could be as persistent as to want to wait for the people they’re looking for, so be prepared. Be very, very prepared. And be very very sternly convincing.

1. Be Your Alter Ego or That Bitch You Don’t Get Along With

Telepon di sebuah kantor PH (Production House) berbunyi.
Seorang wanita bernama Mbak Nana mengangkat.
Mbak Nana: “PH selamat pagi.”
Caller: “Selamat pagi. Bisa bicara dengan Mbak Nana?”
Mbak Nana:”Belum datang. Dari mana ini?”
Caller: “Ini dari Home Appliance Center.”
Mbak Nana: “Dengan siapa saya bicara? Mbak Nana-nya belum datang. Mungkin ada pesan, biar nanti saya sampaikan.”
Caller: “Ini dengan siapa?”
Mbak Nana: “Dini. Nanti saya sampaikan Mbak…siapa ini?”
Caller: “Saya Ranti dari Home Appliance Center. Kami sebenarnya mau menawarkan sponsorship kerjasama peralatan rumah tangga untuk keperluan shooting. Betul ke Mbak Nana ya?”
Mbak Nana: “Iya betul. Tapi orangnya belum datang. Mungkin bisa di-fax saja penawarannya. Atau contoh barangnya kalau ada.”
Caller yang sekarang bernama Ranti: “O ya sudah kalau gitu saya kirim aja brosur-brosur produk kami ya. Boleh minta alamatnya?”

And as the day is progressing and the type of the caller gets more depressing, you can invent more characters like Bitchy Bertha, Somber Soraya, Soulful Shana, Childlike Chini, Resourceful Rissa and lots more. I mean, why bother, the people who called don’t even know who you really are anyway, if they did, they would have called you on your cell.

2. Put Yourself In Someone Else’s Shoes
Pintu di sebuah PH yang tidak punya resepsionis dan reception area diketuk seseorang. Pertanda dari orang tak dikenal. Karena bagi mereka yang sudah biasa ke PH ini pasti akan langsung masuk tanpa keraguan sedetik pun. Seorang wanita yang bernama Mbak Nana melihat dari tempat duduknya yang bisa melihat sedikit ke luar jendela, siapa yang mengetuk pintu. Dari dandanannya, sepertinya seorang kurir. Setelah 4 kali mengetuk seorang tak dikenal itu masuk. Benar saja. Seorang kurir. Di hari lain seorang ‘Penulis’. Di hari lain lagi seorang ‘Sutradara Muda’. Di hari lain lagi seorang ‘Mahasiswa’ atau kadang ‘Segerombolan Mahasiswa’. Yang semuanya mau bertemu Mbak Nana. Ada yang sopan. Ada yang kurang ajar. Ada yang sama sekali clueless bagaimana cara mempresentasikan dirinya di depan orang asing. Terutama seorang asing seperti Mbak Nana yang punya tampang jutek dan sudah terkenal dengan kegalakannya.

Seorang asing: “Siang, Mbak. Mau ketemu, Mbak Nana.”
Mbak Nana: ‘Mbak Nana belum datang. Dari mana?”
Seorang asing: “Saya Hendi. Saya mau menawarkan script.”
Seorang asing: “Saya mau casting.”
Seorang asing: “Saya Donald, saya sutradara, baru lulus, mau magang jadi sutradara, Mbak.”
Segerombolan orang asing: “Kita dari Fakultas Film Universitas A DLL, mau tanya kalau mau magang di sini gimana caranya?”
Seorang asing: “Mbak mau ngasih script.”
Seorang asing: “Mbak saya dari manager talent, mau ngasih portfolio anak-anak saya. Di sini buka casting nggak ya?”
Seorang asing: “Mbak Nana-nya ada ya. Mbak? Kalau mau menawakan mobil untuk urusan operasional shooting betul ke Mbak Nana ya?”
Seorang asing: “Saya mau jadi pemeran pembantu di produksi.”
Seorang asing: “Mbak Nana ada? Saya Sutradara, saya punya cerita untuk dijadikan film…”
Seorang asing: “Mbak Nana-nya kira-kira ada di kantor kapan ya, Mbak?
Mbak Nana: “Nggak tau. Mbak Nana itu kadang dateng kadang nggak.”
Seorang asing: “Kalau nomor hp Mbak Nana boleh minta nggak ya, Mbak?”
Mbak Nana: “Waduh. Saya gak berani Mas/Mbak/Bu/Pak/ soalnya saya di sini cuma anak magang. Tugas saya bikin kopi sama angkat telepon dan nyatet pesan. Maaf ya.”
Mbak Nana: “Tapi setahu saya di sini tidak terima naskah dari luar karena sudah ada tim penulisnya sendiri.”
Mbak Nana: “Langsung ke orang castingnya aja. Namanya Dani dan nomornya…”
Mbak Nana: “Di sini nggak terima anak magang karena mereka suka ngilang setelah 3 hari dan lebih sering nggak ngerti apa yang harus dikerjakan. Jadi kami kapok terima anak magang.”
Seorang asing: “Ini dengan Mbak siapa?”
Mbak Nana: “Saya Poppy. Saya Lisa. Diana. Iya, nanti saya sampaikan ke Mbak Nana.”

Seorang asing pergi meninggalkan PH dan mengutuk ‘Poppy’ yang jutek. Atau ‘Lisa’ yang nggak ramah. ‘Diana’ yang dari pandangan matanya sudah bikin semua persiapan pe-de berantakan. Jangan pernah terlihat ragu atau seperti berpikir 2 kali kalau Anda sedang menjadi orang lain. Yakinlah bahwa mereka tidak akan pernah tahu dan TIDAK PERLU tahu siapa Anda sebenarnya karena jelas-jelas mereka mencari Anda dan menanyakan kepada Anda, di mana Anda.

Dan seandainya mereka akhirnya mengetahui bahwa Anda adalah orang yang mereka cari dulu, katakan saja kepada mereka,”Iya. Maaf ya. Dulu itu saya nggak ngaku. Soalnya dalam sehari ada belasan orang asing yang nggak kenal siapa saya anyway yang pengen ketemu saya. Dan dari 11 dari 12 orang yang datang lebih sering memberi kesan tidak penting dan mengganggu dari pada membantu.” Lalu tersenyum lah setulus mungkin dan jangan pernah dibahas lagi karena tidak penting dan masa lalu sebaiknya tetap jadi bagian dari masa lalu.

3. Or, Just Be Yourself

Telepon di sebuah PH berdering. Seorang wanita bernama Mbak Nana mengangkat.
Mbak Nana: “PH, selamat siang.”
Caller: “Siang, Mbak. Bisa dengan Bapak Aswin (Bosnya Mbak Nana)?”
Mbak Nana: “Bapak Aswin keluar kota. Dari mana ini?”
Caller: “Ini dari tempat Tiket Tour. Kalau Mbak Yana ada (istri teman sekantor Mbak Nana)?”
Mbak Nana: “Belum datang, Pak.”
Caller: “Buset, ini udah siang pada belum datang. Ya udah dah, Pak Joko deh (suaminya Yana, teman kantor Mbak Nana)?”
Mbak Nana: “Pak Joko juga belum datang.”
Caller: “Waduh? Udah siang gini pada belum datang? Nggak ada orangnya apa noh kantor? Emang pegawainya nggak pada kerja apa ini udah jam segini. Pada ke mana padahal…”
Mbak Nana dengan nada judes setengah mati: “Maaf, pak, urusan Bapak soal tiket apa sudah selesai? Kalau sudah saya mau mencatat pesan Bapak dan menutup telepon.”
Caller: “Saya cari Mbak Yana sih sebetulnya. Ini siapa? Asistennya ya?”
Mbak Nana dengan nada tegas seperti Polwan: “Be-lum da-tang. Bisa langsung ke hp-nya atau nanti saya sampaikan bapak telepon dan Ibu Yana bisa telepon balik. Ada pesan? Kalau tidak, terima kasih.”
Caller: Menutup telepon.

Being your own self is essential if you want to make your point.Those mannerless and busybody nosy clueless assholes should know that you can bark at them with the right tone of voice and words that intimidate their own incompetence. And when answering the office phone is your job, you should know by the first “Halo?” whether a caller is going to be the right tree to bark at or to piss on. All you need is the right timing to cut them off mid sentence and end the otherwise pointless conversation to dwell with.

So, have fun at the office today!

(inspired by real Production House, real person, real asshole, and real clueless beginners)

Kabar Dari Alam. 2 Tahun Yang Lalu.

March 22nd, 2006

Manusia senang menikmati penderitaan orang lain. Anak kecil
kehilangan ibunya, anak kecil meninggal karena tidak bisa
menyelamatkan diri dari air laut yang mengalir ke jalan-jalan kota
500km/jam. Anak kecil terganggu jiwanya karena trauma, begitu juga
orang tuanya, kakak-kakaknya, omnya, tantenya, bapaknya, kakeknya,
neneknya, tetangganya, gurunya, pak lurahnya, tetangganya yang
menyebalkan, tukang jualan sayur di pasar, tukang becak, tentara yang
dulu menembak ayahnya, polisi yang dulu menilang saudara sepupunya,
semua hilang, luka-luka, atau mati menggembung dan baru ditemukan
lalu dikuburkan berhari-hari kemudian. Itu Aceh, sementara Jakarta
banjir seadanya. Aku terjebak di kemacetan Kemang selama 2 jam, 6 jam
setelah hujan deras berhenti sama sekali. Ciliwung meluap, Cipinang
Muara betulan menjadi muara sesuai fungsinya, Tendean tergenang,
Wijaya juga (untung teman kita Ojel sudah pindah, kalau tidak pasti
dia tidak bisa pulang lagi karena akses satu-satunya ke kos-kosannya
banjir berat). Sementara kita mengganti channel untuk mencari siaran
dan laporan yang lebih seru. Mungkin di CNN ada detail yang tidak
tertangkap kameramen sini. Mungkin MetroTV lebih updated daripada
Lativi atau SCTV. Eh, tunggu,… ada iklan film favorit di SCTV, jam
berapa tadi? Minggu jam 22.30? Jaripun terus mengganti channel.
Berhenti sebentar di BBC, laporan tentang tragedi lain di kota
lain…oh, ternyata masih soal Aceh. Katanya bantuan dari Inggris
sudah mencapai jutaan poundsterling. Laporan yang berguna buat para
koruptor yang sudah merencanakan penadahan ‘lebihan bantuan’. Bosan.
Koruptor lagi koruptor lagi…balik lagi ke tv lokal…RCTI, SCTV,
TransTV, RCTI lagi, oyah, sekarang jam 6.30, Bajaj Bajuri dulu, balik
lagi ke TransTV, sial. Masih iklan, tengok MetroTV dulu. Suara air
bah memenuhi tv, lalu ruangan, lalu menyedot perhatian, rekaman
amatir Hasyim yang legendaris itu lagi-lagi jadi filler acara-acara
baru yang dibuat khusus untuk ‘menyikapi’ bencana Aceh. Telepon
berbunyi, seorang teman menelepon, ada janji nongkrong di mal,
mungkin ngopi-ngopi, atau nonton film. Menelepon sambil ngemil
sementara penyiar di televisi menyiarkan berbagai berita bernada
sendu tentang mereka yang kehilangan keluarganya dan harus terpaksa
meneruskan hidup dalam kesedihan.

Lagi-lagi gambar mayat menggembung yang diangkat dari laut dan
reruntuhan bangunan yang dulunya rumahnya, atau ruamh selingkuhannya
atau rumah leluhurnya, footage ibu yang menggerung-gerung menggerungi
anaknya yang sudah tidak bernyawa. Mama mengupas mangga yang katanya
makin lama makin mahal. “Sekarang harganya 5000 perak satu mangga.
Ini yang rasanya paling enak. Aduh, ya ampun, itu liat, kebayang
setiap kali puing-puing dibersihin ketemu mayat lagi, mayat lagi.”
Sambil mengunyah mangga. ‘Kamu tau nggak, setiap hari relawan-relawan
itu menemukan mayat di puing-puing.’ Iya, Ma. Sudah sebulan aku
dengar ini terus. Sepertinya dia selalu lupa aku juga ada di dalam
ruangan yang sama waktu dia ngomong hal itu pertama kali. Manusia
juga senang lupa dan seringnya bukan karena dia sudah tua. Mama
melengos kesal dan meneruskan mengunyah mangga.

Penderitaan orang lain selalu lebih nikmat daripada penderitaan kita.
Iya yah? Apalagi kalau sambil makan mangga dan kripik kentang.
Sementara Papa menyeduh kopi import di dapur. Aku, duduk di sini
mengetik cuplikan otakku yang sarap. Yang berpikir bahwa manusia
senang menikmati penderitaan orang lain. ‘Well, it’s funny because it
happens to other people.’ begitu pembelaan Homer waktu melihat
tetangganya tertimpa musibah. Hidup adalah sebuah tontonan kartun
sarkastik yang tidak baik ditonton oleh anak kecil. Channel tv terus
berganti, berita Aceh terus membah seperti tsunami itu sendiri.
Kenapa harus sedih, kan dosa kita dihapuskan, kalau aku malah ngiri
karena nggak keseret tsunami. Kenapa jadi dianggap penderitaan, kan
jadi lebih enak kalau mau memulai hidup kita dari awal, seperti baru
dilahirkan kembali. Kenapa jadi dibilang bencana kan justru akan
lebih mudah membangun kota yang mungkin sudah semrawut sebelum
terlanjur menjadi seberantakan Jakarta. Koq bukannya berjanji dalam
hati untuk lebih memperhatikan gejala-gejala alam? Koq bukannya jadi
berjanji pada diri sendiri untuk lebih mewaspadai peringatan Badan
Meteorologi? Koq bukannya malah jadi introspeksi kalau mungkin saja
kebiasaan buang sampah sembarangan dan hidup jorok yang bikin banjir
selalu datang dan datang lagi? Koq bukannya sadar kalau ini semua
peringatan dari Tuhan, bukannya bencana?

Ini justru anugerah. Ini justru harus dirayakan. Kita masih
diperhatikan. Kita masih diberi kesempatan untuk mawas diri. Kita
masih diberi kesempatan untuk memperbaiki diri. Memperbaiki kota yang
mungkin akan lebih hancur karena tangan manusia dan makin bersimbah
darah. Kita tidak harus kesal karena kita nggak sempet-sempet ke
Phuket yang toh, sekarang jadi pulau berhantu bule. Kita seharusnya
malu karena berbagai negara orang kafir itu datang dengan bantuan
yang lebih meyakinkan. Lihat Perancis dengan rumah sakit tenda
daruratnya. Juga Jerman. Dan Inggris. Obat-obatnya jaminan mutu,
perban-perbannya nggak dikorupsi. Obat merahnya nggak dicampur air,
dan biskuit-biskuit sumbangannya penuh gizi. O yah, plus daging
kornet qurban. Koq ya sempat juga di-design kalengnya.

Aku juga senang melihat penderitaan orang lain. Karena memang
membuatku jadi lebih waspada, tapi maaf - aku belum bisa merasa
kasihan atau iba. Aku lalu membuat berbagai skenario di dalam otakku
tentang apa yang akan aku lakukan kalau musibah terjadi padaku. Tapi
aku juga bukan Tuhan, yang Maha Tahu kapan akan ada musibah.
Membuatku semakin harus siap dan meyakinkan diriku sekali lagi, untuk
selalu memakai pakaian dalam yang matching dan tidak robek-robek. Dan
untuk langsung mengajarkan arti kematian dan kehidupan ke anak-anakku
nanti.

Di TV, siaran tentang musibah yang menimpa Aceh masih berlangsung,
diselingi iklan obat nyamuk dan esgrim Walls rasa moka dan tiramisu.

(Pernah di-post di milis private CDAGroup. Dua tahun yang lalu.)

Let’s Judge *Any* Book By Its Cover.

March 20th, 2006

Yeah. Let’s. Because I’m a designer. Of course I have to judge a book by its cover. I luuurrve judging a book by its cover. That’s all I do when I go to bookshoop. For each and every single books I have bought, I picked it because I like how the cover looked and how the title read. Like, who doesn’t? If there’s anybody out there who’s ever judged a book by its plastic wrap or the barcode at the back of the book - which, by the way is part of the cover, call me. Besides, we’re gonna put about the whole world of them designers off work and where the hell are they going to put Fabio when no one is judging a book by its cover anymore?

Anyway, the way I see it, judging a book by its cover has to go through what I call The 5-Book-Judging-Steps and The 3-Book-Judging-Steps. In fact, I am judging one right now. The cover looks classical. Black and white photograph of supposedly Sigmund Freud, but is stylized and has little black lines running over it. The title reads, ‘Sigmund Freud, The Unconscious’. What’s the deal with the unconscious? Does it do things we don’t know about? How do we explain it? Then I look at the back cover and there’s a 2nd paragraph that reads, ‘This volume contains a key statement about evidence for the unconscious and how it works.’ Interesting. And the white sticker on the bottom right corner says its price. And within seconds, the book is already in my hand. Almost mine. The promise of understanding how the unconscious works intrigued me and hypnotized me to possess it. Aha! I see it working already, my subconscious.

So, then I was using my 3-Book-Judging-Steps. Because I knew the author. His name was credible enough for me to pick it up off the shelf. I didn’t need to be lured by the attractive cover. And by this stage I could buy any title as long as it’s by the same author. But in the days when I’m not prepared, here’s what I do:

The 5-Book-Judging-Steps
First, I would stop and pick it off the shelf if I find the cover eyecatching. Calling out to me. Eye catching. Designed in a certain way that it’s demanding my eyes to look and stop my walk.
Second, I judge it by its title. Is it talking to me? Intriguing in a certain way that I feel relate to it? Is it what everyone’s reading? (because if it is what everyone is reading then I would avoid it)
Then the 3rd time would be judging it back cover where I usually find testimonial and a paragraph or two that tells me what the book is about.
The 4th time I would definitely judge its weight and paper and thickness and then, last but not least,
for the 5th step, I always, always, always considerately judge the book by the price that’s printed on its cover. Well, can you blame me?

These steps give you just the right book by the hammer. You’d leave you with a good feeling and a premise of learning something new today. Plus, it saves you from having the ‘o-shit-this-isn’t-the-kind-of-book-I-wanted-to-get-I-knew-I-should-have-bought-magazine-instead moment. And if you’re wondering about the 3-Book-Judging-Steps steps, just lose the 2 first steps of the 5-Steps and you’ll be in good shape.

So, guys, people, kindred spirits and devoted bookworms, let’s happily judge books by their covers, starting right about now, shall we?

“NANTI DOSA, LHO!”

March 18th, 2006

Sore-sore gini, gara-gara ada tamu yang bertandang dengan terlebih dahulu mengucapkan ‘assalamualaikum’ dan mengantarkan undangan WAJIB pengajian di mesjid dekat rumah, saya jadi terpikir untuk menuliskan sesuatu tentang agama. Terjadi dilema. Saya bukan lulusan fakultas teologi atau kelompok pengajian A dan B dan C. Saya juga tidak hafal Al Quran dan baru membaca Al Quran sampai Surat Al Baqarah dan itu pun harus saya ulang lagi dari awal karena saya lupa apa arti tiap ayatnya. Kadang saya shalat 5 waktu, kadang tidak. Saya ingat pelajaran Agama bukanlah pelajaran favorit saya sewaktu di sekolah dulu dan tidak tahu apa arti agama saya sendiri bagi kepentingan kehidupan saya, sampai kira-kira 9 tahun lalu. Tapi saya tetap ingin menuliskan sesuatu.

Karena yang saya ingat dari pelajaran agama di sekolah adalah semua hal bisa mendosakan saya. Dari mulai menoleh ke dalam toilet untuk melihat bentuk pup saya, sampai soal perzinahan. Dan yang mengukur dosa adalah manusia lain jua dari asumsi yang diambil dari kitab suci. Karena Tuhan tidak dengan jelas-jelas mengirimkan lewat pos berapa limit dosa yang sudah kita gunakan sampai hari ini. Jadi kita tidak pernah tahu. Atau tidak mau tahu. Tagline dari pelajaran agama yang ternyata tetap saya dengar sampai belasan tahun kemudian dan saya anggap sebagai propaganda adalah ‘Nanti Dosa, Lho!’ Dan itu mengacu kepada hal paling penting sampai yang paling tidak penting untuk diributkan menurut saya, seperti adanya patung atau lukisan berbentuk makhluk hidup di dalam rumah. Memakai dasi bagi kaum pria karena bentuknya seperti salib. Mengucapkan selamat hari raya lain kepada yang beragama selain Islam. Tidak makan di restoran Cina karena pasti binatangnya disembelih tanpa membaca basmalah. Memakai, membaca, membeli, mengkonsumsi segala hal yang asalnya dari orang kafir yang dalam artian global salah kaprahnya adalah orang yang non muslim. Dan lain sebagainya lagi.

Dan polisi dari semua jenis pengaturan dosa ini adalah manusia. Yang adalah rekan kehidupan saya di alam fana ini. Yang berarti adalah salah satu dari kita sendiri. Yang membuat saya jadi bertanya-tanya, kenapa manusia harus sering merasa sok benar? Selalu tahu apa yang jadi dosa orang lain dan bukan dirinya sendiri? Selalu merasa berhak untuk menentukan siapa yang akan masuk neraka dan surga? Selalu merasa berhak mengadili kesolehan orang lain dalam menjalankan ibadahnya? Dan merasa berhak menghukum kesalahan orang lain dalam beragama?

Saya jadi sedih. Saya memang bukan ahli Al Quran. Bukan ahli shalat. Bukan juga ahli agama. Tapi saya merasa bahwa agama sudah menjadi sesuatu yang salah kaprah. Dijadikan tameng dan alasan untuk meluluskan maksud-maksud tertentu dari pihak-pihak tertentu. Dipaksakan untuk dianut dan ditakuti. Dijadikan alasan untuk pembelaan pelecehan agama yang berbeda. Dijadikan sarana cuci tangan orang-orang yang mempunyai tujuan rahasia. Dianggap selalu diancam oleh pihak ketiga keempat kelima keenam dan seterusnya, untuk disusupi atau dihancurkan. Dibuat tidak menarik dengan para praktisinya yang selalu terlihat berdemo dan menyatakan pendapatnya dengan kasar dan teriakan-teriakan penuh amarah serta acungan tongkat dan senjata tajam. Diganti dengan uang dan kekuasaan.

Saya jadi gerah. Saya jadi gundah. Saya mencintai agama saya, tapi dia terus menerus didustai pengikutnya sendiri. Dijadikan kambing hitam dan dilelang ke berbagai forum. Saya ingin tetap menjadi orang yang beragama di mana saya bisa menjalankan ibadah saya dengan tenang. Dengan terarah. Dengan santun dan berpendidikan. Di mana pemahamannya akan membuahkan kemajuan dan peningkatan taraf hidup yang bisa menjadi contoh. Tanpa adanya paksaan dan ancaman-ancaman propaganda ‘NANTI DOSA, LHO!’ Saya merindukan kesantunan. Saya merindukan sharing knowledge yang berpendidikan. Yang bisa meninggalkan manfaat bagi anak cucu saya. Saya merindukan kualitas kehidupan sehari-hari dan kualitas manusia yang saya temui walau tidak saya kenal. Saya merindukan perlakuan santun sesama manusia. Di mana manusia diperlakukan seperti manusia lainnya dengan baik. Seperti di banyak negara orang-orang yang dianggap kafir bagi mereka yang picik.

Tiba-tiba saya tidak ingin menulis sesuatu tentang agama lagi. Saya ingin menulis seandainya saya menjadi seorang wanita Arab yang bukan Muslim. Atau wanita Arab Muslim yang diam-diam mempunyai sindikat penari perut merangkap striper. Atau hal-hal lain yang berkontradiksi seperti itu. Karena tulisan mengenai agama hanya tepat ditulis oleh seorang Quraish Shihab atau almarhum Nurcholis Madjid. Yang dapat menggambarkan dan menuliskan betapa santunnya agama dan kehidupan beragama itu. Betapa inteleknya. Betapa indahnya. Betapa menyejukkan dan membuat kita yang membacanya belajar dan berjanji bahwa kita akan menjadi manusia yang lebih baik lagi hari ini. Tanpa paksaan. Tanpa ketakutan akut akan propaganda kosong yang berbunyi, “NANTI DOSA, LHO!”

The …ally Factor

March 18th, 2006

Physically, I miss you
Mentally, I miss him
Intellectually, I miss that guy
Geographically, I miss this guy
Socially, I miss us
Romantically, I miss you again,
Generally, I miss man.
Essentially, I miss sensible man
As a matter of factly, I miss quality man.
Definitely not the one named Ally.

It’s Hot.

March 14th, 2006

Ah. Selasa. Tanggal 14 Maret 2006. Hari ini ada yang ulang tahun. Ada banyak deadline. Ada teman-teman yang sakit. Ada teman yang patah hati. Dan ada yang baru dapet job lagi setelah sekian lama nggak kerja. Ada juga yang bergosip lewat Yahoo Messenger dan asik ngetik apa yang ada di otaknya dari tadi. Sibuk. Semuanya beraktifitas. Semuanya melakukan kegiatan yang berguna. Sama bergunanya dengan sinar matahari bagi kelangsungan ekosistem.

Tapi sinar matahari panas. Kata orang-orang. Panas? Panas apa? Biasa kan? Namanya juga matahari. Bahaya buat kulit, kata mereka. Iya, tapi seharusnya kita sudah makin biasa dong sama kondisi cuaca macam gini. Bayangin, udah berapa puluh tahun coba? Harusnya yang ngeluh anak-anak yang umurnya masih 1-2 tahun, karena mereka belum biasa sama kondisi cuaca bumi. Maklum dong, jam terbangnya masih dikit. Tapi kenapa ya kita masih aja berasa harus ngeluh? Panas ah. Gila panasnya. Ya ampun panasnya. Gila gak kuat gue panas di luar. Ampun deh di luar, panas gila. Coba deh, berapa kali kita ngomong kayak gini sepanjang 15 tahun terakhir hidup kita? Panas hari ini tuh sama aja kayak panas hari kemarin, dua hari yang lalu, dua minggu yang lalu, dua bulan, dua tahun, dua belas tahun dan dua puluh tahun yang lalu. Sama. Toh kita memang tidak menghabiskan 300 hari lainnya dalam setahun di bawah hujan salju dan runtuhan glacier kan? Bung, Jeng, ini negara tropis, udah bakatnya dan bawaan oroknya panas. Kali nggak?

Lagian bukannya kita udah sering baca kalau ada panas matahari supaya pakai:
1. Payung
2. Topi
3. Sunscreen
4. Berlindung di bawah bayangan pohon
5. AC
6. Atap rumah
7. Dalam gedung
8. Dalam mall

So what kalau udara di luar panas? What do we do? Write a long caption about how hot it is and stop all activities? Bukannya udah pernah ya kita panas kayak gini waktu kita kecil? SMP? SMA? Kuliah? Pas ke-gep nyolong mangga? Pas lagi pedekate sama si anu dan ngikutin dia jalan pulang dari belakang sama anak-anak? Pas lagi nunggu bis? Nunggu taksi? Manggil tukang bakso dan beli rokok? Kalau kita bukan kuli bangunan atau tukang asongan, pilihan kita banyak lagi. Bisa di mal, bisa di dalem rumah aja, bisa di kantor, bisa di mobil, bisa mandi air dingin. Bisa beli vitamin C biar badan kita tetap imun dan kesehatan terjaga. Bisa minum air dingin dan menyegarkan dahaga. Semua ada. Tinggal dipilih. Walaupun memang kurang dramatis kesannya kalau nggak ada komentar.

Tapi ini tahun 2006, hari Selasa tanggal 14 Maret. Jam 5.30 sore, matahari bersinar seperti biasanya kalau dia lagi bersinar dan seperti layaknya summer di negara-negara 4 musim, jam 6 sore nanti sepertinya langit masih akan terlihat terang. Dengan cerahnya. Memang lebih panas dari biasanya mungkin, karena kita baru saja melewati musim hujan, tapi memberikan panas adalah hal yang sudah biasa dikerjakan matahari dari sejak awal mulanya dia berpendar. Tapi matahari bukan manusia, dia nggak ada otaknya, jadi ngga bisa mikir dan mengira-ngira, apakah dia terlalu panas hari ini? Atau apakah panasnya terlalu nampar hari ini? Atau tiba-tiba jadi nggak enakan untuk keluar karena takut manusia jadi kepanasan.

Dan manusia adalah manusia. Makhluk ciptaan Tuhan dengan volume otak yang cukup untuk membuat kita terpikir untuk menyikapi panasnya sinar matahari hari ini dengan lebih biasa. Tidak dramatis sih, memang, tapi…it’s hot.

(Judul diadaptasi dari 3 kata paling fenomenal dari Paris Hilton)

BULK MAILS BEHAVIOR

March 14th, 2006

Aaaaaaaaaaaaaargghhh….!!! Why? Why are you doing this? Popping up every too often? Like unwanted bulk mails from some persistent porn sites that send you all the wrong messages about men-women-and the genitals and make me go ‘No! No! NO! I don’t want to know anything about penis enlargement and some kinky gang bangs nor unlikely midget orgies and that blue pills and the new God called Viagra’. So please. Please. Stop. You’re going to bore me to the core and I still want to like you as a decent person that calls occasionally, emails moderately and invite me out non-chalantly, because deep down, I know you’re a nice distinguished gentleman. And you can be. So…no more Bulk Mails Behavior, please.

Tai Chi Master

March 14th, 2006

Minggu pagi yang biasa. Seperti layaknya keluarga-keluarga lain di RT/RW biasa, keluarga di rumah yang satu ini juga melakukan kegiatan hari minggunya. Anak perempuannya baru saja kembali dari jogging mengitari taman di kompleks perumahan situ. Sementara sang ayah terlihat mondar-mandir membawa lap kotor nggak jelas membersihkan apa. Terdengar suara pintu mobil yang dibuka tutup. Sang ibu sedang melukis sawah,”Dari foto-foto waktu di Tegal Alang.” katanya sambil tetap melukis.

Setelah melakukan beberapa set weight lift sederhana, si anak perempuan masuk ke ruang tengah di mana ada satu peralatan elektronik seperti TV, CD/VCD/DVD Player dan speaker. Sebelumnya dia mengambil minum. Dia memasukkan VCD Pilates ke dalam player. Terdengar suara seorang perempuan Inggris memberi pengarahan. Si anak perempuan memperhatikan. “”Woooh,…kayak Tai Chi tapi repot, soalnya harus pake matras segala. Sebetulnya semua olahraga itu sama ya, cuma soal nafas aja.” kata sebuah suara wanita berlogat Jawa dari arah kanan si anak perempuan. Sang Ibu tetap berdiri di samping anak perempuannya memperhatikan perempuan Inggris di VCD memberi petunjuk. Lalu dia manggut-manggut tanda mengerti dan serta merta melakukan gerakan-gerakan tangan dan kaki yang seperti gerakan Tai Chi. “Sama ya kayak Tai Chi, dan kalau bener gerakannya harus ditarik gini.” katanya lagi sambil menarik lengannya ke depan dan ke belakang. Sang anak hanya melirik sambil matanya tetap ke televisi. Dia memraktekkan sebentar gerakan Pilates basic yang sebetulnya hanya duduk tegap sambil bernafas perlahan dan kedua lengan digerakkan berputar pada pangkalnya.

Setelah sekitar 10 menit, sang anak mematikan VCD dan berjalan ke dapur mengambil minum. Masih terdengar suara sang ibu yang tetap menerangkan kelebihan gerakan Tai Chi. Ya, tetap dengan logat Jawanya. Sang anak meregangkan tubuhnya. Dia berpikir, ‘Perkara nafas saja bisa bikin rasa badan jadi beda. Ini baru latihan awal 10 menit badannya sudah terasa pegal.’ Sang ibu berjalan ke arah CD player, mengambil CD berjudul ‘Indian Meditation’ dan memasang lagu nomor 9. ‘Ini lho, cocok banget untuk satu sesyen ful Tai Chi yang gerakan ini.’ Mulutnya sedikit komat-kamit berhitung dan dalam hitungan detik, sang ibu sudah melagakan gerakan-gerakan Tai Chi, di sela-sela nafasnya dia berkata,”Ini lho, cocok banget ya lagunya, nanti kamu liat deh. Duh, ini kalau lagi sendirian dan konsentrasi rasanya badan bisa kayak terbang.’

Sang anak memperhatikan tertegun-tegun. Ibunya ini absurd. Selain masakan, ternyata banyak juga tingkah lakunya yang ajaib. Seperti misalnya sekarang ini, di mana dia bisa saja tiba-tiba berhenti melukis sawah Tegal Alang yang njelimet dan langsung mendemonstrasikan satu sesi Tai Chi Master, masih dengan daster batiknya. Lalu ketika sampai pada gerakan yang harus menggunakan gerakan kaki, tiba-tiba dia mengangkat dasternya begitu saja sampai ke pinggang. Astaga. Dan berseru,”Aku lagi pornoaksi nih. Hahahahaa…Haduh, keringetan.” Sang anak mengomentari kelakuan ibunya sambil tetap memperhatikan. Tiba-tiba sang ibu berkata bahwa tadi ada gerakan di VCD-nya yang mengingatkan sang ibu pada senam seks. “Nanti aku ajarin juga habes kita selesai Tai Chi.” Waduh.

Sambil masih tertegun-tegun, sang anak berpikir apa yang akan terjadi pada ibunya ini kalau saja dia menikahi orang yang lebih aktif pro aktif dan lebih dominan. Ibunya ini dulu pernah mengatakan sesuatu yang membuatnya sedih, bahwa katanya, kalau ada kesempatan mungkin dia tidak akan menikahi pria yang dinikahinya 36 tahun yang lalu itu. Sang Ayah. Mereka memang hidup tenang dan senang, tapi Ibunya sering dibuat kesal akan tingkah laku sang ayah yang ada saja kurang cocoknya dan menurutnya cukup pasif. Bukannya ayah takut ibu, tapi ayah memang jarang vokal dan meledak-ledak seperti ibunya, seperti sekarang ini. Kadang dia melihat sang ibu yang begitu hidup dan menikmati keindahan-keindahan kecil di dalam kehidupannya dengan gembira seperti anak kecil. Kadang dia mendapati sang ibu seperti sedang merenungkan ’seandainya’ sambil memandang jauh ke taman.

Lagu nomor 9 sudah selesai, endingnya yang fading out berakhir bertepatan dengan gerakan Tai Chi sang ibu yang terlihat seperti gerakan penutupan. Dia mengibaskan poninya. Keringat betul-betul bercucuran dari dahinya, tapi dia terlihat gembira. Lalu dia mengembalikan lagu ke nomor 1 dan mengajak anak perempuannya Tai Chi, “Ayo, sebentar aja. Setengah jam aja. Tiap set 5x 5x. Hayo. Kamu kan sudah lama ndak Tai Chi.” Sang anak pun mengikuti. Betul juga, dia sudah 3 bulan tidak Tai Chi.

Di dalam hati dia merasa beruntung bahwa dia bisa menghabiskan waktu melakukan hal-hal kecil yang tidak biasa walaupun hanya seminggu sekali, bersama sang ibu yang ajaib ini. Perasaannya tidak bisa dijelaskan dengan kata-kata. Tapi hatinya tahu kalau kegiatan mingguannya bersama sang ibu akan menjadi cerita yang dia banggakan ke anak-anaknya nanti, sama seperti ketika sang ibu membanggakan nenek yang selalu dibuatnya repot memenuhi tuntutan ‘fashion’-nya. Sembari menghirup nafas di antara gerakan Tai Chi sang anak tersenyum dan berkata di dalam hati, ‘Mama, aku mencintaimu.’

Matahari Yang Kehujanan

March 12th, 2006

Wanita: “So?”

Pria: “Iya, so. Aku, mau minta maaf. Aku salah. Mungkin kamu benci aku sekarang, mungkin kamu sebetulnya kesel dan marah sama aku walaupun kamu tetep bisa senyum dan menyapa aku seperti kamu menyapa temen-temen kamu. Tapi…aku bisa ngerti kalau kamu marah. Karena aku udah bodoh banget untuk menyia-nyiakan apa yang kita punya.”

Wanita: “Haha…Gue nggak marah koq. Secemen itu ya pendapat lo tentang gue? Gue masih respek sama lo. Nggak ada yang perlu bikin gue jadi harus marah sama lo, bo. Dan gue juga nggak punya alasan untuk nggak memperlakukan lo kayak gue memperlakukan temen-temen gue yang lainnya, wong lo masih temen gue koq. Udahlah, lo nggak perlu repot-repot mikir apa yang ada di dalam otak gue. Momen gue sama lo udah lewat, itu aja. Well, oke, mungkin gue sempet agak kesel. Karena gue salah mengira siapa lo. Gue kira lo cowok yang beda dari cowok-cowok lain yang gue kenal. Gue kira lo orang yang bisa bikin gue merubah pendapat gue tentang ‘cowok generik’. Gue kira lo bakal ngasih gue kesempatan untuk…bisa jadi seseorang yang penting di dalam hidup lo. Dan ngasih gue kesempatan untuk membuat lo jadi orang yang penting di dalam hidup gue, but I guess…nggak semua perintilan kehidupan di dunia ini berjalan sesuai yang kita pikir toh? Jadi, kalo menurut gue, kita baik-baik aja koq. Emang apa yang lo rasain sekarang?”

Pria: “Tentang?”

Wanita: “Ya nggak tau. Tentang…lo, tentang gue, tentang sesuatu yang pernah disebut ‘kita’. Tentang dia. Tentang apa yang menurut lo perlu lo share sama gue sekarang ini.”

Pria: “Ummm…ya, aku ngerasa kalau…”

Di luar cafe, hujan yang seperti semangkuk besar samudra yang dibalik, menumpah ruah tak terjaga diselingi suara petir yang berkoar kesal. Blar. Pet. Pet. Pet. Blarrrr…Geluduk yang cupu nggak mau ketinggalan dan sesekali menjawab koar petir. Langit yang lagi nggak mood keliatan makin gelap. Sebentar lagi, lima belas menit lagi saja, beberapa penjuru Jakarta pasti banjir akut. Dilihat dari curahannya, hujan nggak mungkin pulang sore hari ini.

Betul-betul bukan hari yang baik untuk matahari.