Mister Misters
You know there’s something wrong with your social life when the only guy who keeps ringing you is, your ex.
Like today, I got 30 missed calls from my ex. He wanted to talk about something. He wanted to go to the movies and needed a friend to go with. He wanted to see if I’m this and I’m that. Or whether I’m not doing anything so he can chat and ‘just needed to talk’.
Okay, to those who wonder why I still speak to my exes at all should know that I still do speak to most of them. Because personally, I think they are nice people. They may had some glitches when we were together hence we’re not together now, but I still think that as friends, they’re pretty cool. I mean, I wouldn’t want to date *anybody* who I wouldn’t speak to. And I must admit, after breaking up, we actually become better friends. We become very good friends infact that I couldn’t grasp the newborn idea why I ever agreed to be their girlfriend in the first place. Damn.
Like Mr. 30 Missed Calls over here right now. I went for dinner with him the other night and couldn’t figure out why I once thought that he was to be the lurve of my life. I guess the break up was a good thing after all though I foolishly spent 1 year to get over him. And now I couldn’t understand why I did. Maybe it was his family. I loved them I think they’re wonderful. I learnt that I could very well love other people’s family as much as I love the man.
Once, there was Mr. Banker. Who works in a bank and was quiet an eclectic soul. He’s tall dark skinny and almost handsome. He’s cute alright but his idea of having a girlfriend was to have somebody to hang around his living room all the time while he slept or took a nap. Pret-ty different from my idea of being outside with my boyfriend doing fun things like, whatever as long as not sitting inside a living room doing nothing. While he slept! Anyway, that’s passed now. Our only thing in common were the fact that we speak English to each other and his music preference. Other than that we often left it to our stupid and meaningless fights that seemed so sensible at those times, as if it would change anything. I learnt that I couldn’t make myself love anyone I knew I wouldn’t fall in love with in the first place. It’s not a ‘learning by doing’ kinda thing.
And then there was Mr. Romantic from Sydney. He was one of the best boyfriend I’ve ever had. We didn’t actually had to do too much adjustments while we were together. The fact that he’s a Croatian and I’m from somewhere not Western wasn’t an obstacle at all. Maybe I was in love, maybe I was too young to care, but we had the best of times. We were out of the house a lot. Clubbing, swimming, walking around the park and the mall, the Big Day Out, the picnics, the barbeques. Fun. Fun. Fun. Gosh the things I left behind. I learnt that love could be so naturally flowing in like that. No pressure.
Before Mr. Romantic there was Mr. 1st Guy I Had Sex With. He was cool. We had a lot of fun too until one day he decided that his fate lied on this God Forsaken city and his ex girlfriend. Nice. I think I went dead for 4 months or something. Too young, too young…But then the good bands started to come in, y’know, Faith No More, Nine Inch Nails, Foo Fighters, White Zombie, all the favorite bands, came played Sydney so I totally forgot him on the 5th months on. I developed some kind of ‘i think i want to marry you’ detector in a man’s intention. Most of them were detected to be euphoric.
After Mr. 30 Missed Calls I’ve been flying solo. No partner. Not in particular anyway. I learnt that to fully love another person after all those emotional chaos was to be completely alone for a while or til the better man came along. And turned out that it was 5 years ago I decided that. I haven’t been totally alone alone. There were Mr. 1st Manchild, Mr. Big Round Eyes and Flailing Toes, Mr. Hairy Totally, Mr. Vertically Challenged, Mr. Very Vertically Challenged, Mr. Intense Mindblown, Mr. O-Geez-How-Uninspiring, Mr. Andy Garcia Lookalike, Mr. Horny When He’s Drunk, Mr. Professionally Confused, Mr. Supposedly The Don Juan, Mr. DTSH (Dark Tall Skinny and Handsome), Mr. Suave, but nothing ever compares to Mr. 85%. O, yes Mr. 85%. He was my Eternal Sunshine Of The Spotless Mind man.
From each man I learnt that finally there is such thing as non-committal relationship. And it could be fun. And the best thing about being single longer than I planned is that I appreciate myself more. I know what I want from a man and for myself. I become more honest towards myself and the men I’m involved with. I mean, why should I settle for less for the human I’m to share space with? I want things to last forever. And last but not least is, love is not enough, being in love is wonderful but mutual respect is the most powerful and true true love frees your self in full.
My handphone beeped again. A very very familiar name from the past appears on the screen. Someone is about to be Mr. 31- 32 - 33 - 34 Missed Calls.
Uncategorized | Comment (0)SALAM DARI [BUDAYA] TIMUR
Sebuah headline di koran tertulis: ‘BLA BLA BLA TIDAK SESUAI DENGAN BUDAYA TIMUR’. Eh…eh…eh…mau tanya dong…yang dimaksud dengan ‘budaya timur’ itu referensinya ke mana ya?
Maksudnya budayanya orang-orang daerah Jakarta Timur? Tebet Timur? Kemang Timur? Sulawesi Timur? Kalimantan Timur? Nusa Tenggara Timur? Apa Irian Jaya? Papua? Bekasi Timur? Mana niih? Timur manaaaa? Timur Angin? (Timur Angin itu fotografer muda Indonesia asli yang berbakat) Timur apaaaah?? Ha??
Atau Timur yang menurut Barat? Yang artinya adalah Cina. Mongol. Jepang. Korea. India. Bali. Yang artinya secara garis beras mengandung tipe-tipe kebudayaan dengan ciri-ciri seperti ini:
1. Sopan dalam bertutur
2. Sopan dalam berbicara ke orang yang dituakan
3. Makan nasi. Makan nasi. Makan nasi.
4. Pakai kain yang dilibet-libet dalam berbusana.
5. Terbiasa menggunakan tangan atau alat makan yang bukan pisau dan garpu. Seperti misalnya sendok dan sumpit.
6. Sering menyimpan uneg-uneg dalam hati. Nggak suka ngomong blak-blakan gitu maksudnya.
7. Setidaknya memiliki 5 menu makanan goreng-gorengan dalam menu makanan tradisionalnya.
8. Memiliki upacara adat ini dan itu.
9. Memiliki upacara penguburan yang kompleks dan cenderung ribet.
10. Memiliki upacara pernikahan yang kompleks dan cenderung ribet.
11. Percaya akan hal-hal gaib.
12. Bernenek moyang penganut dinamisme.
13. Bernenek moyang seorang pelaut.
14. Percaya sama yang namanya istilah ‘anak durhaka’.
15. Teh itu air putih.
16. Sayur itu ditumis.
17. Tinggalnya di daerah tropis nan eksotis.
18. Memiliki upacara pengusiran setan dan arwah-arwah ‘tidak baik’.
19. Rambut kaum wanitanya hitam, panjang dan [sering] berkonde.
20. Kaum lelakinya tidak mandiri, karena selalu berharap diladeni.
21. Terbiasa memakai sandal.
22. Terbiasa melihat pemandangan sawah.
23. Pengrajin alias kreatif karena apa aja bisa dibikin hiasan yang bisa digunakan dan akhirnya jadi suvenir khas daerahnya.
24. Tari-tariannya banyak menggunakan gerakan tangan.
25. Gerobak, sepeda dan kaki adalah alat transportasi utama.
26. Gemar mengolah berbagai snack dari PISANG.
27. Memiliki huruf khusus dalam bahasanya yang bukan huruf Latin.
28. Senang mandi dan mencuci di kali.
29. Nyamuk adalah musuh utama dalam sejarah peradabannya.
30. Batuk pilek masuk angin, batuk pilek masuk angin, batuk pilek masuk angin, batuk pilek masuk angin.
Atau malah persepsi orang sini berbeda yah? Budaya Timur apakah budaya kita? Budaya kita apakah Budaya Timur? Kalau memang budaya kita itu budaya Timur apa begitu juga menurut orang kita yang ada di Sumatera? Jawa? Bali? Nusa Tenggara? Kalimantan? Sulawesi? Irian Jaya? Dan pulau-pulau kecil lainnya yang katanya masih ada belasan ribu lagi itu? Apakah betul budaya Timur yang dimaksud oleh koran, majalah, televisi dan pemerintah itu maksudnya budaya yang murni Indonesia atau apa ya? Sebetulnya kalau budaya kita itu budaya apa ya? Yang paling melekat sih budaya korupsi. Dan hal-hal lain yang nggak penting tapi malah jadi ‘membudaya’. Seperti misalnya: tipu muslihat, kurang ajar sama orang tua (Malin Kundang, Sangkuriang), berbohong, males, ngelunjak dan nggak bisa dikasihani, makan-makanan yang nggak sehat, ‘lebai’ alias apa-apa sukanya berlebihan, suka mukul anak kecil terutama anaknya sendiri, nggak bisa baca, nyinyir, percaya tahyul, table manner-nya kurang, susah untuk toleransi sama orang lain, suka sok-sokan, manja karena apa-apa pakai pembantu padahal pembantu itu justru tidak membantu karena harus selalu diberitahu.
Atau , apa budaya ‘orang kita’ itu lebih seperti menurut pendapat orang kebanyakan: Bajaj Bajuri? Mengerikan. Kalau memang iya…ini sudah tahun 2006, di mana seharusnya dengan adanya era informasi dan telekomunikasi yang sudah sedemikian canggih, kualitas masyarakat kebanyakan harusnya lebih baik. Tidak bodoh dan melulu lugu seperti Kabayan. Bayangkan karakter-karakter yang ada di Bajaj Bajuri itu menjadi berlipat ganda karena mereka bereproduksi, maka anak-anak yang lahir katanya akan mewarisi perilaku orang tuanya. Yang adalah -bayangkan lagi- para ibu seperti Emak, seperti Oneng, seperti Mpok Minah, seperti Nur, seperti istrinya si Ucup yang gue lupa namanya itu. Dan karakter dari para ayahnya adalah Ucup, Bajuri, si Arab. Betapa mengerikannya. Apa betul kita masih perlu sebanyak itu orang lugu hampir dungu untuk meneruskan perjuangan pahlawan-pahlawan kita Jenderal Sudirman? Pangeran Hasanuddin? Pangeran Diponegoro? Sam Ratulangi? Pattimura? Tjut Nyak Dien? Ibu Kita Kartini? Bung Karno? M. Hatta?
Lalu siapa yang akan membela dan memerdjoeangkan budaya-budaya kita yang masih tersisa ini ya? Yang entah apa bentuknya. Yang jelas sih kalau emas dan hasil bumi lainnya yang penting seperti minyak dan batu bara itu sudah milik semua negara lain kecuali negara kita sendiri, sampai 30 tahun lagi dari sekarang. Lo pikir kenapa namanya Freeport hah?
(Psst, news flash nih, ternyata pulau-pulau pun udah banyak yang milik bangsa asing. Karena dijual sama orang yang mengaku punya pulau itu ke warga asing dengan harga CUMA ratusan juta!!! Huahahahahahahahahahaha…bangsaku…bangsaku…kalau gitu tambahan satu lagi, budaya mata duitan belum gue masukin.)
Uncategorized | Comment (1)NASI PADANG
Huh. Sudah jam makan siang lagi. Dan saya masih di depan komputer saya. Hmm…makan apa ya? Kadang rasanya proses makan memakan itu betul-betul membuang waktu. Karena bayangkan proses yang harus kita tempuh demi makan itu.
KALAU SENDIRIAN:
1. Mencari alat transportasi yang membawa ke tempat makan (bisa nebeng, bisa naik kendaraan umum)
2. Memilih menu (yang ini, untuk delivery aja malah akhirnya jadi bikin tambah bingung)
2a. Memesan makanan lewat Office Boy (yang sering akhirnya tiba-tiba gak jadi karena kita sadar bahwa apa yang kita pesan membosankan)
3. Mencari tempat duduk (heran, kenapa pas kita lagi pengen makan semua orang kayaknya pada pengen makan juga?)
4. Makan. Akhirnya.
5. Mengingat makannya di luar kantor dengan suasana yang sepertinya seru, kita jadi males balik ke kantor.
6. Mencari kendaraan untuk kembali ke kantor
7. Menjadi tergoda untuk konsumtif on the way ke kendaraan kita.
KALAU RAME-RAME:
1. Menunggu teman yang mau makan barengnya
2. Memutuskan untuk makan di mana. Satu orang setidaknya punya ide sendiri dia mau makan di mana.
3. Memutuskan untuk naik mobil siapa, karena repot banget sih mau makan siang aja sampai harus konvoi.
4. Memilih menu (kalau end up-nya di food court biasanya proses makan jadi lebih cepat)
5. Mencari tempat duduk.
6. Menunggu teman yang lagi ‘ke bawah/atas dulu sebentar’
7. Makan.
8. Menunggu teman yang lagi ‘beli sesuatu dulu sebentar’ sebelum balik ke mobil.
9. Menuju ke parkiran.
10. Menunggu teman yang ‘ngintip sale-nya anu sebentar’
11. Menuju kantor.
Hhh…kembali ke saya yang sedang duduk di depan komputer sambil ngetik ini. Office boy saya lewat sambil bawa bungkusan. Dari bentuknya sih kayaknya Nasi Padang. Image ayam bakar dan sambal merah serta nasi putih bersih yang mengepul dari dalam bungkusan daun pisang terbayang di mata saya. Hmmm…nyammm…sepertinya nasi Padang lumayan juga. Cita-cita saya pengen makan salmon sashimi tadi pagi buyar. Untung juga karena saya bisa langsung ke proses No. 2a dan 4. Time saving. Sambil makan nanti saya akan nonton Oprah Winfrey. Atau chanel lain yang menarik. Sekarang berdiri dari depan komputer, mencuci tangan. Bersiap untuk makan. Sejenak saya tertegun. Bayangan orang-orang kelaparan di beberapa negara dan gelandangan-gelandangan yang mengemis nasi muncul di kepala saya. Buat mereka, bisa membuat otot mulutnya mengunyah saja mungkin sudah untung.
Ampun Tuhan. Maafkan saya. Berilah saya selalu kesadaran untuk berterima kasih atas segala nikmat dan rahmat-Mu. Termasuk segala kerepotan yang bisa terjadi pada proses makan. Semoga saya tidak jadi jumawa dan lupa untuk fokus pada kenikmatan menikmati makanan itu sendiri. Amin.
Suara Office Boy yang baru kembali dari membeli makan mengejutkan saya. Nasi Padang. Sederhana dan nikmat. Ah…
Uncategorized | Comment (0)Shipwreck.
I’m running to your place. Yes. Literally. People are looking but I don’t care. I’m not running from the truth but to tell the truth. If you can’t then I will. I can’t stand this. I can’t stand always being the one left behind. It’s 9 pm. People are still driving around and he isn’t usually home yet, I know, but today, he says he’s not feeling well and decided to stay in. I’m panting, realizing what kind of ‘iceberg’ I’m heading. But I am the captain of my own ship. And I’m bringing everybody down with me. I am a captain in love.
His place is nearing. It’s coming into my perspective. My heart is pounding harder. For a split second there I nearly back out. Change my mind. Retreat to the back of the ship. But no. This is a must. I must do this. I must move forward. Iceberg. Cold. Intimidating. I don’t care. There’s no stopping me now. I’m running past the guard. This is a simple apartment building. He’s on 16th floor. My head says I can stop now and change my mind and live in peace. Leave everyone in peace. It’s not too late. Just press another button, any floor and everything is back to normal. No. NO! Goddamnit! NO! I must do this. I must. Press 16.
My head says again,’Nobody’s supposed to know. No one will ever know if you don’t tell. Let’s never talk about it again. Let’s move on.’
The elevator door opens. I jump. Not on 16. A woman walks in. She presses 17. I think I’m perspiring heavily. Maybe I should call first. Maybe not. The elevator stops again. 14. The door stays open but noone walks in. The elevator door closes. Two more floors. I really can still avoid the iceberg and save lives. But what is there to live? How can one live on loveless? Selfless? I’m not heading for death. I’m heading for love. For my heart. It needs to be with him. I know I do.
The elevator stops. 16. I step out. In my head I can picture it so clearly. Most likely he’d answer the door himself. He’d stand there by the door, shell shocked. Giving me ‘what the-?’ look. I’d hug him, tight, while trying to catch my breath. We’d hug, I’d sob. Tell him why I’m there sweating and catching my breath at that time of night. Then another head would poke out of another room behind him and with the confused look on her face that says it all, hurries to the door, to meet us. Not smiling but rather alarmed and stops herself in awkward distance. My Iceberg.
“What’s going on? Are you okay?” A question not for the woman by the doorstep but to the man hugging the woman by the doorstep. But the woman answers anyway,
“I…ah…hah…I’ve fahllenh…inh…lovve…hhh…with…your husband.” I could feel the tip of the iceberg pricking my ship. “And so has he.” And then all was black. And light and unfamiliar. Disoriented. Foreign. I’m sinking. I’d think I’d hear a crash or something that’d feel like it from inside me.
I’m on 16. Blue door number 25. My index finger is at its door bell. How fitting, blue door. What am I waiting for?
Uncategorized | Comment (0)Bubur Ayam vs Nasi Goreng
Nasi goreng itu kayak mantan pacar yang ngertiin kita banget tapi somehow nggak bisa bikin kita jatuh cinta. Dia selalu bisa diandalkan di saat-saat genting dan di mana situasinya emang bikin kita jadi nggak bisa milih yang lain lagi. Tapi udahannya tetep bisa bikin kita feel better dan lumayan kenyang. Dan besoknya kita udah melupakan semuanya tentang nasi goreng itu, karena kan nggak mungkin kita makan nasi goreng tiap hari tiga kali sehari. Walaupun, dia selalu ada di mana-mana 24 jam year in year out. Sementara itu, bubur ayam adalah seperti sahabat yang selalu mau ndengerin curhatan kita tapi kalau waktunya pas. Abis adanya cuma pagi hari aja atau 24 jam tapi hanya di tempat-tempat tertentu dan harus disamperin.
Pagi ini abis olahraga, gue nunggu-nunggu tukang bubur ayam. Tapi nggak lewat-lewat udah setengah jam. Dari dapur, aroma masakan nyokap yang gue curigai sebagai nasi goreng, mengganggu penantian gue akan bubur ayam.
Dan sekarang gue lagi duduk di depan sepiring nasi goreng buatan nyokap. Nyokap gue itu absurd dan jagonya bikin makan-makanan yang nggak selalu bisa dimengerti rasanya. Gue inget dulu gue punya cowok yang makannya susah. Selera bule tapi bentuknya telak pribumi. Dia maen ke rumah, biasalah, malem mingguan gitu, terus pas jam makan malem, tentunya nyokap ngajak dia makan juga. Waktu itu nyokap masak ayam goreng yang dibumbui salah satu bumbu absurdnya. Pokoknya rasanya itu antara sze chuan sama bumbu singapur yang berasa banget arak inggrisnya tapi ada taburan bawang putih gorengnya juga. So, makanlah kita semua. Dari bentuk sih masakan nyokap emang nggak jelek-jelek amat, apalagi baunya. Hmmmm….wangi. Tapi rasa…hahahaha…gue nggak tanggung. Cuma kan gue udah biasa banget sama rasa absurd masakannya, bayangin, 23 tahun gue ngerasain rasa absurd masakan-masakannya. So gue cuek aja makan walaupun emang agak aneh. Tapi nyokap selain absurd juga iseng dan agak masokis. Karena dia tiba-tiba nanya, “Gimana? Cocok makanannya?” Gue tentunya pengen ketawa dengernya, karena gue yakin, cowok gue itu pasti nggak akan jawab diplomatis secara dia itu lumayan manusia gua dan konsep basa-basinya adalah Tarzan, jadi dia jawab,”Rasanya agak aneh, Tante.” Dan kita semua langsung ketawa dengernya. Nyokap gue juga udah tahu kalau rasanya agak aneh, dia kan juga penikmat makanan enak selain pemasak makanan absurd. Hikmahnya, jawaban mantan gue waktu itu memacu nyokap gue untuk lebih giat lagi nyoba-nyoba masak masakan dengan rasa yang lebih manusiawi.
Anyway, kembali ke sepiring nasi goreng di depan gue. Nyokap gue juga seneng banget masukin sayur-sayuran gengnya gado-gado ke dalem nasi goreng. Nggak penting ya? Dulu ada masanya dia demen banget masukkin toge dan gue bakal ngabisin waktu kira-kira 10 menit cuma untuk milihin toge itu ke pinggir piring. Nggak penting. Setelah beberapa kali gue komplen nyokap emang nggak masukkin toge ke dalem nasi goreng lagi. Tapi sepiring nasi goreng yang ada di depan gue sekarang ini lebih parah lagi dari nasi Goreng Ala Toge yang dulu-dulu.
Nasi goreng pagi ini warna warni. Dipenuhi irisan-irisan kol merah, kacang polong, wortel, seledri (gue sebel banget sama seledri), toge (’Cuma sedikit koq, itu sisa.” kata nyokap), dan jamur. Jamur! Jadi kesimpulannya, dia masak salad pake nasi. Terus digoreng. Jadinya absurd banget. Gue tiba-tiba kangen nasi goreng tek-tek abang-abang yang biarpun banyak irisan kol sama sawinya tapi masih lebih banyakan nasinya. Gue kangen sama bentuk dan rasa khas nasi goreng yang bisa diandalkan itu. Tiba-tiba gue jadi sedih karena ‘cita-cita’ gue pagi ini untuk memasrahkan selera makan gue ke nasi goreng jadi buyar. Tiba-tiba image tentang mantan yang baik hati dan bisa diandalkan di saat genting itu jadi hilang dan bikin gue jadi bete. Tiba-tiba gue jadi pesimis karena gue pikir, kalau untuk urusan nasi goreng aja udah nggak ada yang bisa diandelin lagi, gimana untuk urusan yang lain? Tiba-tiba gue nggak napsu makan dan terpaksa mencari apel. Tiba-tiba gue jadi kasihan sama nyokap gue dan terdorong untuk meminta dia berkebun aja daripada belajar masak.
Tiba-tiba di luar ada seruan yang udah gue kenal dari sejak kuping gue bisa mendengar dengan baik, seruan si ’sahabat sang pendengar yang baik’ itu tadi, “Buuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuurrr ayaaaaaaaaaaaammm…!!!”
Uncategorized | Comment (1)Voulez Vouz Snorez Avec Moi?
My neighbor snores. I dunno which one, but judging from the sound it’d be the guy from the room 2 doors down from mine. He also talks in his sleeps. You would know the difference between sleep talk and people on the cellphone. It was all mumbling and gibberish, the not-making-sense words. It’s almost 4.30 am and all I heard since 3 o’clock was his snores. I’m in my rented room somewhere in South Jakarta. A reasonable lodging compound where the hall fits 2 skinny persons and the rooms aren’t sound proof, apparently. Well, listen to this now. Snore snore mumble snore snore incongruent gibberish snore snore snore…
Sometimes I can hear him talking to his friends in his cell and he souded like a cheap bastard. The kind that throws inappropriate jokes to just about everybody and the kind who laughed at his own so totally not funny jokes. He also listened to a lot - A LOT - of Top 40 songs and let his TV on MTV for 247. Urgh. I tried putting on my headphones and it didn’t work. A faint unfamiliar sound to the songs I listened to, always kind of crept in and it was his snore. I felt like Donald Duck trying to sleep and the harder I tried the louder everything seemed. It wasn’t the grinding sound type of snore. It actually had a regular pace and sound, but it was just loud. It reminded me of a fling who snored loud enough to scare alien space ships that after the first time I spent the night, his snores echoed in my head for two days. Then I met a friend’s friend. Who is horizontally challenged and snored like an angry boar. Not that I intimately involved with him or anything, but he often came to my office to pick up my friend and fell asleep on the sofa with his mouth slightly open and snored away. One night he gave my Boss a heart attack, it was so loud and alien that my Boss thought somebody was chainsawing his way to the wall.
Wait! Hey! My neighbor has stopped snoring. Hmmm…maybe that’s how things work. In order to conquer a loud snore, think of another person *you know* who snore even the loudest. A ha.
(lullaby song playing…)
Uncategorized | Comment (0)The Story Of Us.
The sun rises at dawn, bids farewell to the moon,
“You will make my day.”
And the moon bids the sun farewell as it sets,
“And you, shall make my night.”
Stale Brew.
You, are like what coffee does to me. Keeps me awake for a short time but puts me to sleep for a long time.
Uncategorized | Comment (1)Waktu Singkat Pinggir Jalan
Wanita: “Saya sudah terima sms-mu. Terima kasih. Aku sangat menghargai kebesaran hatimu. Maaf tidak kubalas. Aku tidak tahu apa kegunaannya.”
Pria: “(tersenyum) Koq gitu? Aku serius. Aku…”
Wanita: “Maksudmu apa? Sharing perasaan di hari Valentine? Atau itu salah satu dari pancingan gombalmu?”
Pria: “Koq, kamu gitu? Aku betul-betul kangen. Aku kangen ngobrol sama kamu tentang apa aja. Aku sudah bodoh bikin kita jadi seperti sekarang ini. Nggak bisa ngobrol lagi.”
Wanita: “(senyum) Kalau cuma untuk mengobrol aku bisa kapan saja. Kamu tinggal telepon seperti yang sering kau lakukan dulu. Aku toh tidak pernah mengasingkanmu. Aku masih menegurmu seperti aku menegur orang-orang lain yang aku kenal dengan baik. Kamu masih aku anggap teman baik. Aku akan tetap tersenyum kalau aku berpapasan denganmu di jalan, di pesta, di kantor, bahkan pada saat kau bersama seorang wanita, siapapun dia.”
Pria: “Jadi ini persoalan wanita lain?”
Wanita: “(memotong cepat) Ini bukan persoalan apapun yang lain-lain. Aku hanya menyesal telah tahu kalau ternyata kau seperti kebanyakan lelaki lain yang aku kenal.”
Pria: “Maksudmu?”
Wanita: “Maksudku, kau seperti kebanyakan lelaki lain yang aku kenal. Menginginkan segala-galanya dan takes things for granted. Menyesali semuanya saat kamu sudah tidak lagi memilikinya. So typical.”
Pria: (menyalakan rokok tanpa melihat ke lawan bicara)”Aku begitu ya?”
Wanita: “Tidak apa-apa. Bukan sesuatu yang baru bagiku. Rasanya hampir semua lelaki yang aku kenal seperti itu. Aku hanya menyesali bahwa ternyata kau juga begitu. Ini sudah pernah terjadi padaku. Kadang aku merasa mungkin aku turut andil dan bersalah saat setiap kali seorang pria yang dekat denganku menjadi seperti setiap orang lain yang tidak kukenal. Tapi lalu aku sadar bahwa semuanya itu pilihan. Baik bagi pria itu maupun bagiku. Dan aku rasa, aku lebih memilih untuk tidak dekat-dekat dengan pria macam begitu.”
Pria: (menghela nafas, menghembuskan asap rokoknya ke atas. Melirik lawan bicaranya sebentar dan menghembuskan asap rokoknya lagi. Dia sedikit kesal disamakan dengan pria lain.)
Wanita: (terdiam antara lega dan kesal sudah mencurahkan isi hatinya)
Pria dan Wanita: (terdiam lama)
Wanita: “Intinya, kalau kau cuma ingin mengobrol denganku aku tidak keberatan. Kau bisa meneleponku kapan saja. Kau bukan orang jahat atau orang yang menyebalkan, aku pasti menerima teleponmu.
Pria: (tersenyum dan memandang wanita itu lama. Wanita itu benar. Dia memang pasti akan mengangkat teleponnya. Dia tidak tahu harus berkata apa. Egonya mengatakan dia harus membela diri. Tapi rasanya percuma. Wanita ini seperti tahu segalanya dan tidak mudah terpatahkan atau terbawa begitu saja dengan kata-kata ‘kangen’-nya. Dia tidak tahu harus berkata apa lagi. Sepertinya semuanya sudah terucap dan seperti yang dikatakannya tadi, dia tidak akan mengasingkan dirinya. Karena dirinya bukan orang jahat katanya. Bukan orang jahat. Hm. Dia kesal. Entah pada apa dan siapa. Mungkin pada kenyataan bahwa kali ini bukan dirinya yang memegang kendali. Bahkan kenyataan bahwa dia telah mengalahkan egonya sendiri dan mengirim sms keparat itu, tidak membuat wanita itu bergeming. Dia sama sekali tidak membalas sms-nya.)
Pria: “Baiklah. Maafkan aku telah menjadi orang yang tidak seperti dugaanmu. Aku mungkin masih harus banyak belajar. Tapi aku sungguh merindukan kita. Aku kangen obrolan kita tentang apa saja, tentang kehidupan, kerjaan, dan kekonyolan-kekonyolan kita…”
Wanita: “Ya sudah, kan kau bisa meneleponku. Atau kau takut? Aku tidak tahu apa yang kau takutkan tapi aku rasa kau takut.”
Pria: (sedikit terkejut dengan statement baru wanita itu. Ah…wanita ini betul-betul…Menyalakan rokok lagi dan menghirup nikotin keparatnya dalam-dalam.)
Wanita: “Aku harus pergi. Intinya, kau tetap salah satu temanku yang terbaik. Terima kasih kau sudah memberi waktumu untuk kita jadi begitu dekat. Sampai ketemu.” (tersenyum. Menyentuh bahu si pria dengan punggung tangannya, melambaikan tangan dan beranjak).
Sebuah ruangan kosong dari sebuah restoran kecil di pinggir jalan. Beberapa kendaraan bermotor lewat dan mengganggu debu jalan yang sedang beristirahat. Membuat mereka mencak-mencak dan mumbul mengepul. Beberapa orang yang lewat menutup hidung dan mulut mereka dari amukan debu. Udara kering. Seorang wanita berjalan keluar dari ruangan tadi, menyeberang jalan tanpa menoleh lagi. Di pinggir jalan, berdiri seorang pria berkaca mata yang sedang merokok. Memandangi punggung wanita yang tadi bercakap dengannya. Wanita yang dikiriminya sms kangen itu. Waktu yang tidak bisa kembali, melewatinya dengan acuh. Memilih untuk diam, tidak berpihak. Tidak pada pria berkaca mata itu, pun pada wanita yang punggungnya menghilang di balik hingar bingar jalan.
Uncategorized | Comment (0)The Wisdom Of Jitters And Pecks
Ever watched a chicken? Its expressions and body language? You know that it jitters? Jitters jitters pecks pecks pecks jitters, jitters jitters jitters. And the fact that their eyes are stuck on the sides of their heads accentuate their ‘individuality’. I think they look weird. Am I also weird that I suddenly talk about chicken? I don’t know. I’m just thinking about the relevan of the momentum. The momentum of paying attention to something that we take for granted. Like this chicken here, right now, pecking and jittering about by the street, I’m looking at them through the bajaj window. A different angle. A different vehicle. Then I realize, the bajaj, also jitters. Hoping to God that it doesn’t peck. That would be embarrasing.
There, pecks pecks jitters jitters pecks, jitter jitters jitters pecks pecks jitters. As if nothing happen. I don’t know that before. Isn’t it funny how things are magnified when you actually spend the time to look closely? Suddenly, a chicken looks so unattractive especially when it jitters and pecks like that. Suddenly now, the way the eyes are stuck on the sides of their heads looks so stupid. Meanwhile we are immersed in how wonderful chicken is. The meat, the skin, the feathers, the fact that it’s halal to eat. Never once we stop to think to look at them face to face like right now. You can’t face them because they won’t see you. You can only watch it walk by you and suspect that it looks at you with its left eye, while the right seeing other things. Then it occurs to me that maybe we should be more like them chickens. Always able to see this world from both sides, the left and the right.
Make the two sides of the possibilities possible. And then as if nothing ever happens, we should just peck and jitter away…as if nothing happened. Ever.
Uncategorized | Comment (0)