ISOBEL

November 30th, 2005

Woman: “I can’t stand the way she looks at you. With that much love, can’t you have as much faith at all? Please go. Go with her. Be with her. It’s the only way. We live once. Being a coward should never be how you live this life.”
Man: “…”
Woman: “I can’t stand between love so intense. I was once in love too but something was on the way so we couldn’t be. So I can’t stand watching love slips away because the people who feel it are scared. If you love her and I know you do, please go now. Go. Before I fall for you too hard. Because I think I’m starting to fall in like with you.”
Man: “I uhh…”

Woman: (stands stiff in front of the man who looks at her painfully. She feels her soul leaves her body. soft and light as a feather it floats. floats away in the midst air. transparent. residual. holographic. it happens again. it happens every time. every two years it seems. she waits for the man to leave. the man stays. so she moves her feet to take her now numb body out of there. this happens before. this happens before…)
Woman: smiles and turns around to leave man.

KAMU SEMUA BAU…

November 29th, 2005

Whoa! bau tak hedap (’sedap’ yang diucapkan sambil menutup hidung) melintas hidung saya. Jam 2 pagi, hari biasa, koq masih ada aja bau kayak gini. Astaga!!! TIba-tiba saya panik. Di halaman kosan saya nggak ada orang lain lagi selain saya dan anak lelaki Ibu Kos yang membukakan saya pintu.

Kembali ke saya yang panik, saya langsung dengan body language sehalus mungkin berusaha membaui badan saya. Rasanya lebih baik telanjang dan ditertawai orang daripada harus pakai baju bau lembab karena tidak kering dan lalu tercampur keringat yang berpeluh dan teresap bermenit-menit. Duh. Saya sudah berjalan menjauh dari anak Ibu Kos tapi bau menyengat itu tetap tercium. Sangg…lalu senggg…lalu sssaaahh….lalu sengg lagi. (Seng dengan lafal ‘e’ seperti kita melafalkan ’se’ pada ’sebal’)

Saya menaiki tangga dalam yang gelap. Begitu juga si bau misterius. Ah. Anak Ibu Kos berjalan agak jauh, karena dia harus mengunci dan menggembok sejumlah pintu sebelum menuju tangga dalam. Hm. Bau ini, seperti mata-mata di film misteri saja. Membuntuti orang lewat udara. Tidak. Ini seperti film kartun Mickey Mouse di mana ada segumpal hawa berwarna hijua yang membuntuti Mickey dari belakang. Hijau, karena berarti bau tidak sedap. Terus membuntuti saya sampai di ujung tangga. Menghilang ketika saya berbelok menuju ke lemari kunci-kunci. Saya pun menghirup udara segar sejenak.

Untuk hanya sekitar 2 detik. Karena bau itu ada lagi. ‘Sudah dikunci ya, pintu belakangnya?’ tanya anak Ibu Kos. Saya menoleh dengan sedikit terkejut dan sedikit kesal karena acara menghirup udara segar saya terganggu. ‘Errr…iya. Sudah. Saya lewat mana ya?’ tanya saya seperti baru pertama kali ada di situ. Saya sudah hampir setahun di sini tapi memang masih belum nyambung sama sistem keluar masuk tempat ini yang keketatannya hampir menyerupai kedutaan Amerika. Semua pintu ada kunci dan tembusannya ke sana dan ke sini sebelum mencapai kamar-kamar kos.

Dia berjalan lebih mendekat, menyalakan lampu yang seperti meninju mata saya karena terang mendadak, mengambil kunci pintu dapur, lalu membukanya. ‘Terima kasih, Mas. Selamat malam.” Saya pun segera menghilang di kegelapan dapur, dan langsung menaiki tangga samping yang menuju ke barisan kamar-kamar kos.

Sesaat tadi di dalam terang saya melihatnya. Melihat wujud hawa berwarna hijau itu dalam bentuk aslinya yang hidup: Anak Ibu Kos.

***

Tidak terasa, ternyata sudah hampir setahun saya di ‘penampungan biarawati metropolis’ bertingkat dua ini. Saya memang sengaja menyebutnya begitu karena penghuni kos-kosan ini memang perempuan semua. Perempuan-perempuan yang nggak bakalan berkantung mata karena beauty sleepnya lebih dari cukup. Perempuan kantoran yang jam kerjanya sudah tertulis di atas kertas dan bahkan dijadikan film seri (’Nine to Five’ dibintangi Dolly Parton).

Saya sudah belasan tahun beraktifitas hampir 24 jam setiap harinya. Nggak mungkin saya berubah total demi 29 orang asing yang saya nggak kenal sebelumnya. Maka mulailah terdengar dering telepon hampir setiap pukul 10 malam dari saya untuk Ibu Kos, yang memberitahukan saya akan pulang errr…kira-kira 3 jam lagi.

Tidak mungkin juga saya meminta sekampung crew, sutradara dan bos saya atau para EO di club-club dan Prodigy untuk selalu merampungkan shooting dan kegiatan duniawi lainnya sebelum jam 10 malam atau semuanya berubah menjadi tikus dan labu. Semua itu sama tidak mungkinnya dengan seperti saya bilang ke Ibu Kos untuk memberi saya kopian kunci rumahnya. Karena kos-kosan saya ini mempunyai sistem titip kunci. Di mana setiap anak kos wajib menitipkan kunci kamarnya di sebuah lemari kunci-kunci.

Seperti yang sudah saya bilang di atas tadi, rumah kos ini mempunyai sistem keamanan yang menyerupai kedutaan Amerika. Pagar, pagar, pintu, pagar kecil, pintu dan pagar adalah rentetan pintu keamanan yang harus dilalui sebelum mencapai kamar kos. Kebayang ribetnya menduplikasi kunci yang berarti Ibu Kos harus membuat dobelan kunci sebanyak 450 biji untuk kita semua. Wuih.

Suatu kali bukan Ibu Kos yang mengangkat telepon jam 10 saya. Tapi anaknya yang lelaki. Dia punya 3 anak lelaki yang aneh. Tidak ada yang bekerja dan lebih sering terlihat di rumah mondar sana mandir sini. Salah satu dari ketiganya malah sering terlihat seperti linglung dan hanya duduk terdiam menatap space di depannya. Kadang menunduk seperti tertidur. Mereka juga termasuk para lelaki yang beauty sleepnya cukup. Oyah, kembali ke si pengangkat telepon, dia bilang, ‘Besok-besok telepon ke HP saya aja. Kasian Ibu, kalau lewat jam 10 biasanya dia udah tidur.’

Lama-kelamaan saya lelah juga kalau setiap hari harus menelepon jam 10 malam. Saya lalu jadi cenderung menyiksanya dengan telepon jam 1 pagi. Saya rasa belakangan dia menyesal memberi nomor teleponnya ke saya. Lalu sebagai pembalasan, mungkin dia menciptakan formula hawa hijau yang bau. Yang selalu dia semprotkan di sekujur tubuhnya sesaat sebelum dia turun membukakan pintu untuk saya.

Sseeenggg… (masih ingat lafal ‘e’-nya kan?). Anak Ibu Kos memiringkan badannya memberi saya jalan. Ssseeenggg…anak Ibu Kos menjulurkan tangannya ke gantungan kunci dapur dan membukakan pintunya untuk saya. Ssseeenggg… Anak Ibu Kos meninggalkan jejak hawa hijau tadi di sepanjang jalan yang dia lewati dari kamarnya sampai ke pintu pagar. Saya tidak berani membayangkan kamarnya.

***

Saya di depan pagar. Puku 11 malam. Saya memencet bel. Anak Ibu Kos yang lain muncul di ujung tangga. Menyapa saya dengan ramah dan tersenyum. Mukanya sebetulnya cukup menarik. Putih, sederet gigi yang rapih, rambut lurus gaya Andy Lau dan badannya cukup proporsional. Setidaknya kalau sampai dia terlihat bertelanjang dada, bentuknya masih liatabel. Matanya bundar dan bola matanya yang seperti mata kelinci terlihat lucu kalau mengerjap. Dia lebih putih daripada yang biasanya membukakan saya pintu. Si Lucu ini lalu membukakan saya pintu dan memberi saya jalan. ‘Gue kira siapa. Masuk.’

Ssseeenggg….

PINK

November 28th, 2005

I’m sitting on this black faux vynil couch that creaks when you move when you sit on it, in this pink living room. I’m at the moment at this guy’s house. I look around and suddenly freak out and hope that things don’t go well between us. He’s this cute guy, sexy, and gentle and smart and smells wonderful and a great kisser but he lives in this pink interior house.

Euch.

The living room is painted cotton candy pink. Big black faux vynil couch and a 2 seaters are positioned around a kitsch coffee table. On it are painted glass vases with glass tulips in orange, red, purple and yellow. The vase is filled with glass marbles. There are 2 tall fake antique Chinese giant vases on both corner of the living room behind the couch. There are no paintings, except for a Calligraphic verse excerpt from the Qoran in gold thread framed by a very thick goldish frame.

The curtain is pink drapes from floor to ceiling with pink lace rims. Seriously, I feel like I’m inside a dollhouse they sell by the street. The whole ornaments and furniture in this house are seriously wrong and none of them belong to each other and I can feel this living room is screaming for a major make over. I dread going to the bathroom. Which turns out to be meticulously clean but predictably pink. Barbie would love to spend the night here, I’m sure.

Okay, about the guy. His name is Ben (not his real name of course, but let’s just say that we call him Ben), Met him at work. We flirted and flirted and flirted before we finally got together. We’re not officially dating but sort of seeing each other, not in the complicated and serious manner, but we’re there for each other when we need to. He’s 3 years younger than I and when we kiss it went on for hours. He’s unbelieavable. And this is the first time I dropped by his house. He was sick and was just there to see if he’s okay. Plus, was hoping for a kiss or two before I go to the office.

But being here now, it strikes me that I cannot imagine sharing a future space with a guy who lives in a pink house. Suddenly I don’t want to be with him. Suddenly I can see clearly that things are just not going to work out fine between us. Suddenly I want to run away and save myself from all this pinkness of this house. I feel sticky already.

He invited me into the dining, which isn’t painted in pink. It’s turqoise and there’s a peek of a canary yellow room at the back. But still. All the same, adorned with faux this and faux that and more awkward looking calligraphy in out of proportion thick frames and more glass ornaments everywhere. I hate to be having a row with the lady of the house, inside the house. Imagine them glass ornaments flying across the room. And I was suffocated. Because suddenly the saying that when you marry a man, you marry his family frightens the shit out of me. Not this pink house too, thought I.

I can’t continue this relationship. I’m going to miss his lips terribly but his house is just too much. I’m back at the living room and about to run away when Ben comes out of the turqoise dining room with his Mom. ‘Mom, this is Nat. Nat, this is my Mom.”

She’s a woman in her late 40, no taller than I am, smiled and extended her hand to me. She was dressed in pink.

Sudah Pernah Cucu Kepada Neneknya.

November 22nd, 2005

Lama-Lama aku bisa gila. 3am. Tukang ketoprak yang seperti tuli dan membuatkan pesanan yang salah berulang-ulang. Masalah yang selalu kembar di hampir semua kantor yang aku tongkrongi. Lelaki-lelaki muda dan mimpi-mimpi serta kisah-kisah dan bibir-bibir mereka yang seperti coklat Mon Cherrie. Mengundang dan memanggil namaku dengan lengkap.Stupid questions yang ditanyakan berulang-ulang. Questions. Bukan retorik. Hidup seperti menggema begitu saja. Di sebuah gelas kosong dan botol-botol Teh Botol yang masih menyisakan lengket. Hidup seperti perulangan sebuah kalimat yang dikatakan seorang cucu kepada neneknya yang tuli. Cucu yang mengulang setiap kalimat dengan suara yang semakin lama semakin keras kepada kakeknya yang tuli. Seperti hidupku. Orang yang tuli. Aku yang tuli dan mengulang-ulang. Maaf, tidak terdengar. Mungkin ada ladang kapuk di telingaku. Atau ada premiere sebuah film Indonesia yang hiruk pikuk. Astaga. Lihat. Penuh selebritis. Dan jiwa-jiwa pengejar mimpi atau sekadar tempat duduk di sebelah seorang artis. So? Penting ya? Penting lah. Mereka kan hanya pengen exist. Exist itu, ‘exit’ yang pakai ’s’. Keluarnya berbunyi. Kenapa mereka semua? Kenapa mereka semua berteriak? Seolah standar suara percakapan setiap orang yang normal adalah standar percakapan cucu kepada neneknya yang tuli.

Keras dan berulang-ulang. Seperti hidup di Jakarta. Seperti terjangan mimpi para makhluk yang memfilmkan hidup itu sendiri. Hidup yang semakin sombong. Film yang semakin sombong. Cerita yang semakin tuli. Seperti teriakan kesal seorang cucu kepada kakeknya yang tuli. Dan pikun pula. Begitu berulang-ulang. Lagi. Lagi sekali dan lebih keras. Lebih keras lagi. Seperti sudah pernah. Seperti sudah pernah dikatakan si cucu kepada neneknya berulang kali. ‘Sudah pernah, Nek! SUDAH PERNAH!! SUUUUDAAAAH PEEEERRRNAAAAAHHH…!!!’ 

Aku cucu yang berteriak lemah dari dalam botol dan gendang telinga nenek dan kakekku yang tuli. ’sudah pernah…’