Explain To Me Like I’m A Person From Underdeveloped Country That Never Learns A Thing

January 31st, 2006

Dear my fellow citizen,

I’m at awe to see that you have no apprehension as to what a self worth means. No apprehension as to what self rights means. Therefor you immensely oblivious to the fact that you deserve better. Better sanitary, better facility, better education, better transportation, better appreciation from the person sitting next to you and those you run into at random times of the day in random places.

You learn to read but never learn to understand. You finally read well but you never comply. You act but you never think. Instead you accomodate diseases, harrasment, ignorance, senseless behaviour, indecent living standard, illogical paychecks, senseless driver, imbicile bikers, impossible traffic jams, corrupt government, insensitive neighbors and co-workers, nature’s wraths, and human rights violations and people who spit on the streets and consciously refuse to queu.

Your massive flood is your own doing. Your epidemic is your own creation. And your endless bad karma is your own action. But you never stop and think. Stop and think for once. Once for 10 seconds at least. At least each time before we open our mouth or start the day or end the day. With our heads. HEAD. HEAD. HEAD. Or should I say, SKULL? SKULL. SKULL. Because skull is where the brain is where the nerves are where the commands are where the motor of our conscience is.

Ever wonder that what makes us different from animals is supposedly our ability to learn from animals?

COMING SOON. NOT SO LONG AGO.

January 25th, 2006

m lying on my tummy on my bed, two pillows are prepped under my chin and am typing. just came back from the movie. bond. james bond. i was going for the opening title only. always a pleasure to watch. the movie…, what movie? i kept thinking of the parodi of the movie, it would have been so funny. we all talked about it after the movie and had a good laugh making fun of bond before we went home. yeah, well…ha ha.

i miss you. def leppard says i miss you in the heartbeat. coldplay says, i miss you so. and that black lady in the 80’s said, i miss you like crazy. not long after, janet jackson said i miss you much, i really miss you much. i can simply say, i miss you long time.

missing you is something that i get used to. i missed you in august last year, i missed you in february, i missed you in august (this year), i missed you in september, i missed you in october, november, december…before you know it, hey! it’s the whole year already that i missed you. there will be another january, february, march, april may. but they’re just names. the days are just days, and the hours are just numbers. 7:15 monday morning or night on april the 4th, 3:45 sunday afternoon or dawn on september the 20th. 7:15/040403 or 3:45/200203. to me, they’re just numbers. so when i miss you, though long time, it doesn’t seem that hard. you’re not too far away. you’re only a few digits kilometers and hours away, counting down. until we meet again.

Ujung Dari 4 Tahun Itu

January 19th, 2006

Dia mengajarkan pria itu ber-wudhu. Tangan, mulut, hidung, muka, lengan hingga siku, kepala, telinga dan tungkai hingga ke jari-jari. Dia juga mengajarkan pria itu beniat untuk sahur dan puasa. Pria itu berpuasa. Bersahur. Meng-sms apa saja yang dia makan saat sahur. “Apa menurutmu ayam pop cukup bergizi untuk sahur? Ditambah dengan telur rebus setengah mateng? Cukup ya?” Lalu pria itu akan minum susu. Pria itu berpuasa selama 3 minggu. Seminggu terakhir bulan puasa, pria itu sakit. “Aku rasa aku salah makan. Karena sudah 3 hari ini diare tak habis-habis. Badanku lemas betul. Kalau kau di sini kau pasti sudah merawatku habis-habisan kan?” Sms-nya berkata.

Di hari ke-5 pria itu sembuh. Badannya lebih segar. Dia mengajarkannya menelan Norit banyak-banyak. Minum air putih hangat terus menerus dan makan telur rebus. Menghindari semua makanan yang berserat untuk sementara waktu dan hanya makan bubur yang diberi bumbu gurih. Kadang dia meminta pria itu untuk minum teh panas pahit. Dan diseling teh panas manis bila badannya dirasa lebih segar. Di hari ke-5 pria itu sembuh, ia pergi ke mal dan membeli baju koko serta peci berwarna senada. “Untuk lebaran. Keluarganya sangat bangga aku bisa puasa sampai 3 minggu. Ironisnya, ini semua berkat kamu. Aku puasa untuk kamu. Hanya supaya bisa menemanimu sahur karena sekarang, saat sahur adalah satu-satunya saat di mana aku bisa menghubungimu.”

Dia membalas sms panjang tadi dan mengatakan bahwa tanpa disadari, pria itu sebetulnya sedang berpuasa untuk dirinya sendiri. Dan bahwa dia adalah motivasi semata. Karena dia tak pernah memintanya untuk bangun saat sahur dan menjalankan ibadah itu sepenuh hatinya. Pria itu membalas lagi bahwa apapun itu, dia sudah mendorong dirinya melakukan hal-hal yang ia pikir takkan bisa dilakukan. Dan sekarang, setiap berwudhu, berniat sahur atau puasa ia pasti akan teringat wanita itu.

“Karena istriku bukan orang yang religius. Aku bahkan tidak pernah melihatnya berdoa. Atau melakukan apapun yang relijius.” Dan dia menjawab, “Bukan urusanku. Itu urusan istrimu dengan Tuhan.” Pria itu membalas, “Aku hanya memberitahu.” Dia menjawab lagi, “Aku tidak mau tahu.”

Pagi itu dia sedang berwudhu. Dan teringat akan pria itu. Pria itu sudah dia lenyapkan dari kehidupan nyatanya sejak hampir 4 tahun yang lalu. Tapi semua kenangan tentangnya seperti sudah menjelma menjadi manusia baru yang bisa dia ajak bicara atau dia usir keluar kamar. Dia ingin semua tentangnya mati. Tapi dia tahu, bila semua tentangnya mati berarti dia harus pula mati. Menghancurkan dirinya berdebu-debu untuk lahir lagi sebagai manusia baru. Yang bersih dari kenangan tentang pria itu. Dia pernah mengatakan kepada temannya bahwa dia sudah pernah mengatakan kepada pria itu bahwa dia akan menunggu sampai 4 tahun lagi. Pria itu yang bertanya.
“Menurutmu kalau kamu harus menungguku, sampai kapan kamu akan menunggu…”
“4 tah…”
“Jangan dijawab…ah…telat. 4 tahun?”
“Ya. 4 tahun.”
“Kenapa? Well, I guess I don’t have to know. I don’t wanna wait that long though.”

Pada akhirnya memang pria itu tidak menunggu. Dia membuat hidupnya lebih mudah dengan mengatakan pada pria itu untuk menghilang dan tidak menggubrisnya lagi. Dia memutuskan untuk menunggu sendiri. Melihat sampai sekuat apa dia bisa memegang janji terhadap dirinya sendiri. Ini sudah tahun ke-3. Tinggal 1 tahun lagi, tepatnya Desember 18 nanti, adalah tepat 4 tahun dia telah menunggu pria itu. Menunggu apakah dirinya betul-betul bisa melupakan pria itu. Karena dia rasa, janji pada dirinya sendirilah yang membuatnya bertahan.

Dia menyelesaikan wudhunya. Kembali ke kamarnya dan berniat shalat subuh. Di antara doa pertama dan tarikan nafasnya, masih tersempil sedikit ingatan ketika dia mengajari pria itu shalat.

The Thin Air Continent

January 19th, 2006

Hey you. I remember you. I used to talk to you for hours. We talked. We laughed. We shared mutual interests. We went out to dinners. To clubs. To cafes. To our little hiding place we called Comfortable Zone. Where I, apparently the only one inhibit it. Because you suddenly disappeared. Actually, you always disappear. Vaporized into another zone. A zone so big and far that it’s worth being called a Continent. A continent far far away, seemingly not on this planet. Where all the missing socks, the misplaced slippers, the disappearing office pens and pencils, and the lost Teddies belong. Where all the men who vaporized into thin air greet each other civicly on the street and feel right at home, right at home at the Thin Air Continent.

You disappeared. Posted no warning. Gave no sign. Left no letters. And said no 7 letters word, g-o-o-d-b-y-e. Just like that. Pfff! To thin air.

But you are not the only one, you know. There are others. Almost too many that I begin to think that I’m actually the Thin Air Continent’s secret messenger, in which my secret job is to abduct men and vaporize them into thin air. My ship is invisible and my motive is disguised. Maybe, just maybe, I’m actually sparing them for future dwellings. When this world has run out of its good men and good pair of socks and good pair of slippers and good cuddly Teddies.

Hmmm…very unlikely.

So here’s to you all. To the vaporized men, the missing socks, the misplaced slippers, the disappearing office pens and pencils, and the lost Teddies. Allow me to apologize if I ever caused you any discomfort, misunderstandings, mixed feelings and phobias and turning yous into cowards. Because, I have actually enjoyed your company. Has it ever occurred to you at all? Maybe not. That’s why, I’m here to say to you the 7 letters word: Goodbye. And 8 words to wink at when the slight remembrance of me comes up: Enjoy Your Time In The Thin Air Continent.

Bukan Peramal Cuaca

January 12th, 2006

Sudah, sudah jangan tanya saya lagi tentang cuaca, tentang matahari. Karena saya sudah beralih profesi. Yang tidak ada hubungannya dengan cuaca, apalagi matahari. Saya tidak lagi meramalkannya, menduga-duga apa maunya dan ke mana perginya hari ini. Bersinar kah? Mendung kah? Hujan kah? Gerimis kah? Tsunami kah? Panas terik kah? Bisakah saya menjemur semua cucian saya hari ini? Karena sekali lagi, saya sudah beralih profesi dari pembaca berita cuaca dan peramal cuaca menjadi peramal dan presenter acara fashion plus lifestyle. Saya merasa lebih nyaman memrediksi gaya, aksesoris, serta warna apa yang bakal ‘in’ hari ini, minggu ini, bulan ini sampai akhir tahun. Rasanya lebih menyenangkan. Orang-orang bisa jadi terlihat lebih terawat secara visual dan kejiwaan karena di sesi lifestyle, saya sering membahas inner beauty dan etika bergaul sana-sini. Tentunya tidak lupa tips-tips yahud seputar itu juga. Karena saya lebih percaya pada kalimat yang saya ciptakan sendiri: ‘Good ethic equals good lifestyle and affects good manners” dari pada tampilan cerah matahari yang ternyata berujung mendung gundah dan hujan curah.

Tapi, beberapa hari ini saya pergi ke party dan bertemu dengan beberapa orang yang mengenal saya ketika saya masih berkutat dengan mood matahari dan pengaruh-pengaruhnya terhadap cuaca. Dan mereka seperti bercanda bertanya (apa ini hanya perasaan saya saja ya?),”Apa kabar matahari hari ini?” dalam hati saya berkata, “Bodoh, apa tidak tahu ini sudah malam dan ini sudah zamannya bulan, bukan matahari lagi.” Saya hanya mengangkat bahu dan mengerling tanpa tujuan. “Tanya saja ke peramal cuaca yang baru, darling. Dia pasti lebih tahu. Saya sudah resign,” kata saya. Beberapa ada yang heran, beberapa lagi ada yang seperti pura-pura terkejut, dan sebagian lainnya menganggap bahwa saya masih tetap tahu walaupun mungkin sudah tidak terlalu up to date. Saya bersikeras menggeleng. “Bukan tanggung jawab saya lagi. I’m not entitled to say anything about it anymore, honeys. Sorry,” kata saya sambil senyum ‘harap maklum’ dan meninggalkan mereka.

Insting saya mengatakan bahwa mereka sebetulnya sudah tahu saya resign dari departemen cuaca, tapi hanya ingin mendengar versi saya, dari mulut saya sendiri. Mana mungkin mereka tidak tahu. Tidak banyak peramal cuaca yang mereka kenal seperti teman mereka sendiri. Dan saya adalah salah satunya, walaupun memang bukan satu-satunya dan bukan pula yang pertama. Tapi kan perbedaannya akan sangat menyolok. Masak sih mereka tidak juga paham bahwa jika ada seseorang lain di departemen cuaca yang membacakan ramalan-ramalan itu lebih dari satu minggu, tidak membuat mereka berpikir bahwa saya sudah resign. Apalagi kalau si pembaca ramalan itu orang yang sudah lebih dulu terkenal. Tidak mungkin.

Jadi ketika mereka bertanya,”Apa kabar matahari hari ini?” kepada saya setelah berbulan-bulan ramalan-ramalan itu dibacakan orang lain selain saya, saya jadi sensi dan menganggap mereka mengada-ada. Menyebalkan. Dan tidak penting. Karena itu, mungkin perlu juga sekali lagi saya mengatakan bahwa saya sudah resign dan pindah ke departemen fashion plus lifestyle.

Atau mungkin saya harus berkunjung ke acara ramalan cuaca dan mengatakan semuanya dengan artikulasi yang sebaik-baiknya bahwa, “Pemirsa, layaknya cuaca, tidak ada sesuatu yang abadi, termasuk saya di program ini. Dan demi berlangsungnya kehidupan di departemen lain, saya memutuskan untuk pindah ke sana. Setidaknya, fashion dan gaya hidup adalah sesuatu yang bisa dibuat pasti tanpa harus menunggu perubahan cuaca. Terima kasih, selamat siang, selamat malam, selamat pagi dan selamat menikmati udara cerah, basah dan kadang gerah. Kini kabar matahari terbaru untuk Anda hari ini dan esok akan dibawakan oleh seseorang dari belahan jiwanya yang lain. Pembawa acara Anda, mohon diri. Nantikan kejutan-kejutan segar dari dunia fashion dan mentally fit lifestyle untuk segala cuaca, bersama saya.”

Wink.

Karena Because Cinta Itu Is Love

January 4th, 2006

Cinta itu apa sih? Maksudnya, selain dia itu pacarnya Rangga (pembaca muntah-muntah dan langsung bilang…’heeeeuuu…gariiiingg…’), tapi dia itu juga menyebalkan, ngangenin, anugerah, menyenangkan, bikin ngaceng, bikin rela, bikin nikmat, bikin sejuk, bikin males, bikin semangat, bikin kita jadi nasionalis, bikin kita jadi beda dan jadi orang yang baru, bikin kita jadi takut sekaligus bikin kita jauh dari rasa takut, bikin kita tenang dan berangasan, bikin kita jadi cemen dan kuat. Dan bikin kita sering salah paham. Salah ngartiin. Salah sangka. Salah menilai. Salah-salah malah jadi kebablasan dan akhirnya semua jadi salah cinta.

Huh. Dasar, kamu cinta, kambing hitam yang paling indah! Anyway, cinta juga sesuatu yang nggak seperti yang kita kira. Kita harus pinter-pinter juga ngebacanya. Menilainya. Menikmatinya. Memahaminya. Memberinya. Menerimanya. Menyelaminya. Merelakannya. Karena kalau nggak pinter-pinter nanti akhirnya kita jadi terpaksa melupakannya.

Seperti setiap orang pernah berusaha melupakannya. Atau dipaksa melupakannya. Atau malah dilupakannya. Karena keadaan, situasi, agama, perbedaan, undisclosed issues, orang tua, faktor kebosanan, keserakahan, hubungan jarak jauh, perselingkuhan, kematian, kesusahan, kepercayaan, dan baju yang nggak matching (percaya deh sama gue, ini ada hubungannya), selain juga table manner yang jelek. Beneran loh.

Jadi cinta emang bukan buat main-main kayaknya. Soalnya sayang kalau kita kehilangan. Sayang kalau kita ketinggalan. Sayang kalau kita tetep nggak bisa menikmatinya walaupun kita sudah mati-matian bilang sama diri kita kalau kita bisa mencintai orang ini. Bisa sih bisa, tapi kita rela apa nggak ya? Lagian, itu investasi waktu, investasi uang, investasi perasaan, investasi jati diri mau dikemanain? Kalau gagal emang nggak boleh putus asa, tapi kalau gagal terus dengan dan karena pola yang sama berarti pasti ada yang salah sama diri kita. Mungkin kita kalau pipis berantakan, atau kalau makan berbunyi cecap-cecap, manner kita kurang, orang tua kita koruptor, keluarga kita kolot, dan sedunia penyebab lain yang bikin semua usaha kita untuk mempertahankan dan menyelamatkan cinta kayaknya jadi nggak worth it. Karena alangkah indahnya dan enaknya kalau cinta itu seperti apa yang dinyanyikan oleh empat orang pria kriwil dari era 90-an di bawah bendera band ‘Firehouse’. Bahwa dengan orang yang kita cintai ‘…I never wonder - will you be there for me, with you I never wonder - you’re the right one for me’. Karena itulah ‘love of a lifetime’. Kita nggak perlu lagi bertanya-tanya. Kita udah nggak perlu merasa takut lagi. Karena kalau masih nanya-nanya berarti kita kayak pembantu baru atau tamu jauh atau orang-orang yang punya kecenderungan tersesat di jalan. Dan kalau masih ada rasa takut berarti kita kayak punya fobia, masih kurang yakin, masih sangat-sangat egois.

Jadi kalau kita mau jujur, sebetulnya justru kita harus nanya ke diri kita sendiri, “I wonder…will I be there for you? Am I the right one for you, you think?

To The Man Who Gave The Sunrise…

January 3rd, 2006

Just a moment ago, there was a man who gave me the sunrise. The man is now in the distance, somewhere towards the sunset. She can see his back in median filter set to 9.5 in Photoshop. With the sun setting before him, alluring the eyes with hues of oranges, very radiant, very much alive. Ready to swallow him in one descending beauty. But he walks on. And his back, now only a black curvaceous shape, getting smaller and smaller and smaller still.

She opens her mouth to call out to him. She thought she forgot to thank him. For…what the heck, she draws the deepest breath her lung can contain, hold it there for a while, her body contorts into a fetal shape, knees bend, her arms are stretched by her side, all her cells and nerves and blood vessels into one harmony to scream out a name. Now… "SUNCEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEE
EEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEE
EEEEEEEEEEEEEEEEE…!!!"

She felt the air was filled with her voice, she continued on until her lung cannot pump anymore air to her throat, while thinking, ‘interesting, even his name means the sun’. Her mouth opens agape. Now she hears her own breath, unsteady and in a hurry and then she hears more of her last ‘eeeeee…’, repeatedly, as if mocking her mischieviously, or so she thought. The gradually shrinking black curvaceous shape walks on. She opens her mouth again to scream out one more time but utters only a broken sentence.

"I…hhh…fuh-gott…tuh…hhh…thank…you….hhh…fuh…the…ss..uhh…the sunhhhrise…hh…" The sunrise…"

Stands still, she gathers herself and speaks to what is now a black medium dot of the man who gave her the sunrise, dissolving into the ripe setting sun. 

"I haven’t thanked you properly for the nice time we had. The sharing, the trust, the laughter and the vulnerable moments. And the opportunity to be a part of one’s life, though only for a fragment, to be your witness of who you are, of the people you love and care so much about. To hear of your dreams, your plans and ideas. You have been wonderful in your own time you spent with me. And thank you most of all, of the sunrise. You have given my life a slight moment of hope."   

She thinks that life is pretty much like the sun. Rises and sets only once every time, every single day. She inhales the dusk deep into her lung to give herself a little strength to turn around the opposite direction and walk back to her sunrise at the other part of the earth. She turns around, readies herself for her next journey. Looks over her shoulder and says, "Thank you. And goodbye."

The black curvaceous shape of the man who gave her the sunrise is no more, dissolves into the horizon, together with the sunset.